Peran Ayatullah Ali Khamenei dalam Menentang Israel
Ayatullah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, telah menjadikan penolakan terhadap keberadaan negara Israel sebagai salah satu pilar utama kebijakan luar negeri Teheran. Selama empat dekade memimpin, ia konsisten menyuarakan dukungan terhadap perjuangan bangsa Palestina dan menentang dominasi Israel di kawasan Timur Tengah.
Dukungan Terhadap Perjuangan Palestina
Sejak menggantikan Ayatullah Ruhollah Khomeini pada 1989, Khamenei selalu menekankan pentingnya solidaritas dengan rakyat Palestina. Dalam berbagai pidato publiknya, ia sering menyebut Israel sebagai “pasukan teroris yang menindas hak rakyat Palestina.” Bahkan dalam pidato Hari Quds yang dipublikasikan pada 2020, ia menyatakan bahwa “Rezim Zionis adalah tumor ganas dan harus dicabut serta dihancurkan.”
Khamenei tidak hanya menyampaikan retorika, tetapi juga melakukan tindakan nyata untuk mendukung perjuangan Palestina. Ia secara rutin menggelar konferensi internasional untuk mendukung kemerdekaan bangsa Palestina. Contohnya, pada Februari 2017, Iran menjadi tuan rumah Konferensi Internasional ke-6 Mendukung Perjuangan Bangsa Palestina, di mana ia mengimbau negara-negara dan pencari kemerdekaan di seluruh dunia untuk membantu rakyat Palestina.

Warga Iran mengambil bagian dalam unjuk rasa protes anti-AS dan Israel di Lapangan Palestina di Teheran, Iran, 09 April 2025. – (EPA-EFE/ABEDIN TAHERKENAREH)
Penolakan terhadap Solusi Damai
Khamenei tidak pernah menyuarakan dukungan terhadap solusi damai dalam bentuk normalisasi hubungan dengan Israel. Sebaliknya, ia menegaskan penolakan terhadap negosiasi dengan rezim Zionis dan menolak solusi yang menurutnya hanya memberi keuntungan kepada penjajah. Pada Juni 2025, ia menegaskan bahwa respons terhadap serangan Israel akan terus dilakukan dan Iran sama sekali tidak akan berunding dengan rezim Zionis tersebut.
Dalam pidato yang dikutip kantor berita resmi IRNA, Khamenei menegaskan bahwa “Perlawanan adalah satu-satunya jalan. Negosiasi dengan rezim Zionis tidak akan membawa kebebasan bagi Palestina.” Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya normalisasi hubungan sejumlah negara Arab dengan Israel beberapa tahun terakhir.
Kritik terhadap Perjanjian Abraham
Ketika beberapa negara Arab menandatangani kesepakatan normalisasi dengan Israel melalui Abraham Accords, Khamenei mengkritiknya secara terbuka. Dalam pidato 2020 yang dimuat kantor berita Tasnim, ia menyebut langkah tersebut sebagai “pengkhianatan terhadap dunia Islam dan Palestina.” Baginya, legitimasi Israel berarti mengabaikan penderitaan rakyat Palestina. Dalam satu kesempatan ia berkata, “Siapa pun yang berjabat tangan dengan rezim Zionis, pada hakikatnya menikam bangsa Palestina dari belakang.”
Perjanjian Abraham yang Kontroversial
Dukungan Strategis terhadap Kelompok Perlawanan
Salah satu ciri paling nyata dari perlawanan Khamenei terhadap Israel adalah dukungan strategis Tehran terhadap kelompok-kelompok perlawanan seperti Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon. Sejak peran awal Iran mendukung pembentukan dan pengembangan Hizbullah pada 1980-an saat konflik di Lebanon, jaringan dukungan ini menjadi salah satu jangkar kekuatan anti-Israel di kawasan.
Khamenei sering menyatakan bahwa kegigihan kelompok-kelompok ini dalam menolak dominasi Israel merupakan bukti ketidakmampuan rezim Zionis untuk menundukkan perlawanan Palestina. Pernyataan itu sekaligus menunjukkan bagaimana Tehran memandang konflik bukan hanya sebagai pertarungan politik, tetapi sebagai perlawanan yang memiliki dimensi eksistensial bagi dunia Islam.

Api berkobar di Tel Aviv sebagai dampak serangan Iran pada Sabtu (28/2/2026). – (Reuters)
Respons Tehran terhadap Serangan Israel
Tidak sekadar retorika, respons Tehran terhadap Israel juga terlihat dalam eskalasi serangan rudal dan drone yang dilancarkan oleh sekutu Iran terhadap Israel di beberapa kesempatan. Dalam sejumlah laporan, Garda Revolusi Iran menembakkan drone dan rudal ke wilayah Israel sebagai bagian dari konfrontasi yang berlangsung.
Selain itu, ketegangan yang meningkat sejak pecahnya perang Israel-Hamas pada Oktober 2023 memperlihatkan bagaimana Khamenei secara terbuka memuji serangan Hamas terhadap Israel, menyebutnya sebagai dorongan yang diperlukan untuk kawasan tersebut, meskipun menegaskan bahwa Iran tidak terlibat langsung dalam perencanaan taktisnya.
Pandangan Khamenei tentang Geopolitik
Bagi Khamenei, dukungan terhadap Palestina tidak hanya soal konflik bilateral dengan Israel, tetapi juga bagian dari agenda geopolitik yang lebih luas menghadapi dominasi Barat di Timur Tengah. Tehran menolak apapun bentuk dominasi yang menurutnya berasal dari kepentingan kekuatan adidaya seperti Amerika Serikat, yang selama ini menjadi sekutu utama Israel. Jalan yang ditempuh Khamenei adalah memperkuat jaringan negara dan kelompok yang menentang dominasi Barat dan Israel di kawasan — sebagai bentuk perlawanan kolektif.
Sikap keras Khamenei terhadap Israel tidak lepas dari kritik internasional. Bahkan beberapa pihak di dunia Arab sendiri sempat menyampaikan kritik terhadap komentar Khamenei soal dukungan terhadap serangan tertentu oleh Hamas. Namun bagi Teheran, posisi ini adalah konsistensi dalam menolak apa yang dianggap sebagai penjajahan modern dan penindasan terhadap bangsa Palestina. Dalam pandangan Khamenei, solidaritas terhadap rakyat Palestina merupakan kewajiban moral dan historis yang tidak bisa dikompromikan.





