Kehidupan di Tenda Pengungsian Saat Ramadhan
Di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian, warga Palestina di Jalur Gaza menyambut Bulan Ramadhan dengan rasa harap dan kekhawatiran. Di tengah perang yang berlangsung selama bertahun-tahun, banyak keluarga seperti Maisoon al-Barbarawi harus menjalani ibadah puasa di tenda pengungsian.
Maisoon, yang dikenal sebagai Umm Mohammed, tinggal di pengungsian Bureij, Jalur Gaza tengah. Ia memiliki dua anak, Hasan yang berusia sembilan tahun dan putra sulungnya yang berusia 15 tahun. Meskipun hidupnya penuh tantangan, ia tetap berusaha menciptakan suasana yang indah untuk merayakan bulan suci ini.
Membuat Suasana Ramadhan di Tenda Pengungsian
Dekorasi sederhana tergantung di langit-langit tenda yang usang, sementara gambar-gambar berwarna-warni menempel di dinding kain. Semua ini dibuat oleh penghuni kamp untuk menandai kedatangan Bulan Ramadhan. Maisoon bahkan berhasil membelikan lentera kecil untuk Hasan, meski kemampuan finansialnya sangat terbatas.
“Kami membawakanmu hiasan dan lentera kecil,” kata Maisoon kepada Hasan sambil tersenyum lelah bercampur gembira. Ia percaya bahwa meskipun tidak mungkin memberikan segalanya, yang terpenting adalah anak-anaknya merasa bahagia.
Ia juga berharap bahwa hiasan-hiasan ini bisa menjadi jalan keluar dari suasana duka dan kesedihan yang telah menghiasi kehidupannya selama dua tahun terakhir.
Menyiapkan Roti dan Berbagi Kebahagiaan
Meski situasi masih tidak sepenuhnya tenang, Maisoon berpartisipasi dalam kegiatan administrasi kamp, membantu menyiapkan roti dan mengatur kurma serta air untuk dibagikan. Ini dilakukan beberapa menit sebelum azan berkumandang di hari pertama Ramadhan.
“Ini adalah Ramadhan ketiga yang kami habiskan dalam pengungsian,” ujarnya. “Kami kehilangan rumah, keluarga, dan banyak orang yang kami cintai. Namun di sini, kami memiliki tetangga dan teman yang berbagi rasa sakit dan penderitaan yang sama.”
Maisoon kehilangan rumahnya di Gaza tenggara pada awal perang dan terpaksa mengungsi bersama suaminya, Hassouna, dan anak-anak mereka. Mereka sempat berpindah-pindah antar kamp sebelum akhirnya menetap di Bureij dalam kondisi yang ia gambarkan sebagai “sangat buruk”.
Harapan dan Ketakutan yang Berkecamuk
Kata-kata Maisoon berfluktuasi antara optimisme dan ketakutan. Ia percaya bahwa Ramadhan adalah “berkah”, terlepas dari segala sesuatu di sekitarnya. Namun, ia juga takut akan kembalinya perang selama masa puasa ini.
Pada hari pertama Ramadhan, ia belum tahu apa yang akan dimasak untuk keluarganya karena keterbatasan dana hanya memungkinkan membuat makanan sederhana. Namun, ia telah menyiapkan doa dan harapannya sebelum berbuka puasa.
“Saya akan berdoa agar perang tidak pernah kembali. Itulah doa harian saya: agar keadaan benar-benar tenang dan tentara mundur dari tanah kami,” katanya sambil menunjuk lubang peluru di tendanya yang disebabkan oleh tembakan dari drone Israel beberapa hari sebelumnya.
Kekhawatiran akan Kembali Terjadinya Perang
Ketakutan akan kembalinya perang selama Ramadhan bukanlah hal yang unik bagi Maisoon, tetapi juga dirasakan oleh banyak orang di Jalur Gaza. Mereka khawatir akan peningkatan eskalasi baru, mirip dengan tahun lalu ketika pertempuran kembali terjadi pada 19 Maret 2025, bertepatan dengan minggu kedua Ramadan.
Perang yang kembali berkobar itu disertai dengan penutupan perbatasan dan larangan masuknya bantuan makanan ke wilayah tersebut, memicu krisis pangan parah dan kelaparan kemanusiaan yang berlangsung hingga September lalu.
“Orang-orang sekarang terus membicarakan tentang menimbun persediaan. Mereka memberi tahu kami: simpan tepung, simpan makanan… perang akan kembali,” kata Maisoon dengan cemas.
“Ramadan tahun lalu terjadi kelaparan dan perang secara bersamaan. Saya menghabiskan semua uang saya selama kelaparan sebelumnya.”
“Anak kecil saya dulu berdoa agar mati karena sangat menginginkan makanan. Bisakah Anda bayangkan?” pungkasnya.





