Jayus Buka Kisah Wali Gembyang, Penerus Sunan Katong yang Menyebarluaskan Islam di Kendal

1711918175
1711918175

Sejarah dan Peran Wali Gembyang dalam Penyebaran Islam di Kendal

Pohon Kendal yang berdiri megah di sebelah makam Wali Gembyang di kelurahan Patukangan Kecamatan Kendal, menjadi saksi bisu dari perjuangan para wali dalam menyebarkan ajaran agama Islam. Bunga-bunga yang jatuh akibat angin menunjukkan keindahan alami tempat ini, namun di balik itu tersimpan kisah-kisah legendaris yang terkait dengan perjalanan dakwah para tokoh spiritual.

Konon, pohon ini memiliki usia ribuan tahun dan menyimpan jejak penyebaran Islam oleh Wali Hasan Abdullah atau lebih dikenal dengan nama Eyang Pakuwojo. Menurut cerita, Pakuwojo sempat bersembunyi di dalam pohon tersebut untuk menghindari serangan pasukan Mataram. Meski begitu, pohon ini akhirnya terbakar karena diketahui lokasinya. Dengan kesaktiannya, Pakuwojo berhasil menyelamatkan diri, sementara anak-anaknya dititipkan kepada Wali Gembyang.

Menurut juru kunci makam Wali Gembyang, Muhammad Jayus Asrori, kisah perjuangan Mbah Gembyang bersama Sunan Katong terjadi sekitar tahun 1628 M. Ia menjelaskan bahwa perjuangan dakwah Mbah Gembyang cukup lama dan berkontribusi besar dalam membangun pondasi religius di Kabupaten Kendal.

Wali Gembyang adalah sosok ulama asal Timur Tengah yang pernah menyebarkan Islam di Cina. Nama aslinya adalah Hamzah, dan sering dipanggil Han Byan oleh masyarakat setempat. Namun, dalam bahasa Jawa, panggilan tersebut berubah menjadi “Gembyang”. Setelah berdakwah di Cina, ia kemudian melanjutkan perjalanan dakwahnya ke Kendal.

Selama masa berdakwah, Wali Gembyang dikenal sebagai sosok yang ramah, sederhana, dan sopan. Ia juga dihormati oleh masyarakat di Kabupaten Kendal. Meski tidak diketahui secara pasti kapan Wali Gembyang wafat, ia tetap dikenang sebagai tokoh penting dalam sejarah Islam di daerah ini.

Dalam buku Aspek-aspek Budaya di Kabupaten Kendal, disebutkan bahwa Raja Demak, Raden Patah, meminta saudaranya Sunan Katong untuk menyebarkan Islam di Kaliwungu. Keberhasilan Sunan Katong dalam menyebarkan ajaran Islam dengan corak sufistik membuat wilayah tersebut menjadi pusat keilmuan Islam di Kendal.

Di periode berikutnya, Wali Jaka dan Wali Gembyang juga meneruskan corak yang sama. Bahkan, menurut Jayus, Wali Gembyang memiliki kelinuwehan atau kelebihan khusus berupa perkataannya yang mujarab. Dalam bahasa Jawa, hal ini dinyatakan sebagai mandi ucape (manjur ucapannya).

Hingga kini, makam Wali Gembyang yang berada di sebelah utara Alun-alun Kendal masih ramai dikunjungi peziarah. Jayus bercerita bahwa setiap awal Ramadan, kompleks makam selalu dipadati oleh orang-orang dari berbagai daerah.

Selama bulan Ramadan, masyarakat dapat mengikuti pengajian kitab kuning rutin di kompleks makam tersebut. Di tanggal 9 Syawal juga digelar haul Mbah Wali Gembyang, yang biasanya dihadiri ribuan peziarah.


Pos terkait