Jejak Kekuasaan Ali Khamenei: Perang Melawan Shah dan Lahirnya Revolusi Islam Iran

1768385931 A6ccd9e95818f70283cb
1768385931 A6ccd9e95818f70283cb

Kabar Meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei

Kabar duka mengguncang dunia internasional setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dinyatakan tewas dalam serangan udara di Teheran pada Sabtu (28/2/2026). Informasi ini pertama kali disampaikan oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui platform media Social Truth. Setelah beberapa jam, kabar tersebut dikonfirmasi oleh media lokal Iran seperti Tasnim dan Fars.

Ali Khamenei lahir di kota Mashhad pada 19 April 1939. Ia adalah putra kedua dari Sayyed Javad Khamenei, seorang ulama yang dikenal sederhana dan rendah hati. Meskipun hidup dalam kondisi kekurangan, ia diajarkan untuk menjalani kehidupan yang sederhana dan penuh kesadaran spiritual. Pendidikan awalnya dilakukan di Maktab, sekolah dasar tradisional yang fokus pada pembelajaran alfabet dan Al-Qur’an. Setelah itu, ia melanjutkan studinya di sekolah Islam dan kemudian menempuh pendidikan teologi di seminari Mashhad.

Perjalanan Politik dan Revolusi Islam

Ali Khamenei tidak hanya menjadi tokoh agama, tetapi juga sosok sentral dalam perlawanan terhadap rezim Shah yang pro-Barat. Sejak masa remaja, ia terinspirasi oleh orasi kritis Nawwab Safavi, seorang ulama yang vokal menentang kebijakan Shah. Pada tahun 1962, ia bergabung dengan barisan pengikut Imam Khomeini, yang merupakan pemimpin revolusi Islam. Langkah ini menandai penolakan terbuka terhadap kebijakan rezim Shah yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Selama 16 tahun, Khamenei aktif dalam gerakan bawah tanah hingga kekuasaan Shah jatuh. Dedikasinya membuatnya dipercaya oleh Imam Khomeini untuk menjalankan misi rahasia, termasuk menyampaikan pesan koordinasi antara tokoh-tokoh ulama.

Penangkapan, Penyiksaan, dan Pengasingan

Dedikasi terhadap revolusi tidak datang tanpa konsekuensi. Khamenei sering berurusan dengan otoritas keamanan, termasuk penahanan di Penjara SAVAK selama berbulan-bulan. Setelah bebas, ia dilarang memberikan ceramah umum atau membuka kelas-kelas keagamaan. Akibat aktivitas politik rahasianya yang terendus SAVAK, ia diasingkan selama tiga tahun.

Menjadi Pemimpin Republik Islam

Pada tahun 1989, setelah kematian Ayatollah Ruhollah Khomeini, Ali Khamenei mengambil alih kepemimpinan Republik Islam. Ia membangun aparat militer dan paramiliter Iran. Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, ia telah memimpin Iran sebagai presiden selama perang berdarah dengan Irak pada tahun 1980-an.

Konflik yang berkepanjangan, ditambah dengan isolasi di antara warga Iran karena dukungan negara-negara Barat terhadap Saddam Hussein, memperdalam ketidakpercayaan Khamenei terhadap Barat, terutama Amerika Serikat.

Masa Berkabung Nasional

Setelah kematian Khamenei, Iran mendeklarasikan 40 hari masa berkabung nasional dan tujuh hari libur nasional. Namun, hingga saat ini, detail mengenai kematian pemimpin tertinggi negara tersebut belum dijelaskan secara rinci oleh pihak berwenang.


Pos terkait