Pembunuhan Adham Adnan al-Othman, Komandan Jihad Islam Palestina di Lebanon
Militer Israel mengonfirmasi telah membunuh Adham Adnan al-Othman, yang mereka sebut sebagai komandan dari kelompok Jihad Islam Palestina di Lebanon. Pengumuman ini muncul setelah Brigade Quds, sayap bersenjata dari Jihad Islam Palestina, mengatakan bahwa al-Othman tewas dalam serangan beberapa waktu lalu.
Dalam pernyataannya, militer Israel menyebutkan bahwa al-Othman telah memegang posisi komandan selama beberapa tahun terakhir. Ia dituduh bertanggung jawab atas perencanaan berbagai serangan terhadap Israel. Menurut laporan, al-Othman aktif bekerja untuk kelompok tersebut di Lebanon, termasuk melatih operator, merekrut anggota, dan mendapatkan senjata.
Profil Singkat Jihad Islam Palestina
Nama resmi dari kelompok ini adalah Harakat al-Jihād al-Islāmī fī Filasṭīn (Gerakan Jihad Islam di Palestina). Didirikan pada awal 1980-an oleh Fathi Shaqaqi dan Abd Al Aziz Awda. Ideologi utamanya adalah Islamisme Sunni, nasionalisme Palestina, anti-Zionisme, serta anti-imperialisme.
Wilayah operasi dari kelompok ini mencakup Gaza, Tepi Barat, Lebanon, dan memiliki dukungan dari Suriah serta Iran. Sayap bersenjata mereka disebut Brigade al-Quds. Jumlah anggota diperkirakan mencapai ribuan, menjadikannya sebagai kelompok militan terbesar kedua di Gaza setelah Hamas.
Tujuan utama dari Jihad Islam Palestina adalah menghancurkan negara Israel dan menggantinya dengan negara Palestina berbasis Islam. Mereka menolak proses perdamaian dengan Israel, termasuk Perjanjian Oslo, dan percaya bahwa perjuangan bersenjata adalah satu-satunya jalan untuk mencapai kemerdekaan Palestina.
Dukungan Internasional dan Hubungan dengan Kelompok Lain
Jihad Islam Palestina (PIJ) didirikan pada tahun 1979 sebagai cabang dari Ikhwanul Muslimin Mesir. Pada saat ini, PIJ adalah kelompok terbesar kedua di Gaza setelah Hamas. Departemen Luar Negeri AS mengklaim bahwa PIJ memiliki kurang dari 1.000 anggota, meskipun pada tahun 2011 kelompok tersebut mengklaim memiliki setidaknya 8.000 pejuang siap tempur di Gaza.
PIJ berdedikasi untuk memberantas Israel dan mendirikan negara Palestina Islam yang otonom di wilayah yang saat ini terdiri dari Israel, Tepi Barat, dan Gaza. Mereka percaya bahwa tanah Palestina disucikan untuk Islam dan bahwa Israel telah merebut Palestina. Oleh karena itu, mereka menganggap Israel sebagai penghinaan terhadap Tuhan dan Islam, serta penaklukan kembali Palestina sebagai tugas suci.
PIJ menolak untuk bernegosiasi dengan Israel dan menolak solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina. Mereka melakukan banyak serangan teror terhadap target dan kepentingan Israel. Berbeda dengan Hamas, PIJ tidak berpartisipasi dalam proses politik atau menyediakan layanan sosial.
Pendukung utama PIJ adalah Iran, yang telah menyediakan jutaan dolar dalam bentuk pendanaan langsung, pelatihan, dan senjata kepada kelompok tersebut. PIJ juga bermitra dengan Hizbullah, yang didukung Iran dan Suriah, dalam melakukan operasi gabungan.
Lokasi Kepemimpinan dan Perpindahan Operasi
Awalnya, PIJ berbasis di Gaza hingga tahun 1987. Kepemimpinan PIJ kemudian diasingkan ke Lebanon, di mana mereka mulai bekerja sama dengan Hizbullah dan menerima pelatihan dari Korps Garda Revolusi Islam Iran. Pada tahun 1989, kepemimpinan PIJ pindah ke Suriah, tetapi meninggalkan kelompok kecil di Lebanon yang melancarkan serangan bersama dengan Hizbullah pada tahun 1990-an.
Suriah memberikan bantuan militer dan tempat perlindungan kepada PIJ, memungkinkan kepemimpinan kelompok tersebut untuk menduduki pangkalan Angkatan Darat Suriah dari tahun 1989 hingga 2012. Menurut Departemen Luar Negeri AS, pimpinan senior PIJ masih tinggal di Suriah dan beberapa pemimpin lainnya tinggal di Lebanon, meskipun sebagian besar anggota PIJ tinggal di Gaza.
Menurut laporan Asharq Al-Awsat pada tahun 2012, kepemimpinan PIJ yang berbasis di Suriah telah pindah ke Iran, tetapi terus menjalin hubungan positif dengan para pendukung mereka di Suriah. Namun, seorang pejabat PIJ membantah laporan tersebut, dengan mengklaim bahwa “hubungan antara (PIJ) dan pemerintah Suriah sangat baik, tidak seperti Hamas,” yang kepemimpinannya meninggalkan Suriah setelah menolak mendukung rezim Assad selama perang saudara Suriah.
Perwakilan resmi kelompok tersebut juga ditempatkan di tempat lain di Timur Tengah, termasuk Iran.





