Jejak Syekh Hasan Munadi, Penyebar Islam di Ungaran dan Keajaiban Sendangnya

Aa1xetnp
Aa1xetnp

Jejak Syekh Hasan Munadi, Wali Penyebar Islam di Ungaran

Di tengah suasana yang tenang, suara lantunan ayat suci Al-Quran menggema di area makam Waliyyullah Hasan Munadi, Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Pada awal Ramadan ini, kompleks makam terlihat lebih sepi dibanding hari-hari biasa. Hanya beberapa peziarah yang duduk bersila di serambi, menundukkan kepala dan mengirimkan doa untuk sang wali yang diyakini sebagai penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Semarang.

Di sisi seberang, terdapat pula makam putranya, Syekh Hasan Dipuro. Kompleks pemakaman ini menjadi saksi perjalanan dakwah Islam yang telah berlangsung ratusan tahun silam. Penjaga makam, Arif Hidayat, menjelaskan bahwa sosok Syekh Hasan Munadi memiliki kisah panjang yang diwariskan secara turun-temurun.

“Beliau dikenal sebagai penyebar agama Islam di wilayah Kabupaten Semarang. Ada yang menyebut beliau putra Prabu Brawijaya V,” ujar Arif.

Menurut penuturan yang berkembang, Syekh Hasan Munadi pernah menimba ilmu di Surabaya kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Setelah dianggap cukup dalam ilmu agama, ia mendapat mandat untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah Semarang, sementara Raden Patah berdakwah di Demak.

Arif menjelaskan bahwa Syekh Hasan Munadi wafat di Ponorogo. Namun sebelum wafat, ia telah berwasiat kepada putranya, Syekh Hasan Dipuro, agar kelak dimakamkan di tempat yang kini menjadi kompleks makam di Nyatnyono.

“Beliau berpesan, kalau meninggal di mana saja, mohon dimakamkan di tempat yang sudah beliau tunjuk ini,” kata Arif.

Konon, pada malam 21 Ramadan, jenazah Syekh Hasan Munadi dipindahkan dari Ponorogo ke Nyatnyono untuk dimakamkan sesuai wasiatnya. Sejak saat itu, setiap tanggal 21 Ramadan digelar haul untuk mengenang jasa dan perjuangannya.

Pada malam haul, kawasan makam dipadati peziarah. Pengajian digelar di bawah kompleks makam, sementara di Masjid Subulussalam, yang merupakan peninggalan Syekh Hasan Munadi, diadakan tumpengan dan doa bersama.

Menurut Arif, pada masa Syekh Hasan Munadi berdakwah, masyarakat di wilayah tersebut masih banyak yang menganut Hindu dan Buddha. Dakwah dilakukan secara perlahan, dengan pendekatan budaya dan spiritual.

“Seperti para wali pada umumnya, beliau berdakwah dengan kebijaksanaan. Masyarakat yang sebelumnya abangan atau belum mengenal Islam, perlahan menerima ajaran Islam,” tuturnya.

Masyarakat meyakini banyak karomah dari Syekh Hasan Munadi. Salah satunya berkaitan dengan sendang yang terletak tak jauh dari kompleks makam.

Sendang tersebut mulai dikenal luas sejak 1980-an, bertepatan dengan rencana renovasi Masjid Subulussalam, peninggalan Syekh Hasan Munadi. “Pada waktu itu, ada tamu yang datang ke rumah Mbah Mat Watu Congol untuk meminta barokah. Tamu tersebut kemudian diminta mencari mata air yang arahnya berada di bawah makam Mbah Hasan Munadi,” ujarnya.

Tamu tersebut lantas menyusuri area di bawah makam hingga akhirnya menemukan sumber mata air yang kemudian dikenal sebagai Sendang Kalimah Tayyibah. Ia mandi di sendang tersebut dengan niat dan doa tertentu. Konon, setelah itu hajatnya diijabah. Sejak peristiwa itulah, sendang tersebut mulai ramai didatangi masyarakat dari berbagai daerah. Tidak hanya untuk berziarah, tetapi juga untuk bertawasul dan berdoa.

“Banyak yang meyakini air dari sendang itu membawa keberkahan. Ada yang datang berdoa, mandi dengan harapan diberi kesembuhan dari penyakit,” kata Arif.

Kini, Sendang Kalimah Tayyibah menjadi bagian tak terpisahkan dari kompleks makam Syekh Hasan Munadi. Keyakinan masyarakat terhadap karomah Syekh Hasan Munadi membuat makam dan sendang tak pernah sepi. Peziarah datang dari berbagai daerah, bahkan luar Pulau Jawa.

Pos terkait