Kapal CMA-CGM Mundur Akibat Perang AS-Iran

Aa1xhiiu
Aa1xhiiu

, JAKARTA — Perusahaan pelayaran besar asal Prancis, Compagnie Maritime d’Affrètement – Compagnie Générale Maritime (CMA-CGM), mengambil tindakan untuk melindungi seluruh kapalnya setelah konflik di kawasan Timur Tengah memburuk dan terjadi pembatasan lalu lintas maritim di Selat Hormuz.

Menurut pernyataan resmi yang dikeluarkan pada Minggu (1/3/2026), manajemen CMA CGM menekankan bahwa keselamatan dan keamanan kru tetap menjadi prioritas utama perusahaan dalam situasi seperti ini.

“Kami terus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga keselamatan kapal serta melindungi kargo pelanggan,” tulis perusahaan dalam pernyataannya.

Beberapa langkah darurat telah diambil oleh CMA CGM sebagai respons terhadap situasi yang muncul. Berikut adalah beberapa tindakan yang dilakukan:

  • Instruksi perlindungan: Seluruh kapal yang berada di dalam maupun yang menuju Teluk Persia telah diinstruksikan untuk segera menuju tempat perlindungan (shelter) secepat mungkin. Hal ini dilakukan untuk memastikan keselamatan kru dan barang bawaan.

  • Penangguhan Jalur Suez: Pelayaran melalui Terusan Suez ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut. Seluruh kapal akan dialihkan rutenya melalui Tanjung Harapan (Cape of Good Hope).

“Pelanggan akan segera dihubungi setelah kami mendapatkan rincian lebih lanjut mengenai kemungkinan pelabuhan alternatif untuk pembongkaran kargo,” demikian pernyataan CMA CGM.

Keputusan ini diambil murni demi pertimbangan keselamatan dan sesuai dengan Syarat dan Ketentuan Bill of Lading perusahaan.

Berdasarkan laporan dari Bloomberg, sejumlah kapal melaporkan mendengar siaran radio yang diklaim berasal dari Angkatan Laut Iran, yang menyatakan bahwa transit melalui Selat Hormuz dilarang.

Hingga saat ini, belum ada pengumuman resmi dari Teheran mengenai status Selat Hormuz. Namun, beberapa kapal tanker yang sebelumnya rencananya akan melewati wilayah tersebut terpantau berputar balik dalam beberapa jam terakhir.

Selain itu, sejumlah besar kapal lainnya sudah lebih dulu berhenti untuk menunggu di dekat pintu masuk jalur air sesaat setelah pemboman dimulai.

Gangguan ini memiliki dampak yang sangat luas, mulai dari kapal tanker minyak mentah hingga kapal kontainer yang mengangkut furnitur. Selat Hormuz merupakan titik nadi (chokepoint) penting bagi pasar energi, karena seperlima dari minyak dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melintasi jalur ini setiap hari.

Sampai saat ini, belum jelas berapa lama gangguan ini akan berlangsung. Meskipun beberapa kapal masih nekat melintasi Selat Hormuz, jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan kondisi normal.

Pos terkait