Fenomena Langka: Gerhana Bulan Total yang Dikenal sebagai Blood Moon
Pada malam hari Selasa, 3 Maret 2026, masyarakat Indonesia akan menyaksikan fenomena langit yang sangat menarik, yaitu gerhana Bulan total. Fenomena ini juga dikenal sebagai blood moon karena Bulan akan tampak berwarna merah tembaga saat terjadi.
Fenomena ini terjadi pada malam ke-14 Ramadan 1447 H atau Ramadan 2026 dan dapat diamati dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Purwokerto. Puncak gerhana Bulan total diperkirakan terjadi pada pukul 18.33 WIB, yang merupakan waktu terbaik untuk melihat warna merah yang khas dari Bulan selama gerhana.
Bagaimana Gerhana Bulan Total Terjadi?
Dosen ahli Penginderaan Jauh dari Jurusan Fisika FMIPA Unsoed Purwokerto, Prof Ir Jamrud Aminuddin menjelaskan bahwa gerhana Bulan total terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan. Akibatnya, bayangan Bumi sepenuhnya menutupi Bulan sehingga tidak menerima cahaya Matahari secara langsung. Peristiwa ini hanya terjadi pada fase bulan purnama.
Selama gerhana total, Bulan akan terlihat berwarna merah tembaga. Warna ini muncul akibat proses hamburan cahaya di atmosfer Bumi. Cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi akan mengalami penyebaran. Cahaya dengan panjang gelombang pendek, seperti biru, lebih banyak tersebar, sementara cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang, seperti merah, tetap diteruskan dan dibiaskan menuju permukaan Bulan. Proses ini mirip dengan mekanisme yang menyebabkan langit tampak merah saat senja.
Tahapan Gerhana Bulan
Gerhana Bulan total memiliki beberapa tahapan:
- Fase penumbra: Bulan mulai memasuki bayangan samar Bumi, sehingga perubahan cahayanya masih sulit diamati.
- Gerhana sebagian: Sebagian permukaan Bulan tertutup bayangan inti Bumi atau umbra, sehingga Bulan tampak seperti “tergigit”.
- Fase total: Seluruh permukaan Bulan berada di dalam umbra dan tampak berwarna merah.
- Setelah itu, gerhana akan kembali ke fase sebagian dan penumbra hingga akhirnya Bulan keluar sepenuhnya dari bayangan Bumi.
Menurut Prof Jamrud, gerhana Bulan aman diamati dengan mata telanjang. Tidak diperlukan kacamata khusus. Fenomena ini dapat dilihat langsung atau menggunakan kamera biasa, teropong, maupun teleskop kecil. Fase total gerhana bulan biasanya berlangsung sekitar 1 sampai 2 jam.
Waktu dan Lokasi Pengamatan
Fenomena gerhana Bulan ini dapat diamati dari wilayah Bumi yang sedang mengalami malam hari. Secara umum, seluruh fase gerhana dapat disaksikan dari kawasan Asia Timur, Australia, Selandia Baru, dan Samudra Pasifik bagian tengah. Di sebagian wilayah Amerika Utara dan Amerika Tengah, fase total atau sebagian dapat terlihat menjelang dini hari sebelum Matahari terbit. Sementara, sebagian besar wilayah Eropa dan Afrika tidak dapat menyaksikan gerhana tersebut karena posisi Bulan berada di bawah horizon saat peristiwa berlangsung.
Untuk wilayah Indonesia, waktu fase total diperkirakan terjadi pada:
* 18.04-19.02 WIB
* 19.04-20.02 WITA
* 20.04-21.02 WIT
Puncak gerhana diperkirakan terjadi pada 18.33 WIB, 19.33 WITA, dan 20.33 WIT, saat warna merah Bulan terlihat paling kuat.
Di Purwokerto, masyarakat dianjurkan memilih lokasi dengan pandangan luas ke arah timur, terutama sesaat setelah Matahari terbenam. Berdasarkan analisis perangkat lunak astronomi, posisi pengamatan berada pada azimuth sekitar 75°– 90° dari arah utara menuju timur, dengan elevasi Bulan meningkat dari sekitar 5° hingga 30° di atas horizon selama gerhana berlangsung.
Pengamatan kemungkinan lebih nyaman dilakukan sekitar pukul 19.02 WIB atau akhir totalitas, dengan elevasi sekitar 15°, selama kondisi atmosfer mendukung dan tidak tertutup awan tebal.
Pengamatan oleh Jurusan Fisika FMIPA Unsoed
Pada hari pengamatan, Jurusan Fisika FMIPA Unsoed juga akan melakukan pemantauan gerhana dari rooftop Kampus C FMIPA Unsoed. Observasi akan menggunakan teleskop Sky-Watcher BK909 NEQ2 yang dilengkapi sistem mounting bermotor otomatis. Perangkat tersebut mampu mengarahkan teleskop secara otomatis ke posisi Bulan saat gerhana setelah koordinat dimasukkan ke dalam perangkat lunak SkyPlanetarium.
Dengan teknologi tersebut, proses pengamatan menjadi lebih praktis dan presisi, sehingga tidak memerlukan keahlian khusus, termasuk dalam bidang fotografi. Sistem mounting teleskop ini merupakan hasil riset tim peneliti Jurusan Fisika FMIPA Unsoed yang dipimpin Prof. Jamrud, dengan anggota tim Prof Drs Budi Pratikno MStatSci PhD dan Dr Mirda Prisma Wijayanto MSi.





