Israel Mengakui Tidak Tahu Soal Serangan di Sekolah Putri yang Menewaskan 100 Orang

127975522 Mediaitem127975521 1
127975522 Mediaitem127975521 1

Serangan Udara di Sekolah Dasar Putri di Iran

Serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap beberapa wilayah di Iran pada Sabtu (28/2/2026) menjadi perhatian utama. Salah satu insiden yang paling menyedihkan adalah serangan udara yang menargetkan sekolah dasar putri di Minab, Hormozgan, Iran Selatan. Dalam serangan tersebut, sebanyak 108 orang meninggal dunia dan 63 lainnya mengalami luka-luka.

Juru bicara militer Letnan Kolonel Nadav Shoshani dari Israel memberikan pernyataan terkait serangan yang menghancurkan sekolah tersebut. Dikutip dari laman Middle East Eye, ia menyatakan bahwa militer Israel tidak mengetahui adanya serangan terhadap sekolah yang menewaskan ratusan anak. “Pada tahap ini, kami tidak mengetahui adanya serangan udara Israel atau AS di lokasi tersebut… Kami beroperasi dengan sangat presisi,” ujarnya dalam konferensi pers, Minggu (1/3/2026).

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) juga memberikan pernyataan terkait penyerangan sekolah dasar tersebut. Juru bicara CENTCOM Tim Hawkins mengaku akan melakukan penyelidikan atas laporan tersebut. Menurut Tim Hawkins, keselamatan warga sipil menjadi prioritas utama dalam agresi gabungan AS-Israel. “Kami menanggapi laporan ini dengan serius,” kata juru bicara CENTCOM Tim Hawkins dalam pernyataan yang dilaporkan di media AS, dilansir BBC. “Perlindungan warga sipil adalah yang terpenting, dan kami akan terus mengambil semua tindakan pencegahan yang tersedia untuk meminimalkan risiko bahaya yang tidak disengaja.”

Berdasarkan laporan yang diperoleh Mizan News Agency, terdapat 148 orang tewas setelah serangan yang menghantam sebuah sekolah dasar putri di Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat. Sekolah tersebut berada sekitar 600 meter dari pangkalan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang sebelumnya dijadikan target serangan Israel dan AS.

Di sisi lain, kantor berita Iran Mehr melaporkan setidaknya dua siswa tewas akibat serangan Israel lain yang menghantam sebuah sekolah di sebelah timur Teheran, ibu kota Iran. Setelah insiden serangan keji di sekolah ini, Iran jelas langsung menuding AS dan Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Menurut Bulan Sabit Merah Iran (Iranian Red Crescent Society), total 201 orang tewas dalam serangan udara di Iran dan 747 lainnya terluka sejak Sabtu (28/2/2026). Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut insiden serangan ke sekolah ini sebagai “tindakan barbar” dan “halaman hitam lain dalam catatan kejahatan yang tak terhitung jumlahnya yang dilakukan oleh para agresor”.

Setelah insiden pada Sabtu kemarin, pejabat Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (Red Cross dan Red Crescent) di Jenewa mengatakan bahwa pihak mereka telah memobilisasi tim tanggap darurat untuk bertolak ke sekolah di Iran yang terkena serangan. Salah seorang pejabat di sekolah dasar putri di Kota Minab ini mengungkap, sekolah tersebut telah “menjadi sasaran tiga serangan rudal”.

Tragedi di dua sekolah tersebut terjadi ketika AS dan Israel melancarkan gelombang demi gelombang serangan udara terhadap target di sejumlah kota di Iran sepanjang hari Sabtu kemarin. Serangan masih berlanjut pada hari Minggu, menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara, bersama dengan putri, menantu, dan cucunya.

Pemerintah Iran lantas menyatakan 40 hari berkabung nasional dan tujuh hari libur nasional atas meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei. Menyusul serangan yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, Presiden AS Donald Trump dalam video pengumumannya di platform Truth Social bilang ini untuk “membela rakyat Amerika dari ancaman rezim Iran” dan mencegah Iran punya senjata nuklir. Dia juga secara terbuka memanggil rakyat Iran untuk bangkit dan mengambil alih pemerintahan mereka, menyebut ini “kesempatan terakhir untuk generasi mendatang”.

Di sisi lain, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyatakan tujuan serangan ini adalah untuk menghilangkan “ancaman eksistensial” dari rezim Iran terhadap Israel. Selain Ayatollah Ali Khamenei, banyak pejabat senior politik dan militer Iran juga dilaporkan tewas dalam serangan AS-Israel, di antaranya:

  • Ali Shamkhani, penasihat senior Ayatollah Ali Khamenei, mantan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (Supreme National Security Council), dan perwakilan di Dewan Pertahanan.
  • Mohammad Pakpour, Panglima IRGC (Islamic Revolutionary Guard Corps)
  • Aziz Nasirzadeh (atau Amir Aziz Nasirzadeh), Menteri Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata Iran (Defense Minister).
  • Abdolrahim Mousavi (atau Sayyid Abdolrahim Mousavi), Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran (Chief of General Staff/Armed Forces Chief of Staff)

Terkait operasi militer AS-Israel ini, Iran pun langsung melakukan serangan balasan dengan meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke Israel. Sebanyak 27 pangkalan militer AS di Timur Tengah (termasuk di Bahrain, Kuwait, Qatar, UAE, dan lainnya) juga menjadi target serangan balasan Iran.

Dalam pernyataan terbarunya, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Korps Garda Revolusi Iran yang berjanji akan melakukan serangan pembalasan. Sebagai informasi, IRGC telah mengumumkan dimulainya “operasi ofensif paling dahsyat dalam sejarah Republik Islam Iran,” dikutip dari artikel Middle East Eye, Minggu (1/3/2026). Menurut IRGC, serangan akan dimulai “dalam beberapa saat” dan akan menargetkan “area pendudukan dan pangkalan teroris Amerika” di wilayah tersebut.

Lebih lanjut, serangan AS-Israel terhadap Iran juga berdampak lebih luas, di mana sejumlah negara di Timur Tengah menutup wilayah udaranya. Penutupan wilayah udara terjadi di Israel, Qatar, Suriah, Iran, Irak, Kuwait, Bahrain, hingga Uni Emirat Arab (UEA).

Pos terkait