Istri Ali Khamenei Tewas dalam Serangan Israel-AS ke Iran

Iran Ayatollah 6
Iran Ayatollah 6

Kabar Kematian Istri Pemimpin Tertinggi Iran

Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, istri dari Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, meninggal dunia dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada Senin (2/3/2026). Ia mengalami luka-luka yang parah akibat serangan tersebut. Kabar kematian istri Khamenei ini dilaporkan oleh media pemerintah Iran, Press TV.

Press TV menyebutkan bahwa Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh telah “mencapai kesyahidan”. Sehari sebelumnya, pada Minggu (1/3/2026), Ayatollah Ali Khamenei sendiri juga dinyatakan meninggal dunia dalam serangan yang sama, yang terjadi di kantornya. Dikabarkan bahwa Khamenei terbunuh pada Sabtu (28/2/2026) pagi, meskipun belum ada detail lebih lanjut tentang kejadian tersebut.

Kantor berita pemerintah Tasnim dan Fars hanya menyatakan bahwa Khamenei meninggal di kantornya saat menjalankan tugas yang diemban kepadanya. Menyusul kematian Khamenei, Iran mendeklarasikan 40 hari masa berkabung dan tujuh hari libur nasional.

Sebelumnya, citra satelit dari Airbus Defence and Space menunjukkan bahwa bangunan utama di kompleks Beit-e Rahbari, tempat tinggal sang pemimpin tertinggi, dalam kondisi hancur total usai serangan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026). Beit-e Rahbari tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga lokasi strategis untuk menjamu pejabat-pejabat senior Iran. Berdasarkan foto udara tersebut, struktur bangunan yang menjadi kediaman langsung Khamenei beserta perimeter keamanan di sekitarnya tampak telah rata dengan tanah.

Profil Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh

Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh lahir di Persia pada tahun 1947. Ia lahir dalam keluarga religius di Mashhad. Ayahnya adalah Mohammad Esmaeil Khojasteh Bagherzadeh, seorang pengusaha terkenal di Mashhad. Ia juga merupakan saudara perempuan Hassan Khojaste Bagherzadeh, mantan wakil direktur IRIB.

Ia pertama kali bertemu Ali Khamenei dalam sebuah upacara pribadi pada tahun 1964. Mereka menikah pada tahun berikutnya. Khutbah pernikahan mereka dibacakan oleh Ayatollah Mohammad Hadi Milani. Mansoureh dan Khamenei memiliki empat putra dan dua putri, yaitu Mostafa, Mojtaba, Masoud, Meysam, Boshra, dan Hoda.

Mostafa sebagian besar terlibat dalam studi seminari. Dia telah menikahi putri Azizollah Khoshvaght. Mojtaba, yang lebih dikenal di media dan politik negara itu, adalah menantu dari Gholam Ali Haddad Adel. Masoud telah menikahi putri Seyyed Mohsen Kharazi dan memiliki hubungan keluarga dengan Kamal dan Sadegh Kharazi. Meysam juga menikahi putri Mahmoud Lolachian, salah satu pedagang pasar keagamaan di Teheran. Seperti Seyyed Masoud, ia juga bekerja sama dengan kantor pelestarian dan penerbitan karya-karya “Pemimpin Revolusi”.

Boshra telah menikahi putra Mohammad Mohammadi Golpayegani. Hoda juga telah menikah dengan putra Mohammad Bagher Bagheri.

Profil Ayatollah Ali Khamenei

Dilansir dari laman Khamenei.ir, Ali Khamenei lahir di Kota Suci Mashhad pada 19 April 1939. Ia merupakan putra kedua Sayyed Javad Khamenei, sosok ulama yang dikenal sederhana dan miskin. Meski hidup serba kekurangan, Sayyed Javad selalu mengajarkan keluarganya hidup sederhana dan rendah hati.

Ali Khamenei kecil menempuh pendidikan di Maktab, sekolah dasar tradisional pada masa itu, untuk belajar alfabet dan Al-Qur’an. Setelah itu, dia pindah ke sekolah Islam untuk melanjutkan pendidikannya. Setelah lulus, ia melanjutkan studinya di seminari teologi di Mashhad. Di sekolah agama Soleiman Khan dan Nawwab, Ali Khamenei belajar logika, filsafat, dan yurisprudensi Islam. Ia belajar di bawah pengawasan ayahnya dan bimbingan sejumlah ulama besar.

Perjalanan hidup Ali Khamenei tidak lepas dari sejarah panjang perlawanan terhadap rezim Shah yang pro-Barat. Sejak usia remaja, pemikirannya telah dibentuk oleh orasi kritis Nawwab Safavi, ulama yang vokal menentang kebijakan Shah yang dinilai anti-Islam.

Pada 1962, Ali Khamenei memutuskan bergabung dengan barisan pengikut revolusioner Imam Khomeini. Langkah ini merupakan bentuk penolakan terbuka terhadap kebijakan rezim Shah yang dianggap tunduk pada kepentingan Amerika Serikat dan mengesampingkan nilai-nilai Islam di Iran.

Selama 16 tahun, Khamenei mendedikasikan dirinya dalam gerakan bawah tanah hingga runtuhnya kekuasaan Shah. Karena loyalitas dan keberaniannya, ia dipercaya oleh Imam Khomeini untuk menjalankan misi rahasia, termasuk menyampaikan pesan koordinasi antara tokoh ulama seperti Ayatollah Milani dalam menyusun taktik mengungkap keburukan rezim.

Jadi Pemimpin Revolusi Islam

Khamenei mengambil alih kepemimpinan Republik Islam pada tahun 1989 setelah kematian Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin karismatik yang telah memimpin revolusi Islam satu dekade sebelumnya. Khamenei yang membentuk aparat militer dan paramiliter Iran. Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, ia telah memimpin Iran sebagai presiden melalui perang berdarah dengan Irak pada tahun 1980-an.

Konflik yang berkepanjangan, ditambah dengan rasa isolasi di antara banyak warga Iran karena negara-negara Barat mendukung pemimpin Irak Saddam Hussein, memperdalam ketidakpercayaan Khamenei terhadap Barat secara umum dan Amerika Serikat secara khusus.

Pos terkait