Eskalasi Konflik Iran dengan AS dan Israel
Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel memasuki tahap yang lebih intensif. Dalam 24 jam terakhir, serangan-serangan terjadi di berbagai titik strategis di kawasan Timur Tengah, mulai dari Siprus hingga Selat Hormuz.
Drone Iran Menyerang Pangkalan Militer Inggris di Siprus
Pada dini hari Senin (2/3), sebuah drone Iran menyerang Pangkalan Angkatan Udara Inggris RAF Akrotiri di Siprus. Presiden Siprus Nikos Christodoulides menyatakan bahwa wahana nirawak jenis Shahed tersebut menyebabkan kerusakan material ringan di fasilitas militer Inggris.
Insiden ini terjadi beberapa jam setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa negaranya tidak akan bergabung dalam konflik ofensif AS dan Israel melawan Iran. Dalam video yang diposting di platform X, Starmer berkata: “Saya ingin sangat jelas, kita semua ingat kesalahan Perang Irak. Dan kita telah belajar dari pelajaran itu.”

Menteri Urusan Timur Tengah Inggris Hamish Falconer menegaskan bahwa Inggris tidak terlibat dalam serangan awal ke Iran. “Inggris tidak sedang berperang,” tegasnya. Namun, London mengakui telah mengizinkan penggunaan pangkalan militernya untuk tindakan defensif terbatas atas permintaan AS.
Menteri Dalam Negeri Yvette Cooper menyatakan sekitar 300 ribu warga Inggris berada di kawasan Teluk yang kini menjadi sasaran Iran. Pemerintah Inggris pun menyiapkan opsi perlindungan dan evakuasi.

Serangan Terhadap Kapal di Selat Hormuz
Ketegangan juga meluas ke jalur perdagangan energi global. Badan Keamanan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan tiga kapal diserang di Selat Hormuz pada Minggu (1/3). Dua kapal dihantam proyektil tak dikenal dan mengalami kebakaran, meski api berhasil dipadamkan.
Satu ledakan lain terjadi sekitar 35 mil laut dari Sharjah, Uni Emirat Arab. Seluruh kru dilaporkan selamat. Televisi pemerintah Iran menyebut sebuah kapal tanker minyak yang disebut “melanggar” kini tenggelam setelah terkena serangan saat melintas secara ilegal.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan global. Sekitar seperempat pasokan minyak dunia dan seperlima LNG global melintasi selat tersebut.
Sehari sebelumnya, Garda Revolusi Iran mengumumkan penutupan jalur pelayaran di wilayah itu, memperingatkan kawasan menjadi berbahaya akibat serangan AS dan Israel.

Ledakan di Doha dan Dubai
Situasi makin genting setelah sekitar enam ledakan terdengar di Doha, Qatar, pada Senin pagi. Media Al Jazeera melaporkan ledakan tersebut diduga bagian dari gelombang serangan terbaru Iran. Belum ada pernyataan resmi pemerintah Qatar.
CNN juga melaporkan ledakan di Dubai, Uni Emirat Arab. Baik Qatar maupun UEA merupakan lokasi pangkalan militer AS di kawasan. Serangan ini terjadi setelah AS membantu Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir pekan lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat Iran lainnya.

Iran Klaim Menembakkan Rudal Kheibar ke Israel
Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeklaim telah menembakkan rudal jarak menengah Kheibar dengan jangkauan sekitar 4.000 km. IRGC menyebut targetnya adalah kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta kompleks petinggi Angkatan Udara Israel.
Namun laporan jurnalis AFP menyebut ledakan yang terdengar di Tel Aviv berasal dari rudal yang berhasil dicegat sistem pertahanan udara Israel sebelum mencapai sasaran.

Roket Menghantam Yerusalem
Iran juga dilaporkan meluncurkan roket yang menghantam Yerusalem pada Minggu (1/3). Salah satu serangan menciptakan kawah di jalan dan merusak kendaraan di sekitar lokasi. Sirene serangan udara sempat berbunyi di Yerusalem Barat setelah militer Israel mendeteksi peluncuran rudal dari Iran.





