Jejak Karier dan Legasi Jenderal Try Sutrisno
Try Sutrisno adalah sosok penting dalam sejarah Indonesia, khususnya pada masa Orde Baru. Ia meninggalkan jejak yang mendalam baik di bidang militer maupun politik. Kecintaannya terhadap bangsa dan negara terlihat dari berbagai peran yang ia emban sepanjang hidupnya. Sayangnya, ia mengembuskan napas terakhirnya pada Senin (2/3/2026) atau 12 Ramadan 1447 Hijriah, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. Usianya saat itu mencapai 90 tahun.
Kondisi kesehatannya menurun secara perlahan, meskipun tidak ada penyakit yang signifikan. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar serta seluruh masyarakat Indonesia yang mengenalnya sebagai tokoh yang memiliki dedikasi tinggi terhadap bangsa.
Perjalanan Karier Militer
Try Sutrisno lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 November 1935. Sejak awal karier militernya, ia menunjukkan potensi luar biasa. Ia pernah menjabat sebagai Panglima ABRI dari tahun 1988 hingga 1993, dan sebelumnya juga pernah menjadi KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat) dari 1986 hingga 1988. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Panglima Kodam V/Jaya dan Pangdam IV/Sriwijaya.
Kedekatannya dengan Presiden Soeharto dimulai ketika ia menjadi ajudan pribadi sang presiden. Awalnya, ia diterima sebagai taruna Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada 1956, dan langsung terlibat dalam operasi penumpasan Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Pada 1962, ia kembali terlibat dalam Operasi Pembebasan Irian Barat, yang merupakan momen penting dalam hubungan antara dirinya dan Soeharto.
Menjadi Wakil Presiden
Setelah pensiun dari TNI, Try Sutrisno dipercaya untuk menjabat sebagai Wakil Presiden ke-6 RI pada era Orde Baru. Ia mendampingi Presiden Soeharto dari 1993 hingga 1998. Dalam Sidang Umum MPR 1997, ia ditetapkan sebagai Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia. Ia dicalonkan oleh Fraksi ABRI MPR-RI, sebelum pilihan terbuka dari Presiden Soeharto dilakukan. Ia menjadi wakil presiden Soeharto yang ketiga dari kalangan militer, setelah Sudharmono.
Pada 1998, tugasnya sebagai wapres berakhir, dan digantikan oleh BJ Habibie. Setelah itu, ia tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan organisasi purnawirawan TNI. Ia juga pernah menjadi Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri) hingga 2003, serta Ketua Dewan Pembina Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).
Legasi untuk Anak-Anaknya
Try Sutrisno memiliki istri bernama Tuti Sutiawati, dan bersama pasangan ini dikaruniai tujuh orang anak. Berikut adalah sosok-sosok putra-putri Try Sutrisno:
-
Drg. Nora Tristyana, M.A.R.S.
Anak pertama Try Sutrisno, Nora, adalah seorang dokter gigi. Ia menikah dengan mantan Menteri Pertahanan RI Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu. -
Dr. Taufik Dwi Cahyono, M.Sc.
Anak kedua, Taufik, adalah seorang akademisi dan dosen di Universitas Pertahanan (Unhan) RI. Ia meraih gelar Doktor Ilmu Pertahanan di Unhan pada 2022. -
Irjen Pol (Purn) Firman Santyabudi
Firman Shantyabudi adalah anak ke-3 Try Sutrisno. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri dan merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1988. -
Nori Chandrawati
Nori Chandrawati adalah anak keempat Try Sutrisno. Ia menikah dengan Marsda TNI (Purn) Danang Hadiwibowo dan aktif sebagai Ketua Yayasan Krida Nusantara. -
Isfan Fajar Satrio
Anak kelima, Isfan, adalah Ketua Umum Persatuan Putra Putri Angkatan Darat (PPPAD) dan Ketua Pengawas Yayasan Krida Nusantara. -
Letjen TNI Kunto Arief Wibowo
Letjen Kunto Arief Wibowo adalah jenderal bintang 3 yang menjabat sebagai Pangkogabwilhan I. Ia lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1992 dan telah menjabat berbagai jabatan strategis di TNI AD. -
Natalia Indrasari
Anak bungsu Try Sutrisno, Natalia, adalah seorang psikolog keluarga di Amerika Serikat. Ia memiliki lisensi resmi di Iowa, Virginia, dan Hawaii.





