Sejarah Masjid Sabilulhuda ‘Boki Owutango’ di Gorontalo
Masjid Besar Sabilulhuda ‘Boki Owutango’ diyakini telah berdiri sejak tahun 1525 Masehi atau 946 Hijriah. Masjid ini memiliki kisah yang sangat terkait dengan Boki Owutango, putri Kerajaan Tamalate yang membangun masjid sebagai pusat pemerintahan. Ia kemudian menikah dengan Sultan Amay, dengan syarat Sultan dan pengikutnya memeluk Islam serta mendirikan masjid sebagai mahar.
Masjid Sabilulhuda ‘Boki Owutango’ terletak di persimpangan Jalan Raja Eyato, Jalan Samudera Pasai, dan Jalan Kutai, Kelurahan Tamalate, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Dari luar, bangunan masjid tampak kokoh dengan sentuhan arsitektur klasik yang masih dipertahankan. Namun, di balik itu tersimpan kisah panjang tentang awal masuknya Islam di Gorontalo.
Ketua Takmirul Masjid Besar Sabilulhuda ‘Boki Owutango’, Rustam Yahya, menyebut masjid ini memiliki akar sejarah yang sangat tua. Menurutnya, penetapan tahun tersebut bukan sekadar cerita turun-temurun. Ada bukti autentik yang ditemukan saat renovasi masjid.
Dahulu, masyarakat sekitar belum mengetahui secara pasti kapan masjid itu berdiri. Namun, ketika dilakukan pembongkaran bagian atap saat renovasi, ditemukan petunjuk penting. “Ketika pekerja membongkar bagian atas atap, ditemukan semacam payung kayu,” ungkapnya. Payung kayu tersebut disebut sebagai satu-satunya yang ada di Gorontalo. Pada ukiran kayu itu tertera tahun pembangunan masjid.
Awalnya, masjid ini hanya bernama Masjid Besar Sabilulhuda. Nama ‘Boki Owutango’ baru disematkan kemudian, seiring penguatan kisah sejarah yang berkembang di masyarakat.
Rustam menjelaskan bahwa Tamalate dahulu merupakan sebuah kerajaan. Kerajaan Tamalate berada di bawah kekuasaan Kerajaan Gowa, Makassar. Kata Tamalate sendiri berarti “tidak luntur”. Dalam perjalanan sejarah, wilayah ini kemudian beralih ke kekuasaan Kerajaan Ternate.
Saat berada di bawah Ternate, diutuslah seorang putri untuk memimpin Tamalate. Putri itu bernama Boki Owutango, anak dari Ogoh Mojoloh, Raja Palasa. Dalam bahasa Tomini, “Boki” berarti putri.
Kisah Boki Owutango
Pada awal kedatangannya ke Gorontalo, Boki Owutango membangun masjid di Tamalate yang saat itu menjadi pusat pemerintahan. “Ketika Boki Owutango menjadi raja di sini, hal pertama yang ia dirikan adalah masjid sebagai pusat pemerintahan,” tegas Rustam.
Dalam perjalanan sejarah Gorontalo, terdapat dua versi mengenai masjid tertua. Versi pengurus Masjid Hunto Sultan Amay menyebut masjid tersebut dibangun pada 1495. Sementara versi pengurus Masjid Sabilulhuda menyebut tahun 1525 sebagai tonggak berdirinya masjid mereka, dengan alur sejarah yang memiliki cerita tersendiri.
Perbedaan tersebut tidak dimaknai sebagai pertentangan, melainkan sebagai dinamika sejarah yang hidup di tengah masyarakat. Kisah Boki Owutango juga berkaitan erat dengan Sultan Amay, Raja Gorontalo.
Dalam penuturan Rustam, Boki Owutango kemudian dinikahi Sultan Amay. Sebelum pernikahan itu terjadi, ada syarat yang diajukan. Sultan Amay diminta memeluk Islam bersama para pengikutnya serta mendirikan masjid sebagai mahar. Masjid yang kemudian dibangun adalah Masjid Hunto Sultan Amay di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan.
Seiring waktu, Masjid Sabilulhuda telah mengalami renovasi besar sebanyak tiga kali. Meski demikian, bentuk arsitekturnya tetap dipertahankan menyerupai masjid-masjid kuno seperti Masjid Demak. Dahulu, ukuran masjid hanya 7×7 meter. Kini luasnya telah berkembang lebih dari dua kali lipat. Di ruang utama, empat tiang utama masih berdiri kokoh menyangga bangunan.
Beberapa peninggalan bersejarah masih tersimpan dan digunakan hingga kini, seperti tongkat di mimbar, beduk, serta sumur tua. Sementara sejumlah benda peninggalan lain berada di rumah warga yang disebut sebagai turunan terakhir Raja Tamalate. “Itu rumah pernah jadi kediaman Raja Tamalate pada generasi terakhir,” jelasnya.
Tentang akhir kehidupan Boki Owutango, cerita yang berkembang juga beragam. Ada yang menyebut ia tetap berada di Gorontalo namun makamnya tidak diketahui. Ada pula yang meyakini ia kembali ke Kerajaan Ternate setelah terjadi persoalan dengan Sultan Amay.
Di tengah berbagai versi tersebut, Masjid Sabilulhuda ‘Boki Owutango’ tetap berdiri sebagai penanda jejak sejarah panjang Gorontalo. Bukan sekadar bangunan ibadah, tetapi juga saksi bisu pertemuan kerajaan, dakwah Islam, serta dinamika sejarah yang terus hidup dalam ingatan masyarakat.





