Kapal Minyak dan Gas Terganggu di Selat Hormuz Akibat Serangan AS-Israel ke Iran

Aa1xiiaw 1
Aa1xiiaw 1



JAKARTA — Lalu lintas kapal pengangkut minyak dan gas di Selat Hormuz dilaporkan masih terbatas akibat serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, serta meningkatnya ancaman dari Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi jalur strategis tersebut.

Data pelacakan kapal menunjukkan hanya sejumlah kecil kapal yang terlihat keluar dari Selat Hormuz, sementara nyaris tidak ada pergerakan kapal yang masuk. Hal ini menunjukkan adanya ketidakstabilan dalam lalu lintas maritim di kawasan tersebut.

Sebuah kapal tanker kecil yang diduga terkena sanksi Amerika Serikat (AS) karena membantu ekspor bahan bakar Iran dilaporkan menjadi target serangan di lepas pantai utara Oman, meski otak serangan belum diketahui. Anggota Dewan Kebijaksanaan Iran Mohsen Rezaei menyatakan bahwa “tidak ada kapal Amerika yang diizinkan memasuki Teluk Persia.”

Sehari sebelumnya, sejumlah kapal juga melaporkan telah menerima siaran radio yang mengatasnamakan Angkatan Laut Iran dan menyatakan pelayaran melalui Selat Hormuz dilarang, kendati tidak ada pengumuman resmi.

Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi rantai pasok energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta gas alam cair (LNG) yang diperdagangkan melalui laut melewati jalur tersebut setiap hari, sehingga perdagangan global berpotensi terguncang apabila terdapat gangguan berkepanjangan.

Media semi-resmi Iran, Tasnim, menyebut jalur tersebut secara efektif telah ditutup setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan kapal-kapal bahwa perlintasan Selat Hormuz tak lagi aman. Sejumlah perusahaan pelayaran global pun merespons dengan menghentikan operasionalnya.

Perusahaan Jerman Hapag-Lloyd menghentikan transit melalui Hormuz, sementara perusahaan CMA CGM asal Prancis meminta kapal mereka berlindung di Teluk Persia dan menangguhkan pelayaran melalui Terusan Suez.

Bloomberg sebelumnya melaporkan kapal tanker mulai menumpuk di sekitar pintu masuk Selat Hormuz. Pemerintah AS juga mengeluarkan peringatan agar kapal-kapal menjaga jarak minimal 30 mil laut dari aset militernya di kawasan tersebut.

Perusahaan pelayaran Jepang Nippon Yusen dan otoritas Yunani turut meminta armada mereka meninjau kembali rute melalui Hormuz. Yunani juga mengingatkan kapal agar bersiap menggunakan metode navigasi konvensional tanpa elektronik, menyusul risiko gangguan sistem navigasi di kawasan.

Jika gangguan berlangsung lama, dampaknya diperkirakan signifikan terhadap pasar energi. Produk perdagangan ritel yang dikelola IG Group menunjukkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 9% pada Minggu, meski pasar berjangka resmi masih tutup pada akhir pekan.

Terkait LNG, gangguan distribusi dari eksportir utama seperti Qatar berpotensi memengaruhi pasokan ke Asia dan Eropa. Seiring meningkatnya potensi kontrak pelayaran ke Timur Tengah imbas eskalasi konflik, pasokan kapal berpotensi kian ketat dan mengerek tarif angkutan yang sudah melonjak dalam beberapa waktu terakhir.

Pos terkait