Berita Terkini: Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Dikabarkan Tewas dalam Serangan Rudal Israel
Mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, dikabarkan tewas dalam serangan rudal yang dilancarkan oleh Israel ke ibu kota Teheran pada hari Sabtu (28/2/2026). Informasi ini muncul setelah rudal Israel menghantam rumahnya di Narnak, bagian timur laut Teheran. Selain Ahmadinejad, sejumlah pengawalnya juga dikabarkan ikut tewas dalam serangan tersebut.
Menurut laporan media yang dekat dengan Garda Revolusi Iran, tiga pengawal Ahmadinejad yaitu Mehdi Mokhtari, Mostafa Azizi, dan Hassan Masjedi, meninggal dalam serangan yang disebut sebagai operasi bersama antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Laporan dari kantor berita Mashreq News menyatakan bahwa serangan tersebut menargetkan kantor mantan presiden di wilayah timur Teheran. Sementara itu, ILNA melaporkan bahwa serangan tersebut menghancurkan kediaman Ahmadinejad di Narnak.
Beberapa sumber internasional, termasuk Jerusalem Post, menyebutkan bahwa serangan tersebut kemungkinan terjadi pada malam hari hari Sabtu. Meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak Iran, informasi ini memicu spekulasi tentang peran Ahmadinejad dalam politik Iran dan hubungan negara tersebut dengan negara-negara Barat.
Rekam Jejak Mahmoud Ahmadinejad
Mahmoud Ahmadinejad dikenal sebagai tokoh yang sangat merakyat dan sederhana. Ia lahir dengan nama Mahmoud Saborjhian pada 28 Oktober 1956 di desa Aradan, dekat Garmsar, Iran. Ayahnya, Ahmad Saborjhian, adalah seorang pandai besi. Ahmadinejad adalah anak keempat dari tujuh bersaudara.
Sebagai mahasiswa, Ahmadinejad aktif dalam organisasi dan menjadi salah satu penggerak aksi demonstrasi selama Revolusi Iran pada 1978-1979. Ia juga bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran dan turut serta dalam Perang Irak-Iran (1980-1988).
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) pada 1976, ia menjadi dosen di kampus tersebut pada 1989. Pada 1993, ia ditunjuk sebagai penasihat di kementerian kebudayaan dan pendidikan tinggi. Pada 1997, ia menjadi gubernur Provinsi Ardabil.
Pada 2003, Ahmadinejad membantu berdirinya Partai Pengembang Islam Iran. Partai ini memenangkan pemilihan dewan kota di Teheran dan menunjuk Ahmadinejad sebagai wali kota. Sebagai wali kota, ia dikenal berhasil mengatasi masalah lalu lintas dan menekan harga. Beberapa kebijakan yang diambilnya termasuk menutup restoran cepat saji ala Barat dan mengubah fungsi pusat budaya menjadi aula sembahyang selama Ramadhan.
Menjadi Presiden Iran
Pada 2005, Ahmadinejad mencalonkan diri sebagai presiden dengan dukungan penuh dari para pemimpin konservatif. Ia menawarkan program yang menitikberatkan pada keadilan sosial dan anti-korupsi. Dalam pemilihan, ia memenangkan suara telak dengan 17 juta dari total 27 juta suara. Dia dilantik sebagai presiden pada 3 Agustus 2005 oleh Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai presiden, Ahmadinejad tetap menampilkan dirinya sebagai tokoh yang merakyat. Ia ingin tinggal di rumah pribadinya daripada istana kepresidenan. Setelah dipaksa pindah, ia mengganti perabotan istana dengan yang lebih sederhana. Ia juga menolak menggunakan kursi VIP di pesawat kepresidenan dan lebih memilih pesawat kargo.
Di mata internasional, Ahmadinejad dikenal atas sikap kerasnya terhadap program nuklir Iran. Pada pidatonya di hadapan PBB pada 2005, ia menyatakan keinginan Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir secara damai. Pada 2007, Iran mulai memproduksi bahan bakar nuklir dalam skala industri, yang memicu sanksi internasional.
Akhir Masa Jabatan
Meskipun mendapat dukungan dari rakyat, kebijakan ekonomi Ahmadinejad dan hubungan dengan elit politik membuat posisinya rentan. Pada 2009, ia memenangkan pemilu dengan suara yang besar, meskipun ada protes dari pendukung Mir Hossein Mousavi. Pemilu tersebut memicu demonstrasi dan dugaan kecurangan.
Pada 2011, terjadi konfrontasi antara Ahmadinejad dengan Ayatollah Ali Khamenei. Pada 2012, ia dipanggil oleh Majelis Iran karena perselisihan dengan pemimpin tertinggi. Pemanggilan ini menjadi yang pertama kali terjadi, memicu dugaan akan menurunnya dukungan politik terhadapnya.
Akhir masa jabatannya berakhir pada Agustus 2013 ketika dia digantikan oleh Hassan Rouhani. Setelah tidak lagi menjabat, Ahmadinejad kembali tinggal di rumah pribadinya di Narnak. Pada 2017, ia sempat dikabarkan akan kembali maju dalam pemilihan presiden, namun didiskualifikasi. Pada Januari 2018, ia dikabarkan ditangkap karena dianggap memicu aksi protes dan demonstrasi.





