Ratusan Jemaah Umrah Asal Indonesia Tertahan Akibat Konflik di Timur Tengah
Bandar Lampung – Puluhan ribu jemaah umrah asal Indonesia dilaporkan tertahan di luar negeri akibat konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Di wilayah Lampung, ratusan warga yang berangkat melalui salah satu biro travel juga dilaporkan belum dapat kembali ke tanah air.
Anggota DPRD Provinsi Lampung, Andika Wibawa Sepulau Raya, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi tersebut. Ia menilai bahwa konflik perang tidak bisa diprediksi sebelumnya dan telah menimbulkan kerugian serta kepanikan bagi para jemaah yang sedang menjalankan ibadah.
“Kami prihatin dengan kejadian ini. Konflik perang memang tidak kita duga sebelumnya, dan ini menimbulkan kerugian serta kepanikan bagi para jemaah yang sedang menjalankan ibadah,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (2/3/2026).
Menurut Andika, pemerintah pusat harus segera turun tangan untuk memberikan perlindungan kepada warga negara Indonesia yang saat ini tertahan dan tidak bisa pulang. Ia meminta pemerintah, termasuk perwakilan Indonesia di luar negeri seperti konsulat jenderal, segera melakukan pendataan terhadap seluruh jemaah yang terdampak.
“Minimal didata mana saja warga negara kita yang belum bisa pulang dan sampai kapan. Selama masa itu, pemerintah harus hadir memberikan perlindungan, baik dari sisi keamanan, tempat tinggal, hingga kebutuhan makanan,” tegasnya.
Andika menilai, kebutuhan hidup jemaah selama tertahan tidak boleh dibebankan kepada para peserta umrah. Sebab, tidak semua jemaah memiliki kemampuan finansial untuk bertahan dalam waktu yang belum pasti.
Ia juga mendorong pemerintah untuk tidak menunggu situasi normal sepenuhnya, melainkan melakukan langkah proaktif atau jemput bola untuk mengevakuasi warga. “Kalau memang sudah ada celah aman, pemerintah harus jemput bola. Tidak perlu menunggu maskapai reguler, bahkan jika perlu melalui jalur militer karena ini menyangkut keselamatan warga negara kita,” jelasnya.
Selain itu, Andika menegaskan biro travel yang memberangkatkan jemaah juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan keselamatan peserta dan tetap berkoordinasi dengan perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri.
Meski hingga saat ini belum ada aduan langsung dari keluarga jemaah kepada DPRD Lampung, Andika memastikan pihaknya terus menyoroti perkembangan situasi dan siap menindaklanjuti jika ada laporan dari masyarakat. Ia pun mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk turut mendoakan agar para jemaah yang saat ini tertahan bisa segera kembali ke tanah air dengan selamat.
“Kita semua berdoa semoga saudara-saudara kita yang terjebak konflik bisa segera pulang dan berkumpul kembali dengan keluarga mereka,” tandasnya.
Langkah-Langkah yang Harus Dilakukan Pemerintah
Pemerintah Indonesia harus segera merancang strategi evakuasi yang efektif dan cepat. Berikut beberapa langkah yang bisa diambil:
-
Pendataan Terperinci
Pemerintah perlu melakukan pendataan lengkap terhadap seluruh jemaah yang tertahan di luar negeri. Data ini akan menjadi dasar untuk menentukan prioritas evakuasi dan kebutuhan bantuan. -
Koordinasi dengan Pihak Luar Negeri
Perwakilan Indonesia di luar negeri, seperti konsulat jenderal, harus bekerja sama dengan pihak setempat untuk memastikan keamanan dan kenyamanan jemaah selama masa penundaan. -
Bantuan Logistik
Pemerintah perlu menyediakan bantuan logistik, seperti makanan, air minum, dan tempat tinggal sementara, agar jemaah tidak mengalami kesulitan ekonomi. -
Koordinasi dengan Maskapai Penerbangan
Pemerintah harus berkoordinasi dengan maskapai penerbangan untuk mencari solusi transportasi yang aman dan cepat. -
Kesiapan Jalur Militer
Jika memungkinkan, pemerintah harus mempertimbangkan penggunaan jalur militer sebagai alternatif evakuasi, terutama jika situasi darurat.
Keprihatinan Masyarakat dan Tantangan yang Dihadapi
Masyarakat Indonesia, khususnya di daerah seperti Lampung, sangat prihatin dengan kondisi para jemaah yang tertahan. Banyak keluarga yang khawatir dan ingin segera melihat anggota keluarga mereka kembali ke tanah air.
Tantangan utama yang dihadapi adalah ketidakpastian situasi di kawasan Timur Tengah. Konflik yang tidak terduga membuat banyak jemaah terjebak di luar negeri, tanpa kejelasan kapan mereka bisa pulang.
Selain itu, banyak jemaah yang tidak memiliki dana cukup untuk bertahan dalam waktu yang tidak pasti. Hal ini memperparah situasi dan membuat mereka lebih rentan terhadap risiko kehidupan yang sulit.
Oleh karena itu, pemerintah harus segera bertindak dengan langkah-langkah yang proaktif dan efektif. Dengan demikian, kepentingan warga negara Indonesia dapat terlindungi dan jemaah dapat segera kembali ke rumah dengan selamat.





