Perang Amerika Serikat dan Israel Melawan Iran Terus Memanas
Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran semakin memanas. Seperti yang diketahui, AS dan Israel melakukan serangan gabungan dengan menargetkan beberapa wilayah di Iran. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama dengan beberapa komandan tinggi, meninggal dunia akibat serangan tersebut. Bahkan, putri, menantu, dan cucu Khamenei juga menjadi korban tewas dalam serangan tersebut.
Iran segera melancarkan serangan balasan dengan menargetkan pangkalan militer AS dan wilayah Israel. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengaku bahwa ia belum selesai menyerang Iran. Trump berjanji untuk terus melanjutkan misi melawan Iran hingga semua tujuan tercapai. Meski demikian, Trump tidak menyangkal bahwa akan ada lebih banyak korban jiwa di antara pasukan AS dalam agresi melawan Iran.
Pernyataan Trump disampaikan melalui video yang diunggah ke akun Truth Social miliknya pada hari Minggu (1/3/2026). Dalam video tersebut, Trump berkata:
“Sebagai satu bangsa, kita berduka atas para patriot Amerika sejati yang telah memberikan pengorbanan tertinggi untuk bangsa kita, bahkan saat kita melanjutkan misi mulia yang untuknya mereka mengorbankan nyawa mereka.”
“Dan sayangnya, kemungkinan akan ada lebih banyak lagi sebelum ini berakhir,” katanya.
Trump menyebut perang melawan Iran sebagai respons terhadap ancaman eksistensial bagi AS. Menurutnya, rezim Iran yang dipersenjatai dengan rudal jarak jauh dan senjata nuklir akan menjadi ancaman mengerikan bagi setiap warga Amerika. Namun, pihak AS belum memberikan bukti bahwa Iran sedang mengembangkan rudal jarak jauh dan senjata nuklir.
“Begitulah adanya kemungkinan akan ada lebih banyak lagi, tetapi kami akan melakukan segala yang mungkin agar hal itu tidak terjadi.”
Sebenarnya, Teheran telah lama membantah upaya memiliki senjata mematikan tersebut. Bahkan, para ahli memperkirakan bahwa jika Iran memang berupaya memiliki senjata nuklir, pengembangannya masih akan memakan waktu beberapa tahun lagi.
AS melancarkan serangannya bersama Israel di tengah-tengah pembicaraan AS-Iran yang sedang berlangsung mengenai program nuklirnya. Trump juga menyinggung tiga personel militer AS yang dipastikan tewas pada hari Minggu di tengah pembalasan regional Iran.
“Tetapi Amerika akan membalas kematian mereka, dan memberikan pukulan paling telak kepada para teroris yang telah melancarkan perang melawan, pada dasarnya, peradaban.”
Intelijen AS Melacak Lokasi Khamenei Selama Berbulan-bulan
Dilansir dari New York Times, intelijen AS hingga CIA terus melacak Khamenei selama berbulan-bulan. “Dan semakin yakin tentang lokasi dan pola perilakunya,” tulis New York Times berdasarkan beberapa sumber.
CIA pun mengetahui bahwa pertemuan para pejabat tinggi Iran akan berlangsung pada Sabtu pagi di kompleks Khamenei di Teheran. Selanjutnya, CIA meneruskan informasi intelijennya tentang posisi Khamenei kepada Israel. Hingga akhirnya operasi militer Amerika Serikat dan Israel dijalankan.
Rencana awal serangan ke lokasi Khamenei akan dilakukan pada malam hari. Namun, berbekal informasi intelijen bahwa Khamenei akan rapat dengan para petinggi militer pada Sabtu pagi, serangan pun langsung diluncurkan.
Operasi dimulai sekitar pukul 6 pagi di Israel, ketika jet tempur lepas landas dari pangkalan mereka. Serangan itu hanya membutuhkan sedikit pesawat, tetapi mereka dipersenjatai dengan amunisi jarak jauh dan sangat akurat.
Dua jam lima menit setelah jet-jet lepas landas, sekitar pukul 9:40 pagi di Teheran, rudal jarak jauh menghantam kompleks tersebut. Pada saat serangan terjadi, para pejabat senior keamanan nasional Iran berada di salah satu gedung di kompleks tersebut. Ayatollah Khamenei berada di gedung lain di dekatnya.
Jenazah Khamenei ditemukan di bawah reruntuhan kompleksnya. Pada Minggu (1/3/2026), kantor berita Iran, IRNA, mengkonfirmasi kematian Komandan Garda Revolusi Iran Mohammad Pakpour, Sekretaris Dewan Pertahanan Iran, Ali Shamkhani, serta Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa 48 pemimpin Iran tewas dalam serangan AS-Israel itu. “Tidak ada yang percaya dengan kesuksesan yang kita raih. 48 pemimpin telah lengser sekaligus. Dan prosesnya berlangsung dengan cepat,” kata Presiden AS saat berbicara kepada Fox News.





