Iran Tutup Jalur Ekspor Minyak, Kapal Harus Berputar dan Harga Melonjak

Bisakah Trump Menghentikan Ekspor Minyak Iran Ke Cina 1746522422220 169 1
Bisakah Trump Menghentikan Ekspor Minyak Iran Ke Cina 1746522422220 169 1

Lonjakan Harga Minyak dan Dampaknya terhadap Pasar Global

Kenaikan harga minyak mentah hingga 13 persen menjadi perhatian utama pasar keuangan global. Hal ini dipicu oleh gangguan pelayaran setelah respons militer Iran di kawasan Timur Tengah. Kenaikan harga ini memicu kekhawatiran akan stabilitas pasokan energi dunia, serta dampaknya terhadap inflasi dan kebijakan moneter.

Pasar Eropa Melemah Akibat Kenaikan Harga Minyak

Bursa saham Eropa langsung melemah segera setelah lonjakan harga minyak. Indeks FTSE 100 di Inggris turun sebesar 0,57 persen pada pembukaan perdagangan, meskipun sebelumnya mencatat rekor tertinggi pada Jumat. Mayoritas indeks utama di Eropa bergerak di zona merah, dengan beberapa indeks terkoreksi lebih dari 2 persen.

Saham-saham maskapai penerbangan dan perhotelan diperkirakan paling tertekan akibat penutupan wilayah udara di kawasan Timur Tengah dan potensi pembatalan perjalanan. Di sisi lain, saham energi dan logam mulia berpeluang menguat karena investor mencari aset aman. Harga emas sempat naik hampir 2 persen sebelum stabil kembali.

Harga Gas Melonjak, Memicu Kekhawatiran Inflasi

Tidak hanya minyak, harga gas di Eropa juga melonjak tajam sebesar 22 persen menjadi 96,2 pence per therm. Meski level ini masih dalam kisaran tertinggi beberapa pekan terakhir, lonjakan tajam tersebut memicu kekhawatiran akan gelombang baru kenaikan biaya hidup.

Harga energi yang tinggi berdampak luas, mulai dari biaya pemanas rumah tangga hingga ongkos produksi industri. Situasi ini mengingatkan kembali pada krisis energi pascainvasi Rusia ke Ukraina yang hingga kini dampaknya belum sepenuhnya pulih.

Perubahan Rencana Penurunan Suku Bunga Bank of England

Lonjakan harga energi datang di saat banyak pihak memperkirakan inflasi Inggris akan turun tajam pada April. Namun, jika harga minyak dan gas bertahan tinggi, proyeksi tersebut bisa berubah. Sebelumnya, pelaku pasar memperkirakan peluang 75 persen bahwa Bank of England akan memangkas suku bunga menjadi 3,5 persen dalam pertemuan berikutnya, dengan kemungkinan turun lagi ke 3,25 persen pada September.

Kini, ekspektasi itu mulai goyah. Jika inflasi kembali menguat, pemangkasan suku bunga bisa tertunda, yang berarti bunga kredit dan cicilan rumah berpotensi tetap tinggi lebih lama.

Risiko Inflasi Berbasis Energi

Riset International Monetary Fund menunjukkan kenaikan 10 persen harga minyak global rata-rata dapat menambah 0,4 poin persentase terhadap inflasi domestik. Artinya, gejolak energi saat ini bukan sekadar fluktuasi harga biasa, tetapi berpotensi berdampak luas ke ekonomi rumah tangga.

Meski beberapa negara produsen minyak berkomitmen meningkatkan produksi untuk menstabilkan pasar, investor tetap waspada. Jika gangguan pasokan berlanjut, dunia bisa kembali menghadapi tekanan inflasi berbasis energi, tepat saat banyak negara berharap memasuki fase pemulihan ekonomi.

Gangguan Jalur Pelayaran Strategis

Gangguan jalur pelayaran strategis setelah respons Iran terhadap serangan udara Amerika Serikat dan Israel memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Pada perdagangan awal di Asia, harga minyak mentah acuan internasional Brent Crude melonjak hingga 13 persen ke level 82 dolar AS per barel, tertinggi sejak Juli 2024.

Meski kemudian terkoreksi, harga tetap bertahan di kisaran 77,56 dolar AS atau sekitar 5 dolar lebih tinggi dibanding penutupan akhir pekan lalu. Kenaikan ini dipicu gangguan di kawasan Teluk, termasuk ancaman terhadap Strait of Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia setiap hari.

Pengalihan Rute Kapal dan Biaya Logistik yang Meningkat

Sejumlah kapal tanker dilaporkan terdampak serangan, sementara banyak kapal memilih menunda pelayaran atau memutar arah. Pengalihan rute kapal yang biasanya melintasi Terusan Suez kini harus memutar lewat Afrika. Konsekuensinya, waktu pengiriman bisa molor hingga dua minggu dan biaya logistik berpotensi melonjak.

Perubahan rute ini tidak hanya memengaruhi waktu pengiriman, tetapi juga berdampak pada biaya operasional dan rantai pasok global. Dampak ini bisa dirasakan oleh berbagai sektor, termasuk industri manufaktur dan ritel.

Pos terkait