Kawasan Timur Tengah Kacau, Meisya Siregar dan Bebi Romeo Terjebak di Jeddah

866110281 1
866110281 1

Pasangan Selebritas Meisya Siregar dan Bebi Romeo Tertahan di Jeddah Akibat Pembatalan Penerbangan

Pasangan selebritas Meisya Siregar dan Bebi Romeo kini tengah menghabiskan waktu mereka di Jeddah, setelah penerbangan Emirates yang mereka tumpangi dibatalkan karena alasan operasional. Mereka sedang menjalani ibadah umroh dalam momen bulan suci Ramadan, tetapi kini harus memperpanjang masa inap di hotel sambil mencari tiket pengganti untuk kembali ke Indonesia.

Meisya Siregar mengungkapkan bahwa penerbangan Emirates EK-2069 dari Jeddah ke Dubai yang seharusnya berangkat pada 2 Maret 2026, pukul 18:10, telah dibatalkan. Ia membagikan pesan tersebut melalui akun Instagramnya, menunjukkan bahwa situasi ini menyebabkan ketidaknyamanan bagi para penumpang.

Meisya kemudian mengajak warganet untuk berbincang virtual jika ada yang mengalami nasib serupa, yaitu tidak bisa pulang ke Indonesia dari Jeddah. Ia meminta bantuan dan informasi dari para pengikutnya agar bisa mendapatkan solusi terbaik.

“Abia war tiket lanjut taraweh di kamar. Alhamdulillah bisa goler goler,” tulis Meisya Siregar dalam unggahannya. Foto-foto yang ia bagikan menunjukkan dirinya dan Bebi Romeo sedang menjalankan ibadah solat di dalam kamar hotel.

Meski mendapat saran dari warganet untuk tinggal di rumah mereka sementara waktu, Meisya memilih untuk memperpanjang penginapan di hotel. “Waa makasih ya niat baiknya dicatat Allah. Maunya di Mekkah aja smg msh bs extend hotelnya. Jd nambah jatah ibadahnya,” tulisnya.

Setelah beberapa hari mencari informasi, akhirnya Meisya dan Bebi Romeo berhasil mendapatkan tiket pesawat langsung ke Indonesia. “Dapet nih aku direct tanggal 3 Maret, bismillah ya. Setelah war tiket mencari penerbangan yang secepat mungkin,” tulis Meisya Siregar.

Kimberly Ryder Gagal Umroh

Berbeda dengan Meisya Siregar dan Bebi Romeo, Kimberly Ryder, bintang film dan FTV, juga memiliki rencana untuk menjalani ibadah umroh ke Tanah Suci. Namun, kepergiannya terancam batal karena konflik di Timur Tengah antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Serangan rudal yang dilakukan Iran terhadap pangkalan militer di Arab Saudi dan wilayah sekitarnya, serta serangan balasan dari AS dan Israel, menyebabkan banyak penerbangan dibatalkan. Hal ini membuat para jemaah umroh asal Indonesia kesulitan untuk kembali ke Tanah Air.

Kimberly Ryder masih menunggu kabar dari travelnya tentang kepastian keberangkatannya. “Masih menunggu kabar travel. Karena aku naik maskapai Emirates penerbangannya di stop,” ujarnya.

Ia memastikan semua berkas untuk keberangkatan sudah selesai, hanya tinggal menunggu kepastian dari travel. “Katanya akan dikabarin lagi tanggal 3 atau 4 Maret untuk kepastian berangkatnya,” ucapnya.

Kimberly berharap jadwal keberangkatannya tetap berjalan, sambil menunggu ketegangan di Timur Tengah mereda. “Pasti masih berharap mau tetap berangkat. Semoga pas berangkat semua sudah aman,” ujar Kimberly Ryder.

