.CO.ID – JAKARTA.
Kondisi keamanan di jalur pelayaran global kini semakin memprihatinkan, terutama setelah eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) yang berdampak langsung pada keselamatan kapal-kapal tanker. Asosiasi pelayaran mengkhawatirkan situasi ini dapat mengganggu kelancaran perdagangan minyak dunia.
Tingkat Risiko Keamanan Meningkat
Ketua Umum Indonesian National Shipowners’ Association (INSA), Carmelita Hartoto, menyampaikan bahwa kondisi keamanan di Selat Hormuz, sebuah jalur strategis bagi pelayaran internasional, kini berada pada level tinggi. Ia menilai, adanya serangan proyektil terhadap kapal tanker merupakan indikasi nyata dari meningkatnya ancaman keamanan.
“Sudah ada kapal tanker yang terkena serangan proyektil sebagai dampak dari serangan AS-Israel terhadap Iran. Ini sangat memprihatinkan bagi keselamatan pelayaran global dan mengganggu kelancaran perdagangan minyak dunia,” ujarnya.
Pengaruh pada Industri Pelayaran
Dampak konflik tidak hanya terasa secara keamanan, tetapi juga berdampak pada struktur biaya industri pelayaran. Menurut Carmelita, sejumlah perusahaan asuransi telah menghentikan perlindungan risiko perang (war risk insurance) untuk kapal yang melintasi wilayah tersebut.
“Banyak perusahaan asuransi membatalkan war risk insurance karena risiko keamanan kapal semakin tinggi,” jelasnya.
Langkah Mitigasi yang Dilakukan
Untuk menghadapi potensi pembatasan atau penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz, INSA merekomendasikan langkah mitigasi operasional kepada para operator pelayaran. Salah satu tindakan yang disarankan adalah menahan pergerakan kapal agar tidak mendekati wilayah berisiko.
“Yang bisa dilakukan sekarang adalah membatalkan pergerakan menuju Selat Hormuz dan berlabuh di Fujairah atau negara-negara Teluk bagi kapal yang sudah terlanjur berada di kawasan itu,” tambah Carmelita.
Selain itu, perusahaan pelayaran diminta untuk menunda keberangkatan kapal yang belum masuk wilayah Teluk sambil memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan otoritas terkait. Dari sisi komersial, negosiasi ulang kontrak dengan pemilik barang juga menjadi opsi jika terjadi perubahan kondisi pelayaran.
“Karena ada perubahan situasi, tentu perlu dibicarakan kembali dengan pemilik muatan,” imbuhnya.
Tidak Ada Kenaikan Tarif Angkut
Meski risiko meningkat, INSA belum melihat peluang kenaikan tarif angkut sebagai kompensasi langsung bagi operator tanker dan LNG. Menurut Carmelita, jika Selat Hormuz tidak bisa dilalui, setinggi apa pun tarif yang ditawarkan tidak akan relevan.
“Kami belum melihat potensi kenaikan freight rate pelayaran global, karena jalur itu sama sekali tidak bisa dilewati,” ujarnya.
Potensi Kenaikan Harga Minyak
Namun, ia menegaskan bahwa konflik tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas minyak dunia. “Yang jelas, kondisi ini akan menaikkan harga minyak bumi,” tutup Carmelita.





