Data Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Siak
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Siak pada periode Januari hingga Februari 2026 tercatat seluas lebih kurang 56,03 hektare. Data yang dirilis oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Siak menunjukkan bahwa kejadian ini terjadi di delapan kecamatan dengan intensitas yang berbeda-beda.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Siak, Novendra Kasmara, menjelaskan bahwa dalam periode tersebut terdapat total 52 hotspot dan 20 firespot yang terdeteksi. Ia menyatakan bahwa kejadian ini menjadi perhatian serius karena mencakup sekitar 50 persen dari kecamatan yang ada di Kabupaten Siak.
Perkembangan Kebakaran di Januari dan Februari
Berdasarkan rekapitulasi BPBD Siak, pada Januari tercatat 10 hotspot dan 4 firespot dengan luas lahan terbakar sebesar 5,55 hektare. Sementara pada Februari terjadi peningkatan signifikan, yaitu 42 hotspot dan 16 firespot dengan luas terbakar mencapai 50,48 hektare.
Berikut rincian total kejadian dan luas lahan terbakar per kecamatan:
- Koto Gasib: 5 hotspot, 2 firespot, luas terbakar 5,18 hektare.
- Pusako: 1 hotspot, 1 firespot, luas 1,5 hektare.
- Kandis: 1 hotspot, 1 firespot, luas 0,25 hektare.
- Sungai Apit: 11 hotspot, 5 firespot, luas 3,4 hektare.
- Tualang: 1 hotspot, 3 firespot, luas 2,25 hektare.
- Siak: 4 hotspot, 3 firespot, luas 40,08 hektare.
- Mempura: 5 hotspot, 5 firespot, luas 3,37 hektare.
- Minas: 24 hotspot, 0 firespot, luas 0 hektare (belum ditemukan lahan terbakar).
Sementara itu, Kecamatan Sabak Auh, Sungai Mandau, Dayun, Bungaraya, Lubuk Dalam, dan Kerinci Kanan tidak tercatat adanya kejadian kebakaran.
Wilayah Terdampak Terbanyak
Jika dilihat dari luas lahan terbakar, Kecamatan Siak menjadi wilayah paling terdampak dengan luas 40,08 hektare. Namun, dari sisi jumlah hotspot, Kecamatan Minas tercatat paling tinggi dengan 24 titik, meski belum ditemukan luas lahan terbakar saat pendataan dilakukan.
Novendra mengatakan, “Kalau dilihat dari luas terbakar, Kecamatan Siak paling rawan karena mencapai lebih dari 40 hektare. Tapi dari jumlah hotspot, Minas paling banyak terdeteksi. Ini artinya potensi kerawanan tetap tinggi dan harus diantisipasi cepat sebelum meluas.”
Faktor Penyebab dan Upaya Penanggulangan
Menurut Novendra, peningkatan signifikan pada Februari dipengaruhi oleh mulai berkurangnya curah hujan serta kondisi lahan yang kering. Untuk menghadapi situasi ini, BPBD bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) terus melakukan pemadaman, patroli rutin, serta koordinasi dengan TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan perusahaan melalui Regu Pemadam Kebakaran (RPK).
Namun, beberapa kendala yang sering dihadapi di lapangan antara lain keterbatasan sumber air saat kemarau, akses menuju lokasi yang sulit, serta faktor angin yang mempercepat penyebaran api.
“Karena itu kami juga mendorong dukungan alat berat untuk pembuatan embung dan sekat bakar, serta opsi water bombing bila diperlukan. Selain itu, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan juga penting sebagai efek jera,” tegas Novendra.
Imbauan kepada Masyarakat
BPBD Siak mengimbau seluruh masyarakat dan pemilik lahan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Mengingat tren peningkatan pada Februari, potensi Karhutla masih terbuka lebar apabila tidak dilakukan pencegahan secara masif dan disiplin bersama.





