John Tobing, Pengarang Lagu Darah Juang, Tutup Usia di RSA UGM

1709341917
1709341917

Kabar Duka dari Dunia Musik dan Aktivisme Indonesia

Kabar duka datang dari dunia musik dan aktivisme Indonesia. John Tobing, pencipta lagu legendaris “Darah Juang” yang menjadi himne Gerakan Reformasi 1998, meninggal dunia di Rumah Sakit Akademik UGM pada Rabu malam. Kepergian sosok yang dikenal sebagai maestro lagu perjuangan itu meninggalkan duka mendalam, terutama bagi kalangan aktivis mahasiswa.

John Tobing lahir pada 1 Desember 1965 di Binjai, Sumatera Utara. Ia merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara pasangan Hakim Mangara Lumbantobing dan Adelina Sinaga. Sebagai alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada angkatan 1986, John dikenal aktif dalam berbagai gerakan mahasiswa sejak akhir 1980-an. Di kampus, ia ikut mendirikan Biro Pembelaan Hak Mahasiswa Filsafat (BPHMF) sebagai alternatif organisasi senat mahasiswa.

Lagu “Darah Juang” sebagai Simbol Perjuangan

Nama John semakin dikenal luas setelah menciptakan lagu “Darah Juang”, yang kemudian menjadi himne tidak resmi Gerakan Reformasi 1998. Lagu tersebut kerap menggema dalam berbagai aksi demonstrasi mahasiswa di seluruh Indonesia. Lagu ini lahir dari kegelisahan John melihat situasi sosial-politik saat itu.

Lagu “Darah Juang” diciptakan sekitar tahun 1991-1992 di sebuah kontrakan di kawasan Pelem Kecut, Gejayan, Yogyakarta. Melodi lagu itu lahir dari petikan gitar akustik John di tengah kegelisahan melihat situasi sosial-politik saat itu. Dalam proses penulisan lirik, John bekerja sama dengan sejumlah rekannya, di antaranya Dadang Juliantara, Web Warouw, dan Andi Munajat. Liriknya bahkan sempat direvisi bersama aktivis lain, termasuk Budiman Sudjatmiko.

Lagu tersebut menggambarkan ironi negeri yang kaya sumber daya alam, tetapi rakyatnya masih jauh dari keadilan dan kesejahteraan. Hingga kini, “Darah Juang” tetap menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan penyemangat solidaritas gerakan mahasiswa.

Peran John dalam Berbagai Gerakan

Selain aktif dalam gerakan mahasiswa, John juga terlibat dalam solidaritas untuk korban Waduk Kedung Ombo (1989–1991), peristiwa Kusumanegara Berdarah, hingga Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) di mana ia pernah menjabat sebagai wakil ketua. Bagi banyak aktivis, John Tobing bukan sekadar pencipta lagu, melainkan simbol keteguhan dan keberanian menyuarakan kebenaran.

Kepergian John Tobing meninggalkan duka mendalam, terutama bagi kalangan aktivis mahasiswa. Salah satu aktivis Yogyakarta, Baharuddin Kamba, membenarkan kabar tersebut dan mengaku langsung menuju rumah sakit setelah menerima informasi duka. “Sesama aktivis kita berduka dengan meninggalnya Bang John. Secara fisik dia meninggal, tetapi karyanya dan semangatnya untuk teman-teman aktivis tidak pernah padam,” ujarnya.

Warisan Semangat yang Tak Pernah Mati

Kini, sang pencipta telah berpulang. Namun nada dan lirik “Darah Juang” diyakini akan terus hidup, dinyanyikan lintas generasi sebagai pengingat bahwa semangat perjuangan tak pernah benar-benar mati. Lagu ini akan terus menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan penyemangat solidaritas gerakan mahasiswa.



John Tobing dikenang sebagai tokoh penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Karyanya tidak hanya menjadi bagian dari musik, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak generasi. Dari lagu-lagunya hingga perjuangannya dalam berbagai gerakan, John Tobing meninggalkan warisan yang tak terlupakan.



Dalam perjalanan hidupnya, John Tobing selalu menunjukkan keteguhan dan keberanian. Ia tidak hanya menciptakan lagu, tetapi juga menjadi bagian dari perubahan yang terjadi di Indonesia. Semangatnya akan terus hidup dalam hati para aktivis dan pecinta musik perjuangan.



Meninggalnya John Tobing adalah kehilangan besar bagi dunia aktivisme dan musik Indonesia. Namun, karyanya dan semangatnya akan terus dikenang dan diingat oleh semua pihak yang pernah terinspirasi olehnya.

Pos terkait