Kabar Duka: Wakil Presiden ke-6 RI, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno Meninggal Dunia
Kabar duka datang dari dunia politik dan militer Indonesia. Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, meninggal dunia pada Senin, 2 Maret 2026, pagi hari. Ia menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto pada pukul 06.58 WIB.
Try Sutrisno lahir pada 15 November 1935 di Surabaya, Jawa Timur. Ia menghembuskan nafas terakhir di usia 90 tahun, setelah menjalani perjalanan hidup yang penuh dengan dedikasi dan kontribusi besar bagi bangsa dan negara.
Profil Singkat Try Sutrisno
Ayahnya, Subandi, adalah seorang sopir ambulans, sedangkan ibunya, Mardiyah, adalah seorang ibu rumah tangga. Pendidikan dasar dan menengahnya dilakukan di Surabaya. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) 2 Surabaya, ia melanjutkan studi ke Sekolah Menengah Atas (SMA) 2 Surabaya.
Pada usia 13 tahun, ketika Belanda kembali melakukan agresi militer, Try Sutrisno ingin bergabung dengan Batalyon Poncowati untuk ikut berperang. Namun karena tidak ada yang menganggap serius keinginannya, ia hanya dipekerjakan sebagai kurir. Tugasnya adalah mencari informasi dari daerah-daerah yang diduduki tentara Belanda serta mengambil obat untuk Angkatan Darat Indonesia.
Setelah Belanda mundur pada 1949, Try dan keluarganya kembali ke Surabaya. Di sana, ia melanjutkan pendidikannya hingga lulus SMA di usia 21 tahun. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad), yang selesai pada tahun 1959.
Riwayat Karier
Kariernya di militer dimulai ketika ia ditugaskan dalam peperangan melawan pemberontak Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada 1957. PRRI adalah kelompok separatis yang berbasis di Sumatera, yang ingin membentuk pemerintahan alternatif di luar pemerintahan Soekarno.
Pada 1972, ia dikirim ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat. Tahun berikutnya, pada 1974, ia terpilih menjadi ajudan Presiden Suharto. Sejak saat itulah kariernya di militer mulai meroket.
Pada 1978, Try diangkat sebagai Kepala Staf KODAM XVI/Udayana. Setahun kemudian, ia menjadi Panglima KODAM IV/Sriwijaya. Sebagai Pangdam, ia aktif menekan tingkat kejahatan serta menghentikan penyelundupan timah. Ia juga aktif dalam kampanye lingkungan untuk mengembalikan Gajah Sumatera ke habitat asli mereka.
Pada 1982, ia dipindahkan ke Jakarta sebagai Panglima KODAM V/Jaya. Tahun 1985, ia diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Setahun kemudian, pada 1986, ia menjadi KSAD. Jabatan ini berlangsung selama dua tahun.
Pada 1988, ia diangkat menjadi Panglima ABRI, jabatan tertinggi dalam karier militer. Masa jabatannya sebagai Panglima ABRI berakhir pada 1993.
Masa Jabatan sebagai Wakil Presiden
Meskipun masa jabatannya sebagai Panglima ABRI berakhir, kariernya tidak berhenti. Pada tahun yang sama, 1993, ia diangkat menjadi Wakil Presiden RI, mendampingi Presiden Suharto. Sebagai Wakil Presiden ke-6, ia menjabat hingga 1998, sebelum posisinya digantikan oleh B. J. Habibie menjelang reformasi.
Setelah masa jabatannya sebagai Wakil Presiden berakhir, Try Sutrisno tetap aktif memantau perkembangan pemerintahan. Ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat presiden, ia membentuk forum Gerakan Nusantara Bangkit Bersatu, yang diisi oleh tokoh-tokoh seperti Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan lainnya.
Perjalanan Hidup yang Penuh Dedikasi
Try Sutrisno meninggalkan jejak yang kuat dalam sejarah bangsa Indonesia. Dari awal kariernya sebagai anggota militer hingga menjadi Wakil Presiden, ia selalu menunjukkan komitmen terhadap negara dan rakyat. Kehidupannya yang penuh perjuangan dan dedikasi akan selalu dikenang oleh masyarakat Indonesia.





