Keajaiban Ombak dalam Lensa Fotografer Selancar

Aa1wpiyo
Aa1wpiyo

Perjalanan Seorang Fotografer Surfing yang Menangkap Keindahan Ombak Bali

Bagus Made Irawan, yang akrab disapa Piping, awalnya hanya seorang anak pantai yang menikmati surfing sebagai aktivitas sederhana. Kehidupannya berubah ketika ia mulai bergaul dengan wisatawan asing. Dari sana, ia menemukan passion-nya dalam fotografi, khususnya untuk menangkap momen-momen indah dari dunia surfing. Jejaknya dalam sejarah surfing Bali tercatat melalui media cetak Surf Time pada 1999 dan kemudian Magic Wave, sebuah media khusus yang ia dirikan.

Kini, karya-karya Piping dapat dinikmati dalam pameran foto bertajuk Magic in the Waves, yang digelar di Warung Kubukopi antara 18 hingga 28 Februari. Pameran ini menampilkan 15 karya fotonya. Selain itu, juga ada satu foto karya Wayan Grandong, asisten pribadinya yang pernah dilatih oleh Piping dan kini telah menjadi fotografer profesional.

Membuat Media Khusus untuk Dunia Surfing

Saat pertama kali mendirikan Magic Wave, informasi tentang surfing masih sangat terbatas. Tidak ada Instagram atau kanal digital yang bisa menampilkan aksi surfer dalam hitungan detik. Surfing adalah dunia yang hidup di tepian pantai—dan cerita-ceritanya sering lenyap bersama hempasan ombak.



Repro karya-karya Bagus Made Irawan (Piping) yang dipamerkan pada 18-28 Februari 2026 di kubukopi, Denpasar. Tempo/Repro Rofiqi Hasan

Dengan kehadiran Magic Wave, Piping mencoba memperkenalkan para surfer lokal sebagai tokoh utama. Isi tabloid ini sangat beragam: mulai dari liputan kompetisi surfing, profil surfer Bali, ulasan spot ombak, tren papan selancar, hingga budaya pantai yang menjadi inti dari dunia surfing itu sendiri. Foto-foto ombak, gaya hidup pesisir, dan cerita perjalanan surfer menjadi bagian penting dari tabloid ini, menjadikannya bukan sekadar media informasi, tetapi juga arsip budaya.

Melalui Magic Wave, Piping berhasil menangkap nilai-nilai yang mendasari dunia surfing. Ia menyuarakan cerita-cerita kecil yang jarang muncul di media arus utama: kisah surfer lokal yang tumbuh dari pantai sederhana; perjalanan mencari ombak di sudut-sudut Bali yang terpencil; hingga geliat kompetisi yang menjadi mimpi banyak anak muda pulau ini.

Karya Fotografer Surfing Selama 5 Tahun



Repro karya-karya Bagus Made Irawan (Piping) yang dipamerkan pada 18-28 Februari 2026 di kubukopi, Denpasar. Tempo/Repro Rofiqi Hasan.

Kurator pameran, Komang Erviani, mengatakan bahwa karya Piping dipilih dari ratusan foto yang diajukan. Mayoritas foto tersebut dipotret antara tahun 2002 hingga 2007. “Saya memilihnya berdasarkan kesan yang muncul pertama kali saat melihat foto itu,” ujarnya.

Menurut Erviani, foto-foto Piping mewakili keindahan ombak dan gairah para surfer dalam menikmati olahraga ini. Ada pula seri foto yang menunjukkan bagaimana surfing menginspirasi aktivitas lain seperti kite surfing, surfboard hingga paddle of peace di acara Kuta Karnival yang digelar untuk memperingati tragedi bom Bali. Karya-karya ini membuktikan bahwa ombak di Bali bukan hanya permainan alam, tetapi juga ruang hidup bagi banyak orang.

Namun lebih dari itu, foto-foto Piping juga menunjukkan perubahan alam Bali. Contohnya, surfing di Pantai Pererenan yang saat ini tidak lagi sebagus dalam foto Piping karena adanya proyek penyelamatan pantai.

Pentingnya Melestarikan Pantai Bali

Aktivis lingkungan, Made Iwan Dewantama, menilai bahwa foto-foto Piping menjadi pengingat akan perlunya menjaga pantai di Bali. “Bali bisa jadi pusat surfing karena selalu ada ombak sepanjang tahun,” katanya. Hal ini berbeda dengan pulau-pulau lain di Indonesia yang kondisi ombaknya sangat bergantung pada musim.

Ia berharap, pameran ini akan menginspirasi banyak pihak untuk lebih peduli pada kondisi pantai dan olahraga surfing agar lebih banyak lagi warga lokal yang bisa terlibat dan memetik keuntungan. Potensi wisata surfing di Bali dan Indonesia, menurutnya, masih sangat besar.

Pos terkait