Jembatan Kramat Cipayung Amblas, Akses Jakarta Timur-Bekasi Tersendat

Jembatan Kampung Kramat Ambrol, Warga Kesulitan Beraktivitas

Jembatan yang menghubungkan wilayah Jakarta Timur dan Bekasi, yaitu Jembatan Kampung Kramat di Jalan Kampung Kramat, Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, mengalami kerusakan parah. Jembatan ini amblas total sejak Sabtu (28/2) dengan lubang yang cukup besar, yaitu sekitar 5 meter lebar dan 3 meter dalam. Akibatnya, akses mobil antara Jakarta dan Bekasi terputus.

Pemicu Kerusakan Jembatan

Meskipun jembatan sempat ditambal menggunakan aspal panas dan dingin oleh Suku Dinas Bina Marga Jakarta Timur agar lalu lintas tetap bisa berjalan, ternyata perbaikan tersebut tidak cukup kuat menahan beban kendaraan berat. Pada akhir pekan lalu, jembatan kembali ambrol setelah dilintasi kendaraan bermuatan besar.

Camat Cipayung, Diman, menjelaskan bahwa pihak otoritas setempat telah melakukan upaya penanganan dini. Namun, karena adanya beban berat yang terus-menerus melintasi jembatan, struktur yang tidak stabil membuat jembatan kembali runtuh.

“Awalnya sudah kami tambal aspal dan dibuka kembali. Tapi karena dilewati mobil-mobil besar, ternyata ambrol lagi sekitar 3-4 hari lalu. Kerusakannya bukan merosot ke dalam saja, tapi melebar,” ujar Diman saat meninjau lokasi.

Dampak Terhadap Lalu Lintas

Penutupan jembatan bagi kendaraan roda empat memicu kemacetan parah di jalur alternatif seperti Jalan Sumir dan Jalan Kampung Oyar. Volume kendaraan meningkat drastis, sehingga kapasitas jalan yang terbatas tidak mampu menampung arus lalu lintas yang dialihkan dari jembatan Kampung Kramat.

Lurah Setu melaporkan bahwa kemacetan menjadi pemandangan harian yang melelahkan bagi warga. “Dampaknya sangat padat di Jalan Sumir dan Jalan Kampung Oyar. Saya juga merasakan sendiri kepadatan itu. Instruksi penutupan ini memang harus diambil demi keselamatan warga agar tidak ada kendaraan yang terperosok,” tegas Diman.

Keluhan Warga Saat Bulan Ramadan

Kondisi ini sangat disayangkan oleh warga, terutama karena insiden amblasnya jembatan bertepatan dengan aktivitas warga di bulan Ramadan. Nur Ikhsan, salah satu warga sekitar, mengaku terkejut saat hendak melintas untuk mencari takjil atau ngabuburit bersama keluarga.

“Saya kaget kok ramai-ramai, pas dilihat ternyata jalannya sudah amblas. Padahal ini jalan utama kami kalau mau ke arah Bekasi atau sebaliknya,” kata Ikhsan.

Saat ini, warga secara swadaya memasang palang bambu dan garis kuning hitam sebagai penanda darurat. Hanya kendaraan roda dua yang diizinkan melintas secara bergantian dengan ekstra waspada, mengingat struktur tanah di sekitar lubang yang masih rawan bergeser.

Permintaan Perbaikan Segera Dilakukan

Masyarakat kini mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya Dinas Bina Marga, untuk segera melakukan rekonstruksi permanen. Jembatan ini merupakan urat nadi ekonomi dan mobilitas antara Jakarta Timur dan Bekasi.


Pos terkait