Kapal Tanker Diserang Drone di Selat Hormuz, 4 Orang Tewas

Aa1wrhly
Aa1wrhly

Insiden Serangan Drone di Selat Hormuz

Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global, kembali menjadi pusat perhatian setelah satu kapal tanker dihantam drone. Insiden ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran dan potensi gangguan pasokan minyak dunia.

Kapal Tanker Diserang Drone

Kapal tanker Skylight, yang berbendera Palau, disebut menjadi sasaran serangan drone pada Minggu (1/3/2026) sore. Insiden ini terjadi sekitar 5 mil laut di utara Pelabuhan Khasab di lepas pantai Semenanjung Musandam, Oman. Dalam serangan tersebut, sedikitnya empat orang dari 20 kru kapal mengalami luka-luka.

Kapal tanker itu diawaki oleh 15 warga negara India dan lima warga negara Iran. Fasilitas di Pelabuhan Duqm, Oman, juga menjadi target dua drone, meskipun Oman sebelumnya berperan sebagai mediator dalam ketegangan antara Iran dan negara-negara lain.

Penurunan Lalu Lintas Kapal

Menurut data dari platform pelacakan kapal MarineTraffic, lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun hingga 70 persen setelah serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Penurunan ini tercatat pada Sabtu (28/2/2026) malam.

Dimitris Ampatzidis, analis risiko dan kepatuhan senior di Kpler, menyatakan bahwa penurunan lalu lintas kapal melalui selat tersebut sangat signifikan. Sejumlah perusahaan pelayaran mulai menangguhkan pengiriman dan mengalihkan rute kapal tanker karena khawatir akan ancaman keamanan.

Larangan Navigasi oleh IRGC

Setelah insiden serangan drone, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan larangan navigasi di Selat Hormuz. Pesan transmisi VHF dikirimkan kepada kapal-kapal yang melintas, memberitahukan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melewati selat tersebut.

Namun, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai penutupan total Selat Hormuz. Meski demikian, ancaman Iran dianggap kredibel oleh sejumlah pedagang senior, sehingga beberapa perusahaan pelayaran memilih untuk menghindari jalur tersebut.

Dampak pada Harga Minyak

Kemungkinan peningkatan harga minyak menjadi salah satu konsekuensi dari situasi ini. Menurut laporan The Week, jika konflik berlanjut dan gangguan terus berlangsung, harga minyak diperkirakan akan naik dalam beberapa hari ke depan.

Sekitar 30 persen minyak dan produk petroleum dunia yang diperdagangkan dari negara-negara seperti Arab Saudi, Kuwait, Irak, dan Iran melewati Selat Hormuz setiap hari. Jalur ini menjadi titik tekanan utama di tengah konflik, meskipun Iran kemungkinan tidak akan menutup jalur sepenuhnya.

Strategi dan Risiko

Musandam memiliki signifikansi strategis karena semenanjung tersebut berbagi kendali atas Selat Hormuz dengan Iran. Titik ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, menjadikannya jalur penting bagi ekonomi global.

Penutupan Selat Hormuz dalam jangka panjang akan sulit dipertahankan dan berpotensi menyebabkan kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok, serta tekanan ekonomi yang lebih luas di kawasan.

Peran Pemain Global

Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi kepada perusahaan dan kapal yang terlibat dalam operasi pengangkutan minyak Iran. Sea Force Inc, pemilik terdaftar kapal tanker Skylight, dikenai sanksi karena dianggap mengoperasikan “armada bayangan” untuk mengangkut produk minyak bumi Iran di Teluk Persia.

Situs pelacakan kapal Tankertrackers.com menyebut Skylight sebagai kapal tanker kecil yang digunakan untuk mengisi bahan bakar kapal lain. Kapal ini telah berlabuh di Provinsi Musandam sejak 22 Februari.

Pos terkait