Dampak Amblesnya Jembatan Sentong terhadap Layanan Darurat dan Transportasi Umum
Amblesnya Jembatan Sentong yang menghubungkan Bondowoso dengan Jember telah memberikan dampak signifikan terhadap berbagai layanan masyarakat, termasuk layanan darurat seperti ambulans dan Pemadam Kebakaran (Damkar). Peristiwa ini juga memengaruhi mobilitas transportasi umum yang biasa melewati jembatan tersebut.
Pengaruh terhadap Layanan Darurat
Jembatan Sentong merupakan jalur penting bagi pasien rujukan dari Bondowoso ke Jember, terutama untuk penanganan medis yang lebih kompleks. Selain itu, pasien dari Puskesmas wilayah selatan Bondowoso sering kali dirujuk ke RSUD dr. Koesnadi atau RS Bhayangkara di wilayah perkotaan, yang juga melintasi jembatan tersebut.
Masalah utama adalah lokasi Markas Komando (Mako) Damkar yang berada sangat dekat dengan lokasi kejadian, sekitar 200 meter di sisi selatan jembatan. Hal ini menyebabkan sejumlah armada dan peralatan Damkar harus dipindahkan ke kantor Pemkab Bondowoso yang berlokasi dekat Alun-alun Ki Bagus Asra.
Kabid Damkar Satpol PP Bondowoso, Vara Tedi, menjelaskan bahwa pindahan ini dilakukan agar layanan tetap cepat, terutama saat terjadi kebakaran atau kondisi darurat lainnya. “Tujuannya agar penanganan lebih cepat. Standar waktu penanganan efektif adalah 10-15 menit. Jika lebih dari itu, api dinilai akan sulit dikendalikan,” ujarnya.
Beberapa unit yang telah dipindahkan meliputi mobil Rescue, Sentro, dan Water Supply. Menurutnya, kendaraan Damkar yang besar membuat waktu tempuh menjadi jauh lebih lama jika harus memutar lewat jalur alternatif.
Ambulans Mengikuti Jalur Alternatif
Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso, dr. Moch. Jasin, menyatakan bahwa ambulans tetap mengikuti jalur alternatif sesuai arahan Dinas Perhubungan (Dishub). “Berbahaya jika dipaksakan melintas, kondisi jembatannya memang tidak memungkinkan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pihaknya akan berkoordinasi lebih lanjut dengan Dishub Bondowoso agar kendaraan prioritas seperti ambulans mendapatkan kemudahan saat melewati jalur alternatif. “Kami akan koordinasikan lagi, apakah ada jalur lain yang lebih memungkinkan untuk dilewati,” imbuhnya.
Untuk ambulans dari arah selatan, seperti Maesan dan Grujugan, diarahkan melewati Pemandian Tasnan dan tembus di Jalan Raya Tamanan. “Jalur itu relatif lebih lancar. Kalau lewat Nangkaan medannya lebih berat,” terangnya.
Dampak terhadap Transportasi Umum
Pangkalan angkutan umum jurusan Bondowoso-Arjasa juga terdampak karena lokasinya tepat berada di sisi selatan Jembatan Sentong. Muhammad Safi’i, salah satu sopir angkutan umum, mengaku sedang merencanakan pemindahan pangkalan ke area pertigaan Kelurahan Nangkaan.
Meski belum diputuskan, wacana ini tengah dimusyawarahkan oleh komunitas sopir. Para sopir merasa terbebani dengan biaya BBM yang membengkak jika harus memutar terlalu jauh. “Memutarnya jauh, lewat SMP 5 itu,” ujarnya.
Safi’i menyebut saat ini tersisa sekitar 30 armada angkutan Bondowoso-Arjasa. Setiap harinya, satu armada rata-rata hanya mengangkut 5-6 penumpang. Kondisi penumpang yang sepi ditambah pengeluaran BBM yang membengkak membuat para sopir ingin segera pindah lokasi pangkalan demi menjaga pendapatan utama mereka.
“Kami masih akan bermusyawarah dengan warga di Nangkaan,” pungkasnya.





