Iran umumkan 40 hari berkabung nasional setelah kematian Ali Khamenei

Duntcjadmv 1
Duntcjadmv 1

Masa Berkabung Nasional Iran Setelah Kematian Pemimpin Agung

Republik Islam Iran telah menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari sebagai penghormatan terakhir bagi Pemimpin Agung (rahbar) Ayatollah Ali Khamenei. Pengumuman ini dilakukan setelah kematian sang pemimpin yang berusia 86 tahun, yang diumumkan pada Minggu, 1 Maret 2026. Khamenei gugur dalam rangkaian serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang melanda jantung pertahanan Iran sejak Sabtu dini hari.

Masa berkabung ini menandai berakhirnya era kepemimpinan Khamenei yang telah berlangsung sejak 1989. Meski sebelumnya otoritas setempat seperti Tasnim dan Mehr sempat melaporkan bahwa Khamenei masih “teguh dan kokoh di lapangan” sesaat setelah serangan, konfirmasi resmi pada hari Minggu memastikan bahwa ia meninggal dalam operasi militer tersebut.

Situasi Keamanan yang Kritis

Kematian Khamenei terjadi di tengah situasi keamanan yang sangat kritis. Data dari otoritas setempat menunjukkan bahwa serangan udara menghantam 24 provinsi dan merenggut sedikitnya 201 nyawa. Tragedi kemanusiaan juga terjadi di sektor pendidikan, di mana serangan di sekolah dasar putri Shajareh Tayyebeh di Minab menewaskan 108 orang, serta dua korban jiwa lainnya di sebuah sekolah di timur Teheran.

Presiden AS Donald Trump menyatakan melalui Truth Social bahwa kematian Khamenei adalah hasil dari pemanfaatan “Sistem Pelacakan Sangat Canggih” yang bekerja sama dengan Israel. Ia menulis, “Ini adalah kesempatan tunggal terbesar bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali negara mereka,” sambil menegaskan bahwa pemboman akan terus berlanjut sepanjang minggu atau selama diperlukan.

Masa Transisi yang Krusial

Selama 40 hari ke depan, Iran akan berada dalam masa transisi yang krusial. Barbara Slavin, distinguished fellow di Stimson Center, mengungkapkan kepada Al Jazeera bahwa Iran kemungkinan akan membentuk dewan untuk menjalankan pemerintahan sementara. Meskipun otoritas Iran telah lama merencanakan skenario suksesi, pembunuhan ini menyuntikkan ketidakpastian baru ke dalam konflik yang terus meluas.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan mengonfirmasi bahwa banyak “tokoh senior”, termasuk komandan Garda Revolusi dan pejabat program nuklir, turut dieliminasi dalam gelombang serangan tersebut.

Respons Internasional

Di markas PBB, Duta Besar Iran Amir Saeid Iravani menyebut serangan yang menewaskan pemimpin mereka sebagai “kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.” Ia menegaskan bahwa AS dan Israel telah melakukan agresi terencana di wilayah padat penduduk.

Senada dengan itu, Sekjen PBB Antonio Guterres menyerukan deeskalasi segera, memperingatkan bahwa aksi militer ini berisiko memicu rantai peristiwan yang tidak terkendali di kawasan paling bergejolak di dunia.

Pos terkait