Israel dan AS Serang Iran, Pemerintah Pertimbangkan Impor Minyak Luar Teluk

Aa1xlc0e
Aa1xlc0e



JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah merancang beberapa langkah antisipasi terkait kenaikan harga minyak mentah global yang disebabkan oleh serangan rudal Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran akhir pekan lalu.

Airlangga mengakui bahwa konflik yang memicu eskalasi ini akan berdampak langsung pada rantai pasok energi global, khususnya minyak mentah yang berasal dari negara-negara Timur Tengah. Menurutnya, gangguan suplai minyak tidak bisa dihindari karena wilayah konflik berada di area strategis seperti jalur pelayaran Selat Hormuz dan Laut Merah. Oleh karena itu, pemerintah akan terus memantau situasi secara berkala.

“Kita lihat seberapa jauh pertempuran ini akan terus berlanjut,” ujar Airlangga saat berbicara di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (2/3/2026).

Untuk memitigasi risiko pasokan di dalam negeri, Airlangga menekankan bahwa pemerintah telah memiliki nota kesepahaman untuk mendatangkan minyak dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah. Contohnya, PT Pertamina (Persero) telah menjalin kerja sama dengan perusahaan energi asal AS seperti Chevron dan ExxonMobil.

Saat ditanya tentang peluang Indonesia untuk mengimpor minyak dari Rusia, Airlangga menyatakan bahwa pemerintah bersikap terbuka. Dia menegaskan bahwa pemerintah akan terus memantau ketersediaan pasokan di pasar global.

“Kita monitor mana yang tersedia dan mana yang bisa diimpor,” tambahnya.

Sektor Pariwisata Juga Terpukul

Selain sektor energi, Airlangga juga menyoroti bahwa krisis di Timur Tengah akan berdampak pada perekonomian Indonesia. Di samping hambatan pasokan minyak, dia memproyeksikan bahwa sektor pariwisata juga akan terkena dampaknya.

Terkait potensi penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri, Airlangga memperkirakan adanya tren kenaikan. Hal ini dilihat dari pola historis ketika perang Rusia-Ukraina meletus. Namun, dia yakin bahwa guncangan harga kali ini dapat diredam oleh kesiapan produksi dari negara-negara produsen lainnya.

“Otomatis [harga BBM] akan naik, sama seperti saat perang Ukraina kan naik. Tetapi, kali ini suplai dari Amerika Serikat juga akan meningkat, dan OPEC juga akan meningkatkan kapasitasnya,” jelasnya.

Dampak Konflik Bergantung Durasi Perang

Menurut Airlangga, dampak eskalasi geopolitik di Timur Tengah terhadap perekonomian Indonesia sangat bergantung pada seberapa lama konflik tersebut berlangsung. Jika konflik bisa segera diredam, maka dampak negatif perekonomian akan terbatas. Sebaliknya, jika konflik berlarut-larut, maka dampaknya akan lebih besar.

Sebagai catatan, kekhawatiran atas gangguan pasokan energi global muncul setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat. Harga minyak mentah acuan global Brent langsung melonjak tajam hingga 13% ke level di atas US$82 per barel pada pembukaan perdagangan awal Senin (2/3/2026).

Pos terkait