Iran Tutup Selat Hormuz, Cadangan Minyak RI Cukup untuk 20 Hari

107408639 308f66bd A14d 430f Ab7f D80e7336ca20 1
107408639 308f66bd A14d 430f Ab7f D80e7336ca20 1

Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah Memicu Kekhawatiran Global

Ketegangan geopolitik kembali memuncak di kawasan Timur Tengah setelah serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu respons cepat dari Teheran. Iran dilaporkan melakukan serangan balasan yang menargetkan kepentingan AS dan Israel di sejumlah negara di kawasan, termasuk Israel, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Yordania, Arab Saudi, Irak, dan Oman.

Di tengah meningkatnya konflik antara AS-Israel dan Iran, otoritas Tehran mengirimkan sinyal keras dengan mengancam menggunakan senjata ekonomi strategis berupa penutupan jalur pelayaran energi paling penting di dunia, yakni Selat Hormuz. Informasi ini turut dibenarkan oleh pejabat Uni Eropa yang menyampaikan kepada Al Jazeera bahwa kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menerima transmisi radio frekuensi sangat tinggi (VHF) dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Dalam pesan tersebut disebutkan bahwa “tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz”.

Tidak lama setelah peringatan tersebut, setidaknya tiga kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan di sekitar kawasan selat. Dua kapal disebut terkena serangan secara langsung, sedangkan satu kapal lainnya hampir terdampak ledakan proyektil yang tidak dikenal. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris Raya atau United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) juga mengonfirmasi adanya “aktivitas militer signifikan” di wilayah tersebut, termasuk insiden yang terjadi sekitar dua mil laut di utara Kumzar, Oman.

Akibat situasi itu, aktivitas pelayaran internasional nyaris lumpuh. Data dari platform pelacakan kapal Kpler mencatat sekitar 150 kapal tanker memilih berlabuh di luar perairan Selat Hormuz. Namun demikian, sejumlah kapal berbendera Iran dan China masih dilaporkan tetap melintas.

Minyak Mentah Naik Akibat Gangguan Jalur Distribusi

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran pasca-serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayahnya menyebabkan terganggunya jalur distribusi minyak dunia. Dampaknya segera terasa di pasar global dengan meningkatnya harga minyak mentah. Pemerintah Indonesia pun segera mengambil langkah antisipasi terhadap kemungkinan efek lanjutan pada pasokan serta cadangan energi nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pihaknya akan segera mengadakan rapat bersama Dewan Energi Nasional (DEN) guna membahas kondisi terbaru pasokan minyak dan ketahanan cadangan nasional. Ia menegaskan bahwa pemerintah perlu melakukan kajian menyeluruh sebelum menetapkan kebijakan lanjutan.

Bahlil menjelaskan bahwa harga minyak mentah dunia kini mulai bergerak naik seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk. Meski kenaikannya belum terlalu tajam, ia mengingatkan agar tren tersebut tetap diwaspadai. Sampai hari ini, cadangan minyak nasional diperkirakan masih cukup untuk sekitar 20 hari ke depan. Ia memastikan bahwa dampak terhadap subsidi energi di dalam negeri belum dirasakan. Namun, ia menilai perkembangan situasi global berpotensi memicu penyesuaian harga lebih lanjut.

Dampak di Jambi

Meskipun konflik Iran dan Amerika Serikat secara geografis tampak jauh dari Jambi, Arief menilai situasi tersebut tetap berpengaruh terhadap sektor ekonomi. Menurutnya, dalam sistem ekonomi global yang saling terhubung, konflik di Timur Tengah hampir selalu berdampak pertama kali pada harga energi serta biaya logistik internasional. Dampak tersebut kemudian menjalar ke wilayah berbasis komoditas seperti Jambi.

Dalam kondisi konflik global, biasanya muncul dua kemungkinan sekaligus: di satu sisi pelemahan nilai tukar rupiah dapat membuat ekspor terlihat lebih kompetitif. Tetapi di sisi lain kenaikan biaya energi dan ongkos angkut internasional justru menekan margin keuntungan pelaku usaha di daerah.

Arief menjelaskan bahwa perekonomian Jambi sangat bergantung pada komoditas global seperti CPO, karet, batubara, serta produk turunan perkebunan yang harganya dipengaruhi dinamika pasar internasional. Dengan demikian, dalam konteks ini, Jambi berada pada posisi yang sangat bergantung pada stabilitas eksternal.


Pos terkait