Tahun Pertama Kepemimpinan Bupati Enrekang: Perjalanan Penuh Tantangan
Satu tahun kepemimpinan Bupati Enrekang Yusuf Ritangnga dan Wakil Bupati Andi Tenri Liwang La Tinro (Ucu–Iwan) menjadi fase ujian berat bagi arah pembangunan daerah. Di tengah peringatan Hari Ulang Tahun ke-66 Enrekang yang bertepatan dengan suasana Ramadan, capaian program mulai terlihat.
Namun di sisi lain, beban utang daerah masih menjadi bayang-bayang besar yang membatasi ruang gerak fiskal pemerintah. Pemerintah Kabupaten Enrekang mencatat total beban utang tahun 2023–2024 mencapai Rp 217 miliar. Hingga 2025, realisasi pelunasan baru menyentuh Rp 30,7 miliar. Artinya, sekitar Rp 186 miliar utang masih membelit keuangan daerah. Kondisi ini membuat sejumlah program strategis belum berjalan maksimal.
Program Mulai Jalan, Fiskal Masih Ketat
Di sektor pertanian, yang menjadi tulang punggung ekonomi Bumi Massenrempulu, pemerintah mulai merealisasikan jaminan gagal panen melalui kerja sama dengan PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo). Pada tahap awal, perlindungan asuransi mencakup 1.100 hektar lahan sawah. Program tersebut diproyeksikan menjadi jaring pengaman bagi petani agar tidak mengalami kerugian total akibat cuaca ekstrem.
Selain itu, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) telah menyalurkan ratusan alat dan mesin pertanian (alsintan), mulai dari combine harvester hingga traktor roda dua dan empat, untuk meningkatkan efisiensi produksi.
Di bidang infrastruktur, perbaikan jalan poros Cakke–Baraka yang selama bertahun-tahun dikeluhkan masyarakat akhirnya rampung dengan dukungan dana pusat lebih dari Rp 22 miliar. Pemkab juga mengalokasikan Rp 33 miliar untuk fungsionalitas pengairan lahan serta membenahi akses desa poros Malawwe–Surakan sepanjang 1,4 kilometer.
Tak hanya itu, dua unit mobil pemadam kebakaran turut diadakan, sehingga kini Enrekang memiliki lima armada siaga. “Ada juga pengadaan dua unit Damkar, sehingga kini total lima unit armada siaga,” ujar Bupati Yusuf Ritangnga, Minggu (22/2/2026).
Utang Jadi Batu Ujian
Meski sejumlah program mulai direalisasikan, Ucu mengakui beban utang menjadi tantangan utama pemerintahannya. “Hingga tahun 2025, Pemkab Enrekang baru mampu melunasi Rp 30,7 miliar. Efisiensi anggaran dari pemerintah pusat serta beban utang jangka pendek dan panjang menjadi faktor penghambat,” ungkapnya. Keterbatasan fiskal tersebut berdampak pada percepatan pembangunan yang belum bisa maksimal di berbagai sektor.
Namun Ucu menegaskan komitmennya untuk tetap menjalankan visi “Enrekang Sejahtera untuk Semua”, meski dalam kondisi ruang anggaran yang sempit. “Pencapaian di tengah beban utang ini menunjukkan adanya upaya mitigasi krisis tanpa mengabaikan janji kampanye,” tegasnya.
Wakil Bupati Andi Tenri Liwang La Tinro mengatakan program prioritas mulai direalisasikan, meski belum optimal. “Alhamdulillah satu per satu program kita mulai dilaksanakan di tahun pertama. Memang belum maksimal karena kondisi kita, tapi kami tidak mau mengalah dengan keadaan ini,” ujarnya.
Publik Menanti Terobosan
Memasuki tahun kedua pemerintahan Ucu–Iwan, publik kini menanti langkah konkret untuk mempercepat pelunasan utang sekaligus menjaga kesinambungan pembangunan. Satu tahun pertama menunjukkan upaya bertahan di tengah tekanan fiskal. Namun tantangan ke depan bukan sekadar menjalankan program, melainkan memastikan Enrekang benar-benar keluar dari jerat utang dan kembali memiliki ruang gerak pembangunan yang lebih luas.





