
Israel mengklaim bahwa lebih dari 1.500 anggota Garda Revolusi Iran (IRGC) telah tewas sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada pagi hari Minggu (28/2). Dalam laporan tersebut, AS dan Israel disebut telah menyerang lebih dari 1.200 target di wilayah Iran. Jumlah target ini diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa hari ke depan. Namun, klaim Israel ini belum dapat diverifikasi secara pasti.
Menurut data yang dikutip dari CNN, berdasarkan informasi dari Bulan Sabit Merah Iran, jumlah korban tewas akibat serangan AS-Israel mencapai 555 orang hingga Senin (2/3). Angka ini menjadi indikasi bahwa dampak serangan tersebut cukup signifikan, meskipun masih ada perbedaan antara klaim pihak Israel dan laporan resmi dari Iran.

Israel Mulai Gelombang Serangan Baru
Israel akan segera meluncurkan gelombang serangan baru terhadap Iran. Militer Israel, atau Israel Defense Forces (IDF), telah mengumumkan dimulainya serangan tersebut. IDF memberikan peringatan evakuasi mendesak bagi warga yang tinggal di lingkungan Evin, Teheran. Area ini termasuk kompleks studio saluran berita negara Iran, IRINN.
Dalam pernyataannya, IDF menyebut bahwa pasukan Israel akan menargetkan infrastruktur militer rezim Iran dalam beberapa jam mendatang. “Demi keselamatan dan kesejahteraan Anda, kami meminta Anda untuk segera mengevakuasi area yang ditentukan,” tulis pernyataan IDF.
Lokasi yang ditargetkan merupakan area yang juga pernah diserang Israel pada Juni 2025. Pada saat itu, ledakan terjadi ketika seorang pembawa acara sedang siaran langsung, dan satu pekerja media dilaporkan tewas. Peristiwa ini menunjukkan bahwa serangan-serangan terhadap infrastruktur media dan politik Iran semakin intensif.
Peringatan di Lebanon Selatan
Selain menargetkan Iran, IDF juga memberikan peringatan evakuasi kepada sejumlah desa di Lebanon selatan. Dalam video berbahasa Arab, juru bicara militer Israel meminta warga untuk bergegas ke utara dari garis yang telah ditentukan.
Pernyataan IDF menyebutkan: “Aktivitas Hizbullah memaksa Pasukan Pertahanan Israel untuk mengambil tindakan terhadapnya tanpa niat untuk membahayakan Anda.” Eskalasi terbaru ini memperluas potensi konflik di kawasan, dengan serangan yang tidak hanya terfokus di Iran tetapi juga menyasar wilayah yang diduga terkait dengan Hizbullah di Lebanon.
Beberapa faktor penting yang mendorong eskalasi ini adalah:
Ketegangan regional yang meningkat: Serangan-serangan Israel terhadap Iran dan wilayah-wilayah yang dianggap sebagai basis kekuatan musuh semakin meningkatkan risiko konflik lintas batas.
Respons Hizbullah: Kelompok Hizbullah di Lebanon terus menunjukkan aktivitas militer yang dianggap sebagai ancaman oleh Israel. Hal ini memicu respons militer yang lebih agresif.
Pengaruh internasional*: Keterlibatan Amerika Serikat dalam operasi militer Israel menunjukkan bahwa konflik ini tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga memiliki implikasi global.
Dengan situasi yang semakin memanas, masyarakat di daerah-daerah yang terancam harus tetap waspada dan mengikuti petunjuk resmi dari pihak berwenang.





