Keadilan Tiba Melalui Jalan Leucir

Aa1xpd59
Aa1xpd59

Pembangunan Infrastruktur Jawa Barat: Perubahan yang Membawa Kepuasan Warga



JAKARTA – Dalam satu tahun memimpin Jawa Barat, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi (KDM) menempatkan pembangunan infrastruktur sebagai prioritas utama. Salah satu program yang menjadi terobosan penting adalah “Jalan Leucir”, yang berhasil meningkatkan tingkat kepuasan warga secara signifikan dalam setahun terakhir.

Perjalanan Berubah dari Mimpi Buruk Menjadi Kenyataan

Dulu, Junaedi, seorang sopir angkutan hasil tani, sering mengeluh saat harus melewati jalan di Cianjur Selatan. Jalanan yang berlumpur dan rusak membuat perjalanannya menjadi sangat menyulitkan. Setiap kali hujan turun, jalanan menjadi lembek seperti bubur, sementara pada musim kemarau, jalanan bergelombang dan sulit untuk dilalui.

“Kalau bukan karena butuh, sebetulnya malas kalau harus ke Cianjur Selatan, apalagi ke wilayah Cikawung dan Jayagiri. Aduh, jalan hancur, kiri-kanan leuweung [hutan], kalau kemalaman, wassalam,” ujar Junaedi, 55 tahun.

Namun, mimpi buruk itu berakhir pada akhir 2025 dengan hadirnya program “Jalan Istimewa, Jalan Leucir”. Kini, jalan tersebut telah menjadi mulus dan nyaman. Junaedi mengungkapkan rasa senangnya:

“Alhamdulillah, jalanna enak sekarang, mulus, caang [terang benderang]. Waktu tempuh lebih cepat, jalannya beton kokoh, jadi hasil tani yang diangkut bisa optimal. Sae [bagus],” katanya.

Program Jalan Leucir: Fokus pada Kualitas dan Kepuasan

Jalan Leucir merupakan program unggulan di bawah kepemimpinan Dedi Mulyadi. Tujuannya adalah mempercepat perbaikan jalan provinsi maupun nonprovinsi. Fokus utamanya adalah pada ruas jalan yang rusak berat, dengan standar ketebalan dan kualitas konstruksi yang diperketat. Proses perbaikan dilakukan secara bertahap di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat.

Leucir dalam bahasa Sunda berarti mulus, lancar, dan berkualitas. Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pembangunan jalan hingga pelosok desa adalah bentuk keadilan pembangunan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Desa yang menjadi sumber pangan harus mendapat prioritas pembangunan. Sekolah, kesehatan, sanitasi, air bersih, semuanya harus selesai di sana. Desa yang menjaga hutan, air, oksigen, dan mencegah banjir punya peran penting bagi industri dan kehidupan kita semua. Mereka juga berhak atas keadilan pembangunan,” ujarnya.

Anggaran yang Signifikan untuk Pembangunan Infrastruktur

KDM menetapkan 2025 sebagai momentum besar untuk perbaikan infrastruktur. Anggaran jalan provinsi meningkat dari Rp400 miliar menjadi Rp2,009 triliun. Ditambah anggaran jalan nonprovinsi sebesar Rp187,580 miliar.

Belanja besar ini penting agar masyarakat Jawa Barat memiliki ketahanan pangan yang kuat, akses pendidikan yang memadai, serta jaminan kesehatan yang layak. Meski ada tantangan, Pemprov Jabar melakukan efisiensi besar-besaran dengan memangkas pos anggaran yang tidak prioritas. Hasilnya, ruang fiskal tersedia untuk mempercepat realisasi pembangunan jalan.

Dalam satu tahun, total panjang Jalan Leucir mencapai 474,12 kilometer, terdiri atas 446,327 kilometer jalan provinsi dan 18,038 kilometer jalan nonprovinsi. Selain itu, 11 paket jembatan telah rampung dibangun atau diperbaiki.

“Saya mohon maaf apabila masih ada jalan provinsi yang bolong. Tetapi kami berkomitmen tahun ini minimal 90% dalam kondisi baik, dan kita inginnya 100% bisa dilewati dengan nyaman,” ujar KDM.

Tingkat Kepuasan Publik yang Tinggi

Komitemen tersebut berbuah apresiasi publik. Sejumlah urusan wajib bidang infrastruktur yang dilakukan Pemprov Jabar mencatat tingkat kepuasan di atas 80%. Hal itu terungkap dari survei lembaga Indikator yang dilakukan pada 30 Januari hingga 8 Februari 2026 terhadap 800 responden di desa-desa di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat.

Pendiri dan peneliti Indikator, Burhanuddin Muhtadi, menyebut kinerja Pemprov Jabar di bidang infrastruktur mendapat tingkat kepuasan tinggi. Dibandingkan Mei 2024, kepuasan publik pada Januari–Februari 2026 meningkat secara signifikan.

Dalam aspek peningkatan kualitas jalan dan jembatan, 65,4% responden menyatakan cukup puas dan 20,5% sangat puas. Adapun terhadap peningkatan jumlah jalan dan jembatan, 65,9% menyatakan cukup puas dan 18,5% sangat puas.

Capaian infrastruktur itu turut mendongkrak tingkat kepuasan terhadap kinerja Dedi Mulyadi yang mencapai 95,5%—kategori sangat tinggi.

Investasi yang Meningkat dan Visi Jangka Panjang

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur juga diiringi upaya menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif. Pemprov Jabar membentuk Satgas Anti Premanisme, meluncurkan aplikasi NyariGawe untuk memfasilitasi pencari kerja, menyederhanakan layanan perizinan, hingga turun langsung mencarikan solusi bagi investor.

Hasilnya, realisasi investasi Jawa Barat sepanjang 2025 mencapai Rp296,8 triliun—melampaui target 109,9% dari Kementerian Investasi/BKPM RI dan menjadi yang tertinggi secara nasional. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat Rp149,8 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) Rp147,02 triliun, mencerminkan pertumbuhan yang relatif seimbang.

Meski demikian, KDM mengingatkan bahwa visi “Jabar Istimewa Lembur Diurus Kota Ditata” bukan semata-mata membangun fisik. Tujuannya adalah menghilangkan kebodohan, mengangkat derajat masyarakat miskin dan anak yatim, serta membangun kemakmuran Jawa Barat secara berkelanjutan.

“Kita membangun bukan untuk lima atau sepuluh tahun, dan bukan hanya untuk kita. Kita membangun untuk anak cucu kita. Apa yang kita titipkan untuk generasi Jabar ke depan kalau kita tidak punya nilai-nilai filosofi besar dan mendasar,” tutupnya.

Pos terkait