Inisiatif SHECURE Digital untuk Melindungi Perempuan di Ruang Digital
Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, keamanan dan perlindungan perempuan di ruang digital menjadi isu yang semakin mendesak. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KemenPPPA), United Nations Population Fund (UNFPA), dan PT ITSEC Asia Tbk. (CYBR) bekerja sama menghadirkan program SHECURE Digital sebagai inisiatif untuk melindungi perempuan di dunia digital. Program ini dirancang dengan tujuan memastikan jutaan perempuan di Indonesia terlindungi melalui aplikasi IntelliBroń.
Tiga Pilar Utama SHECURE Digital
SHECURE Digital dibangun berdasarkan tiga pilar utama: pencegahan, perlindungan, dan pemberdayaan. Ketiga aspek ini saling melengkapi dalam upaya menciptakan lingkungan digital yang aman bagi perempuan. Salah satu bagian dari program tersebut adalah SHECURE SHIELD, yang menawarkan perlindungan teknis untuk membantu pengguna melindungi diri dari risiko digital secara aktif.
Pilar ini mengutamakan pendekatan privacy first, di mana perlindungan dilakukan tanpa pengawasan berlebihan. Pengguna diberikan kendali penuh atas data dan aktivitas digital mereka, sehingga dapat merasa lebih nyaman dan aman saat menggunakan platform digital.
Peran Pemerintah dalam Memperkuat Perlindungan Digital
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia, Arifah Choiri Fauzi, menegaskan bahwa perlindungan terhadap perempuan di ruang digital tidak cukup hanya dengan pendekatan regulasi. Ia menilai, diperlukan sentuhan teknologi yang mumpuni untuk menjawab tantangan yang muncul akibat perkembangan teknologi yang cepat.
Program SHECURE Digital diharapkan bisa menjadi solusi yang lebih dekat dan dinamis dalam melindungi perempuan di Indonesia. Dengan membangun kesadaran bersama antara pemerintah dan sektor swasta, diharapkan mampu memberikan perlindungan yang lebih efektif.
“Target kami adalah sebanyak-banyaknya karena kecepatan teknologi dengan perlindungan yang kita berikan tidak seiring. Teknologi berkembang cepat,” ujar Arifah.
Data Mengenai Populasi Perempuan di Indonesia
Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), pada semester I/2025, jumlah penduduk Indonesia mencapai 286 juta jiwa, di mana sekitar 142 juta merupakan perempuan. Artinya, sekitar 49% populasi Indonesia adalah perempuan. Angka ini menunjukkan pentingnya perlindungan khusus terhadap perempuan di ruang digital.
Tahun 2025, SAFEnet mencatat sebanyak 2.382 kasus kekerasan berbasis gender online (KBGO) di Indonesia. Mayoritas dari kasus tersebut, yaitu 1.372 kasus, dialami oleh perempuan usia 18-25 tahun. Insiden KBGO paling sering terjadi di WhatsApp, disusul Telegram, Instagram, X, dan TikTok.
Dalam banyak kasus, perempuan menjadi target serangan siber yang bercampur dengan pelecehan seksual, pemerasan, dan ancaman publikasi data pribadi. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya adanya langkah-langkah pencegahan dan perlindungan yang lebih kuat.
Solusi Keamanan Siber dari ITSEC Asia
Presiden Direktur ITSEC Asia, Patrick Dannacher, menyatakan bahwa proteksi terhadap anak dan perempuan menjadi hal yang sangat penting saat ini, terlebih dengan ruang digital yang semakin terbuka. Kerja sama antara ITSEC Asia dengan UNFPA dan KemenPPPA diharapkan bisa melindungi wanita Indonesia dari ancaman siber.
ITSEC Asia telah mengembangkan solusi keamanan siber bernama IntelliBroń yang mudah digunakan oleh semua kalangan, termasuk perempuan dan anak-anak. Aplikasi ini dapat diunduh melalui toko aplikasi smartphone.
“Target kami adalah sebanyak yang bisa kami lakukan. Target group ada 140 juta smartphone, pelan-pelan kami yakin bisa mencapai itu,” kata Patrick.
Ia juga menambahkan bahwa pasar Indonesia sangat luas. Perusahaan memiliki potensi besar untuk merangkul 280 juta penduduk Indonesia dengan solusi keamanan siber IntelliBroń. ITSEC Asia meyakini bahwa dengan fitur keamanan yang komprehensif, perlahan-lahan dapat melindungi seluruh masyarakat.





