Pembangunan Jembatan Merah Putih di Desa Salube, Halmahera Utara
Jembatan yang menghubungkan Desa Salube dengan Kecamatan Loloda Kepulauan, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, kini hampir selesai dibangun kembali. Sebelumnya, jembatan ini terkena dampak banjir besar dan hanyut, sehingga menyebabkan gangguan besar dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Jembatan kayu yang sebelumnya digunakan warga telah hanyut pada 1 Desember 2025 akibat arus sungai yang deras. Saat itu, warga terpaksa turun ke sungai untuk membawa jenazah melewati aliran air yang sangat deras. Peristiwa ini sempat viral di media sosial dan menarik perhatian publik.
Untuk mencegah terulangnya insiden serupa, pemerintah desa bersama personel Brimob dari Kepolisian Daerah Maluku Utara melakukan pembangunan jembatan permanen secara swadaya. Proses pembangunan ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat dan bantuan teknis dari aparat kepolisian.
Kepala Desa Salube, Sabri Duduaka, menjelaskan bahwa pembangunan jembatan ini sangat penting bagi masyarakat. Ia mengatakan bahwa sebelumnya, jembatan hanya terbuat dari kayu dan mudah hanyut saat hujan deras. “Ketika jembatan hanyut, akses kami sangat terbatas. Bahkan sempat viral di media sosial saat warga bergotong royong menggotong jenazah menyeberangi sungai,” ujar Sabri saat dikonfirmasi via telepon.
Setelah kejadian tersebut, Kapolda Maluku Utara Irjen Pol Waris Agono bersama Dansat Brimob Polda Maluku Utara Kombes Pol Hendri Wira Suriyana membentuk tim untuk mempercepat pembangunan jembatan permanen. Sebanyak 17 personel Satbrimob dipimpin oleh Ipda Ikram Kadir dikerahkan untuk membantu proses pembangunan.
Proses pembangunan dimulai dari pengumpulan material batu sekitar 200 meter dari lokasi, pembuatan rangka cor tiang jembatan, hingga pemasangan papan sebagai material pendukung. Jembatan baru ini memiliki panjang sekitar 12 meter dan lebar 3 meter, dengan konstruksi beton yang dirancang lebih kokoh dan tahan terhadap arus sungai saat musim hujan maupun banjir.
“Saat ini progres pembangunan sudah hampir 90 persen, tinggal tahap pengecatan. Seluruh biaya pembangunan ditanggung oleh Bapak Kapolda dan Dansat Brimob. Kami sangat terbantu dengan adanya jembatan baru ini,” tambah Sabri.
Tokoh pemuda Desa Salube, Waldi Hi. Rauf, menilai pembangunan jembatan ini bukan sekadar proyek fisik, tetapi simbol keselamatan dan harga diri warga. “Kami tidak ingin kejadian 1 Desember terulang lagi. Ini bukan hanya soal akses, tetapi soal kemanusiaan. Jembatan ini adalah urat nadi desa. Anak sekolah, petani, ibu-ibu, hingga jenazah pun harus melewati jalur ini,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi kehadiran personel Brimob yang turun langsung membantu masyarakat. “Mereka tidak hanya datang sebagai aparat, tetapi sebagai saudara yang ikut bekerja, mengangkat batu, dan berkeringat bersama warga,” tambah Waldi.
Sementara itu, Dansat Brimob Polda Maluku Utara Kombes Pol Hendri Wira Suriyana mengatakan pembangunan jembatan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan pengabdian Brimob dalam mendukung pembangunan infrastruktur desa. Menurutnya, kolaborasi antara personel Brimob dan warga mencerminkan semangat gotong royong dalam mempercepat pembangunan demi kepentingan masyarakat.
“Melalui keterlibatan langsung di lapangan, Satuan Brimob Polda Maluku Utara menegaskan komitmennya dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur pedesaan sebagai bagian dari bakti sosial Polri yang berkelanjutan,” pungkasnya.





