Jalan Energi Terbarukan di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Aa1xotvt
Aa1xotvt



JAKARTA — Serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah memicu peningkatan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Peristiwa ini juga berdampak pada perkembangan energi terbarukan di seluruh dunia. Ketegangan geopolitik tersebut menyebabkan gangguan terbesar dalam pasar minyak dan gas sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Beberapa negara besar mengambil langkah-langkah untuk menghadapi situasi ini. Qatar, misalnya, menghentikan operasional fasilitas ekspor gas alam cair terbesar di dunia. Sementara itu, Arab Saudi menangguhkan aktivitas di kilang minyak terbesarnya. Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital perdagangan energi global, nyaris terhenti.

Menurut laporan dari Bloomberg, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa serangan terhadap Iran bisa berlangsung hingga empat hingga lima pekan ke depan. Meski saat ini pasar global masih mengalami kelebihan pasokan minyak dan gas, konflik yang berkepanjangan berpotensi mengubah peta pasar energi dunia.

Secara teori, lonjakan harga minyak dan gas dapat meningkatkan daya saing energi terbarukan seperti surya dan angin. Energi-energi ini diproduksi di dalam negeri dan relatif terlindungi dari gejolak eksternal. Thijs Van de Graaf, peneliti energi di Brussels Institute for Geopolitics, mengatakan bahwa harga energi fosil yang tinggi membuat investasi panel surya, pompa panas, dan teknologi rendah karbon lain menjadi lebih menarik karena dapat menekan ketergantungan terhadap gas.

Namun, analis memperingatkan bahwa dampaknya tidak sesederhana itu. David Hostert, Global Head of Economics and Modeling BloombergNEF, menyebut lonjakan harga energi berisiko memicu inflasi dan mendorong bank sentral menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut akan meningkatkan biaya pembiayaan proyek energi bersih yang bersifat padat modal dan sensitif terhadap biaya pinjaman.

Menurutnya, gangguan pasokan energi fosil dapat ditafsirkan berbeda oleh setiap negara. Negara produsen minyak dan gas mungkin terdorong memperkuat eksploitasi sumber daya domestik, sementara negara importir bisa melihatnya sebagai momentum mempercepat elektrifikasi dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.

Bagi banyak negara Asia, terganggunya pasokan minyak dan gas dapat menekan perekonomian secara signifikan. Sebagai contoh, Beijing telah menyerukan gencatan senjata segera, sementara sejumlah importir migas di kawasan mulai meminta percepatan pengiriman LNG dari pemasok di luar Timur Tengah guna mengantisipasi potensi kekurangan pasokan pada Maret.

Kingsmill Bond, analis energi dari lembaga kajian Ember di London, menilai pembuat kebijakan di Asia dapat menjadi lebih berhati-hati dalam meningkatkan ketergantungan pada gas. Konflik yang berlangsung makin lama disebutnya akan memberikan tekanan lebih besar untuk mencari solusi alternatif.

Di sisi lain, negara yang memiliki cadangan batu bara melimpah seperti China dan India berpotensi memanfaatkan batu bara sebagai substitusi cepat dan murah untuk menggantikan sebagian impor gas, meski konsekuensinya meningkatkan emisi.

Sejumlah negara berkembang sebenarnya telah mempercepat adopsi energi hijau seiring penurunan biaya teknologi. Namun, kenaikan harga minyak dan gas dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah dan membatasi dukungan subsidi bagi teknologi bersih yang masih bersaing dengan energi fosil.

Antony Froggatt dari lembaga Transport and Environment menilai harga energi memiliki dampak luas terhadap perekonomian. Menurutnya, makin besar kemampuan suatu negara memproduksi energi secara domestik, maka makin kuat pula ketahanan energinya di tengah gejolak global.

Pos terkait