Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS pada Penutupan Perdagangan Kamis
Pada penutupan perdagangan Kamis (19/2/2026), nilai tukar atau kurs rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah ditutup pada posisi Rp16.894 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp16.884 per dolar AS, sehingga mengalami penurunan sebesar 10 poin atau 0,06 persen.
Rupiah dibuka pada pagi hari dengan harga Rp16.947,5 per dolar AS, dan mengalami fluktuasi dalam kisaran perdagangan harian antara Rp16.878,5 hingga Rp16.947,5 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menjadi perhatian investor.
Risiko Geopolitik di Timur Tengah Menjadi Fokus Investor
Menurut pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, investor saat ini masih memperhatikan risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyebut bahwa Iran belum memenuhi tuntutan utama AS dalam pembicaraan terbaru. Meski demikian, Pemerintah AS disebut telah sepakat memberikan waktu dua minggu bagi Teheran untuk menjembatani perbedaan yang ada.
Ibrahim juga menuturkan bahwa Presiden AS Donald Trump memiliki kewenangan untuk menggunakan kekuatan apabila jalur diplomasi gagal menghentikan program nuklir Iran. Laporan media tentang peningkatan aktivitas militer dan angkatan laut di Teluk telah memperkuat persepsi pasar terhadap kerentanan pasokan.
Investor Memantau Risalah The Fed dan Arah Suku Bunga
Di sisi lain, Ibrahim menyampaikan bahwa risalah rapat kebijakan terbaru Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara para pejabat terkait perlunya kenaikan suku bunga lanjutan. Menurut dia, para pembuat kebijakan secara umum menilai risiko inflasi masih cenderung meningkat. Namun, mereka berbeda pendapat mengenai seberapa ketat kebijakan moneter perlu diterapkan dan berapa lama suku bunga harus dipertahankan di level tinggi.
“Para pedagang menurunkan ekspektasi mereka untuk penurunan suku bunga Fed tahun ini, meskipun kontrak berjangka dana Fed masih menunjukkan penurunan kemungkinan terjadi pada bulan Juni,” kata dia.
Investor kini menanti rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS pada Jumat. PCE merupakan indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Proyeksi Pergerakan Rupiah pada Jumat
Dalam 52 minggu terakhir, pergerakan rupiah berada di rentang Rp16.079 hingga Rp17.224 per dolar AS, dengan depresiasi atau pelemahan sejak awal tahun (year to date/YTD) tercatat 1,28 persen. Untuk perdagangan Jumat (20/2/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun tetap melemah di kisaran Rp16.890-Rp16.930 per dolar AS.





