Perkembangan Ekonomi Kalimantan Utara Menghadapi Ketidakstabilan Global
Konflik antara Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat serta isu penutupan Selat Hormuz telah memicu kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi dan inflasi global. Hal ini berdampak pada perekonomian Indonesia, termasuk di wilayah Kalimantan Utara.
Kekhawatiran Terhadap Stabilitas Ekonomi
Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia, menjadi perhatian khusus dalam situasi ini. Jika jalur tersebut terganggu, harga energi bisa melonjak, sehingga memengaruhi tekanan inflasi, terutama bagi negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Menanggapi situasi ini, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik, mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik menghadapi dinamika global.
“Situasi geopolitik yang kita alami saat ini tentu apapun alasannya adalah sesuatu yang merugikan kita semua. Yang bisa kita harapkan adalah agar ini cepat berakhir,” ujar Hasiando Ginsar Manik.
Fondasi Ekonomi Daerah yang Masih Solid
Hasiando menilai bahwa fondasi ekonomi Kalimantan Utara masih solid karena didukung oleh sektor pertanian, perikanan, dan proyek industri pengolahan. Meskipun sektor pertambangan sedang melemah akibat penurunan permintaan, ia berharap sektor industri pengolahan dapat menjadi penopang jika terjadi perlambatan di sektor tambang.
Beberapa proyek strategis di Kaltara dinilai memiliki potensi untuk memperkuat struktur ekonomi daerah. “Kita berharap industri pengolahan seperti di kawasan industri, termasuk pengolahan bubur kertas dan aluminium, bisa menahan perlambatan di sektor pertambangan,” katanya.
Proyeksi Tahun 2026 yang Optimis
BI Kaltara tetap optimis terhadap perkembangan ekonomi tahun ini. “Kita masih memperkirakan tahun ini akan lebih baik dibanding 2025. Kita masih optimis akan lebih baik,” ujar Hasiando Ginsar Manik.
Terkait potensi inflasi akibat gejolak harga energi global, ia menegaskan pentingnya sinergi semua pihak, termasuk peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam menjaga stabilitas harga, terutama bahan pangan. Upaya penguatan pasokan, kelancaran distribusi, hingga operasi pasar akan terus menjadi instrumen penting dalam menjaga daya beli masyarakat.
Pesan Khusus kepada Masyarakat
Di akhir pernyataannya, Hasiando menyampaikan pesan khusus kepada masyarakat Kalimantan Utara agar tidak terjebak pada kekhawatiran berlebihan. “Kita berharap ini cepat berakhir, ada diskusi konstruktif dan mereka bisa duduk di meja perundingan. Apapun alasannya, peperangan harus kita hindari karena dampaknya terlalu besar,” ujar Hasiando Ginsar Manik.
Ia menekankan bahwa menjaga optimisme dan stabilitas psikologis masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menjaga ekonomi tetap bergerak. “Bangun optimisme bahwa ini hanya sementara dan cepat berakhir. Dengan begitu, kondisi perekonomian bisa kembali normal dan kita tetap fokus memperkuat sektor domestik,” pungkas Hasiando Ginsar Manik.





