Jababeka (KIJA) Lampaui Laba Rp423 Miliar, Tumbuh 16,48% di 2025

Aa1xld6i
Aa1xld6i



JAKARTA – Perusahaan kawasan industri, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA) berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp423,2 miliar pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 16,48% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir pada Desember 2025, KIJA mencatat laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp423,19 miliar. Angka ini meningkat dari realisasi pada 2024 yang tercatat sebesar Rp363,3 miliar. Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan peningkatan penjualan dan pendapatan jasa yang mencapai senilai Rp5,14 triliun. Secara tahunan, pendapatan KIJA naik sebesar 11,87% dibandingkan dengan pendapatan pada 2024 yang hanya sebesar Rp4,60 triliun.

Dari segi kontribusi pendapatan, segmen developed land memberikan kontribusi terbesar sebesar Rp2,1 triliun. Disusul oleh segmen pembangkit tenaga listrik yang menyumbangkan pendapatan sebesar Rp1,81 triliun.

Di sisi biaya, beban pokok penjualan dan pendapatan jasa meningkat menjadi Rp3,11 triliun, dibandingkan dengan angka Rp2,63 triliun pada 2024. Hal ini menjadi faktor yang memengaruhi margin keuntungan perusahaan.

Dari sisi neraca, total aset KIJA mengalami peningkatan signifikan menjadi Rp15,05 triliun per 31 Desember 2025, dibandingkan dengan Rp14,01 triliun pada akhir 2024. Demikian pula dengan liabilitas yang tercatat naik menjadi Rp6,91 triliun pada 2025 dari Rp6,47 triliun pada 2024. Sementara itu, ekuitas KIJA juga menguat menjadi Rp8,14 triliun pada 2025, dibandingkan dengan Rp7,53 triliun pada akhir 2024.

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan KIJA Muljadi Suganda menyampaikan bahwa permintaan lahan industri pada tahun ini diperkirakan tetap berasal dari sektor-sektor utama seperti manufaktur ringan hingga menengah, termasuk komponen otomotif dan elektronik. Selain itu, sektor logistik dan pergudangan juga terus mendorong permintaan lahan industri, seiring meningkatnya kebutuhan rantai pasok domestik. Minat terhadap sektor data center juga meningkat secara bertahap, disusul sektor hilirisasi industri seperti metal processing dan turunannya.

Dari sisi asal negara, permintaan tahun depan diperkirakan masih didominasi oleh investor Asia Timur, yaitu China, Korea, dan Jepang, serta Asia Tenggara. Beberapa katalis positif yang menjaga permintaan antara lain kebijakan pemerintah yang mendorong pertumbuhan industri, insentif hilirisasi, kemudahan berusaha, serta relokasi dan diversifikasi rantai pasok global, terutama dari China ke Asia Tenggara. Selain itu, meningkatnya kebutuhan fasilitas logistik dan distribusi seiring pertumbuhan perdagangan digital dan perbaikan infrastruktur konektivitas turut menopang permintaan.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Perusahaan tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Pos terkait