Kehebatan Rudal Iran: Tembus Iron Dome dan Ancam Baru Wilayah

Gettyimages 1713588868
Gettyimages 1713588868

Kenaikan Ketegangan di Timur Tengah

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Peristiwa ini terjadi pada hari Sabtu, 28 Februari 2026, yang diperkirakan memicu babak baru dalam konflik yang telah berlangsung lama. Konflik tersebut sebelumnya sudah dipengaruhi oleh rivalitas politik dan keamanan antar negara-negara di kawasan.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer tersebut bertujuan untuk mengakhiri ancaman terhadap kepentingan keamanan negaranya. Ia juga menegaskan bahwa tindakan tersebut akan membuka ruang bagi rakyat Iran untuk menentukan masa depan politik mereka sendiri. Respons cepat dari Teheran datang ketika militer Israel melaporkan adanya peluncuran rudal dari wilayah Iran menuju area Israel. Serangan balasan ini menunjukkan kapasitas rudal balistik Iran yang selama ini dianggap sebagai salah satu yang paling besar dan beragam di kawasan Timur Tengah.

Apa Itu Rudal Balistik?

Secara teknis, rudal balistik merupakan sistem persenjataan roket yang dikendalikan pada fase awal peluncuran sebelum kemudian mengikuti lintasan balistik atau jatuh bebas menuju sasaran. Muatan hulu ledaknya dapat berupa bahan peledak konvensional maupun nonkonvensional, termasuk potensi biologis, kimia, atau nuklir. Sejumlah negara Barat memandang pengembangan rudal balistik Iran sebagai ancaman serius terhadap stabilitas regional, terutama jika dikaitkan dengan kemungkinan kemampuan membawa hulu ledak nuklir.

Pemerintah Iran sendiri secara konsisten membantah memiliki ambisi membangun senjata atom dan menegaskan bahwa program rudalnya bersifat defensif.

Jenis dan Jangkauan Rudal Iran

Menurut komunitas intelijen AS, Iran memiliki persediaan rudal balistik terbesar di Timur Tengah. Teheran disebut menetapkan batas maksimum jangkauan hingga 2.000 kilometer—jarak yang cukup untuk menjangkau wilayah Israel. Sejumlah fasilitas pengembangan dan penyimpanan rudal diketahui berada di dalam dan sekitar ibu kota Teheran.

Setidaknya lima “kota rudal” bawah tanah dilaporkan tersebar di berbagai provinsi, termasuk Kermanshah dan Semnan, serta di kawasan dekat Teluk Persia. Berdasarkan kajian Center for Strategic and International Studies, arsenal jarak jauh Iran mencakup sejumlah sistem utama, di antaranya:

  • Sejil (2.000 km)
  • Emad (1.700 km)
  • Ghadr (2.000 km)
  • Shahab-3 (1.300 km)
  • Khorramshahr (2.000 km)
  • Hoveyzeh (1.350 km)

Media semi-resmi Iran, Iranian Students News Agency, pada April 2025 bahkan merilis grafik sembilan rudal yang diklaim mampu menjangkau Israel. Dalam publikasi tersebut, Sejil disebut dapat melaju lebih dari 17.000 kilometer per jam dengan jangkauan hingga 2.500 kilometer. Selain itu, terdapat varian lain seperti Kheibar (2.000 km) dan Haj Qasem (1.400 km).

Sementara itu, Arms Control Association mencatat persenjataan Iran juga meliputi Shahab-1 (300 km), Zolfaghar (700 km), Shahab-3 (800–1.000 km), serta Emad-1 yang masih dalam tahap pengembangan dengan estimasi jangkauan 2.000 km. Iran juga dilaporkan memiliki rudal jelajah seperti Kh-55, yang berkemampuan membawa muatan nuklir dan diluncurkan dari udara dengan jarak tempuh hingga 3.000 km.

Serangan dan Konflik Sebelumnya

Dalam konflik 12 hari dengan Israel pada Juni 2025, Iran menembakkan sejumlah rudal balistik yang menyebabkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur. Laporan dari Institute for the Study of War dan AEI Critical Threats Project memperkirakan Israel menghancurkan sekitar sepertiga peluncur rudal Iran dalam konflik tersebut. Namun pejabat Iran menyatakan kemampuan militernya telah dipulihkan dalam waktu relatif singkat.

Sebelumnya, Iran juga pernah meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar sebagai respons atas keterlibatan AS dalam konflik udara Israel. Pada 2020, Teheran menargetkan pasukan pimpinan AS di Irak setelah serangan drone AS menewaskan Mayor Jenderal Qassem Soleimani dari Garda Revolusi Iran.

Strategi dan Perkembangan Terbaru

Pemerintah Iran menyatakan sistem rudal balistiknya berfungsi sebagai instrumen pencegah (deterrence) dan sarana pembalasan terhadap ancaman eksternal. Laporan 2023 dari Foundation for Defense of Democracies menyebut Iran terus mengembangkan depot rudal bawah tanah yang dilengkapi sistem transportasi, peluncuran, serta fasilitas produksi dan penyimpanan.

Untuk pertama kalinya pada 2020, Iran diketahui menembakkan rudal balistik langsung dari fasilitas bawah tanah. Perkembangan signifikan lainnya terjadi pada Juni 2023 ketika kantor berita resmi Islamic Republic News Agency melaporkan peluncuran rudal balistik hipersonik buatan dalam negeri. Rudal hipersonik mampu melaju minimal lima kali kecepatan suara dengan lintasan yang kompleks, sehingga jauh lebih sulit dideteksi maupun dicegat oleh sistem pertahanan udara konvensional.

Menurut Arms Control Association, sebagian desain rudal Iran diyakini mengadopsi teknologi dari Korea Utara dan Rusia, serta mendapat manfaat dari dukungan teknis China. Dengan meningkatnya ketegangan terbaru antara AS, Israel, dan Iran, kapabilitas rudal balistik Teheran kembali menjadi faktor strategis yang berpotensi menentukan dinamika konflik di kawasan Timur Tengah ke depan.


Pos terkait