Kanal Energi dan Sentimen Pasar Jadi Ancaman Utama Perbankan dalam Konflik Israel-AS vs Iran

Aa1xk6ul
Aa1xk6ul



JAKARTA — Para ekonom menilai bahwa eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah dapat memberikan dampak tidak langsung terhadap industri perbankan Indonesia. Dampak ini terutama akan terasa melalui dua saluran utama, yaitu harga energi dan sentimen pasar global yang berpotensi memicu pergeseran arus modal.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI), Josua Pardede, menyampaikan bahwa meskipun konflik yang dipicu oleh serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran tidak secara langsung mengganggu aktivitas ekonomi domestik, transmisi melalui harga energi dan pasar keuangan global tetap perlu diwaspadai.

“Dampak terbesar ke industri perbankan Indonesia umumnya datang dari kanal harga energi dan kanal sentimen pasar yang memicu pergeseran arus modal,” ujar Josua dalam wawancara dengan Bisnis, Senin (2/3/2026).

Pengaruh Harga Energi dan Sentimen Pasar Global

Menurutnya, ketika konflik meningkat, pasar cenderung fokus pada risiko gangguan pasokan dan logistik energi, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia. Pada saat bersamaan, investor global cenderung beralih ke aset aman, sehingga dolar AS menguat dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tertekan.

Harga minyak Brent sempat melonjak sekitar 13% hingga mencapai US$82 per barel sebelum bergerak kembali ke kisaran US$77 per barel. Lonjakan ini mencerminkan besarnya premi risiko yang dipasang pasar. Jika ketegangan membuat lalu lintas kapal di sekitar Teluk Persia melambat atau memicu penghindaran rute pelayaran, dampaknya bisa cepat merembet ke kenaikan biaya angkut dan premi asuransi, sehingga tekanan inflasi dan nilai tukar bertahan lebih lama.

Risiko Rambatan pada Perbankan

Josua menjelaskan bahwa risiko rambatan menjadi lebih nyata ketika lonjakan harga minyak dan biaya logistik mengubah ekspektasi inflasi dan arah kebijakan suku bunga. Hal ini juga menguji ketahanan neraca eksternal melalui kenaikan tagihan impor energi.

“Risiko rambatan ke perbankan Indonesia menjadi lebih nyata saat harga minyak melonjak dan biaya logistik ikut naik, karena ini mengubah ekspektasi inflasi dan arah kebijakan suku bunga,” jelasnya.

Dampak pada Nilai Tukar dan Biaya Dana

Dalam konteks nilai tukar, tekanan terhadap rupiah dinilai dapat berdampak pada likuiditas dan biaya dana perbankan melalui peningkatan kebutuhan valuta asing korporasi untuk pembayaran impor, cicilan, maupun lindung nilai. Permintaan likuiditas valas cenderung naik bersamaan dengan meningkatnya kehati-hatian bank dalam mengelola posisi likuiditas.

Di sisi lain, bank sentral cenderung menjaga stabilitas rupiah dan ekspektasi inflasi, sehingga ruang pelonggaran suku bunga menjadi lebih terbatas. Akibatnya, suku bunga pasar uang dan suku bunga simpanan lebih sulit turun, dan biaya dana perbankan berisiko tetap tinggi atau bahkan meningkat apabila lonjakan minyak memicu ekspektasi inflasi yang lebih kuat.

Tekanan pada Profitabilitas dan Margin Bunga

Dari sisi profitabilitas, tekanan berpotensi muncul pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Suku bunga dana pihak ketiga biasanya menyesuaikan lebih cepat karena persaingan dana dan kebutuhan menjaga stabilitas likuiditas, sementara penyesuaian bunga kredit berlangsung lebih bertahap. Sehingga margin berpotensi tertekan pada fase awal gejolak.

Risiko kredit juga meningkat pada sektor-sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi dan gangguan logistik, seperti transportasi dan penerbangan, industri yang boros energi, serta perusahaan yang bergantung pada impor bahan baku.

Kesiapan Perbankan Indonesia

Namun, Josua menilai bahwa fundamental perbankan Indonesia saat ini relatif lebih siap dibandingkan banyak periode gejolak global sebelumnya. Hal ini didukung oleh kerangka pengawasan yang lebih ketat, permodalan yang solid, cadangan likuiditas yang disiplin, serta basis pendanaan yang didominasi dana domestik.

“Perbankan Indonesia saat ini pada umumnya lebih siap dibanding banyak periode gejolak global sebelumnya karena permodalan dan cadangan likuiditas yang lebih disiplin,” katanya.

Namun, dia mengingatkan ketahanan tersebut sangat bergantung pada durasi konflik. Jika konflik cepat mereda, tekanan biasanya terkonsentrasi pada volatilitas pasar dan bersifat sementara. Sebaliknya, apabila eskalasi berlarut dan pasar terus memasang premi risiko energi, bank akan menghadapi kombinasi tantangan berupa biaya dana yang sulit turun, permintaan kredit yang melemah, dan kebutuhan pencadangan yang lebih berhati-hati.

Tindakan Konservatif dalam Ekspansi

Dalam situasi ketidakpastian global, perbankan cenderung lebih konservatif dalam ekspansi, terutama pada kredit baru berjangka panjang dan pembiayaan investasi. Bank akan memprioritaskan kualitas debitur, ketahanan arus kas, serta kecukupan agunan.

“Situasi seperti ini memang cenderung membuat perbankan lebih konservatif dalam ekspansi, terutama pada kredit baru berjangka panjang,” tutup Josua.

Pos terkait