Kawasan Timur Tengah Kian Mencekam

Eskalasi militer di Timur Tengah memasuki babak baru yang mencekam. Kementerian Pertahanan Kuwait mengonfirmasi bahwa beberapa pesawat militer Amerika Serikat jatuh di dekat pangkalan udara AS di Kuwait. Insiden ini terjadi di tengah gelombang serangan drone dan rudal yang kian tak terkendali, mempertegas meluasnya proksi perang antara koalisi AS-Israel melawan Iran dan Hizbullah.

Meskipun pesawat tempur tersebut jatuh dan hancur, otoritas Kuwait memastikan bahwa seluruh awak pesawat selamat setelah berhasil melakukan aksi terjun payung darurat. Video yang telah diverifikasi lokasinya menunjukkan sebuah jet tempur jatuh di wilayah Kuwait, dengan seorang pilot terlihat berhasil menyelamatkan diri menggunakan parasut sebelum mendarat di daratan.

Kegagalan Diplomasi: Teheran Pilih Jalur Perang

Di tengah desakan internasional untuk de-eskalasi, pejabat tinggi Teheran mengeluarkan pernyataan provokatif yang menutup pintu dialog. Iran secara tegas menyatakan “tidak akan bernegosiasi” dengan pemerintahan Donald Trump. Penegasan ini muncul sebagai respons atas tewasnya pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, yang dianggap sebagai garis merah yang tak termaafkan.

Konflik pun kian melebar ke front utara. Hizbullah Lebanon secara resmi meluncurkan operasi balasan besar-besaran terhadap pangkalan militer Israel di Dahiyeh dan wilayah Haifa. Foto-foto satelit menunjukkan puing-puing bangunan apartemen di pinggiran Beirut yang hancur akibat serangan udara balasan Israel, menandakan perang kota yang semakin brutal.

Serangan Siber Militer: Pusat Data AWS Bahrain & UEA Terbakar

Perang kali ini tidak hanya terjadi di darat dan udara, tetapi juga menyasar tulang punggung digital global. Amazon Web Services (AWS) melaporkan gangguan konektivitas parah di pusat data mereka di Bahrain dan Uni Emirat Arab (UEA). Fasilitas AWS di UEA dilaporkan mengalami kebakaran hebat setelah “objek tak dikenal”—yang diduga kuat sebagai drone bunuh diri—menghantam pusat data tersebut.

Insiden ini memicu kekacauan pada layanan cloud yang digunakan oleh ribuan perusahaan internasional di kawasan Teluk. “Objek tersebut menghantam pusat data, menciptakan percikan api dan kebakaran besar,” tulis pernyataan resmi AWS.

Status Keamanan: Kota-Kota Teluk dalam Siaga Satu

Suasana di kota-kota metropolitan seperti Dubai, Abu Dhabi, dan Doha berubah drastis dari pusat wisata dunia menjadi zona siaga perang. Ledakan keras terdengar beruntun di langit Doha saat sistem pertahanan udara mencegat proyektil musuh. Di Bahrain, sirene peringatan udara terus bergema, meminta warga dan ekspatriat untuk segera mencari perlindungan.

Presiden Donald Trump pun telah mengakui secara terbuka bahwa proyeksi korban dari pihak militer Amerika kemungkinan akan bertambah seiring kampanye militer yang diperkirakan akan berlangsung selama empat hingga lima minggu ke depan.

Situasi Terkini

Hingga Senin dini hari waktu AS:
– Jet tempur militer AS jatuh di Kuwait, seluruh awak dilaporkan selamat.
– Tiga tentara AS telah tewas akibat dugaan serangan drone sebelumnya.
– Iran menegaskan tidak akan bernegosiasi dengan AS.
– Hizbullah dan Israel terus saling melancarkan serangan.
– Ledakan terdengar di sejumlah kota Teluk.
– Pusat data AWS di Bahrain dan UEA mengalami gangguan akibat insiden terpisah.

Konflik yang awalnya berupa serangan presisi kini telah berkembang menjadi perang regional dengan dampak global yang nyata—baik dari sisi militer, ekonomi, maupun teknologi.

Pos terkait