Peringatan Haul Siti Khadijah Al-Kubra
Tanggal 11 Ramadhan memiliki makna khusus dalam sejarah Islam, karena pada hari itu istri Nabi Muhammad SAW, Siti Khadijah Al-Kubra, wafat. Tanggal ini menjadi momen penting bagi umat Muslim untuk merenungkan peran dan pengorbanan beliau dalam mendukung dakwah Nabi.
Khadijah wafat pada tahun ke-10 kenabian Nabi Muhammad SAW. Tahun 2026 akan menjadi peringatan haulnya, yaitu perayaan atas perjuangan dan dedikasinya sebagai istri yang setia. Gelar Al-Kubra diberikan kepada beliau, berasal dari bahasa Arab yang berarti “yang terhormat dan berjiwa besar”.
Gelar ini diberikan sebagai bentuk penghormatan terhadap kemuliaan dan kebesaran jiwanya. Ia tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga mengorbankan harta dan jiwa untuk memperjuangkan ajaran Islam di masa awal mula. Sebagai istri Nabi, ia menjadi pendukung utama dalam menjalankan misi dakwah.
Menurut penjelasan Dai Pesantren Al Fatah Cileungsi, Ali Farkhan Tsani, S.Pd.I, Sayyidah Khadijah Al-Kubra adalah wanita yang sangat setia kepada Nabi. Selama hidupnya, ia menyediakan segala kemampuan dan harta untuk mendukung perjuangan suaminya. Bahkan, ia pernah berkata:
“Wahai Rasul utusan Allah, tiada lagi harta dan hal lainnya yang bersamaku untuk aku sumbangkan demi dakwah. Andai selepas kematianku, tulang-tulangku mampu ditukar dengan dinar dan dirham, maka gunakanlah tulang-tulangku demi kepentingan dakwah yang panjang ini.”
Keyakinan akan Allah menjadi dasar perjuangan Khadijah. Ia percaya bahwa cinta dan kasih-Nya akan membimbing langkah-langkahnya dalam menegakkan agama Islam. Kepercayaannya inilah yang membuatnya berani berjuang tanpa takut atau menyerah, meskipun harus melalui tantangan berat.
Berkorban adalah bukti cinta dan kesetiaan Khadijah kepada Nabi, agama, dan Tuhan. Ia rela mengorbankan segalanya tanpa mengharap imbalan, baik materi maupun non-materi. Pengorbanan ini mencerminkan keikhlasan dan ketulusan hatinya.
Profil Siti Khadijah Al-Kubra
Dalam catatan sejarah, Ibnu Atsir menyebutkan bahwa Siti Khadijah adalah seorang wanita Quraisy yang memiliki kedudukan terhormat dan harta yang besar. Ia adalah seorang pedagang yang berhasil mengelola usahanya sendiri. Dengan kemampuan bisnisnya, ia mempekerjakan para pria untuk menjual barang dagangannya dan membagi keuntungan sesuai kesepakatan.
Namun, ia tidak hanya menjadi pebisnis sukses. Ia menikahi seorang pria yang kelak menjadi pemimpin dunia, Nabi Muhammad SAW. Allah memilih pendamping yang tepat untuk Nabi, yaitu seorang wanita terhormat, cerdas, bijaksana, dan penuh pengorbanan.
Khadijah adalah contoh seorang muslimah yang luar biasa. Pengorbanannya tidak bisa diukur dengan kata-kata. Saat Nabi melakukan khalwat di Gua Hira, ia selalu hadir dengan dukungan penuh. Ia memberikan segalanya, termasuk harta dan kekayaannya, untuk mendukung perjuangan suaminya.
Tidak ada yang lebih indah daripada ucapan Nabi Muhammad SAW tentang Khadijah. Dalam hadis, beliau bersabda:
“Demi Allah, Allah tidak memberiku wanita pengganti yang lebih baik daripadanya: dia (Khadijah) beriman kepadaku tatkala orang-orang mengingkariku; dia (Khadijah) memercayaiku ketika orang-orang mendustakanku; dia (Khadijah) membantuku dengan hartanya saat orang-orang tidak mau membantuku; dialah (Khadijah) ibu dari anak-anak yang Allah anugerahkan kepadaku, tidak dari istri-istri yang lain.”
Karena pengorbanannya yang luar biasa, Khadijah layak mendapatkan keistimewaan khusus. Salah satunya adalah salam dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, disampaikan melalui malaikat Jibril ‘Alaihis Salam kepada Nabi. Malaikat Jibril datang dan berkata:
“Wahai, Rasulullah, itulah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan dari aku, dan beritahukan kepadanya tentang (balasan) sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan.”
Kesimpulan
Siti Khadijah Al-Kubra adalah teladan bagi para muslimah. Dari perjuangannya, kita belajar tentang arti pengorbanan, kesetiaan, dan keyakinan. Ia menjadi bagian penting dalam sejarah Islam dan menjadi inspirasi bagi generasi-generasi berikutnya. Peringatan haulnya adalah momentum untuk mengingat dan menghargai peran serta kontribusi beliau dalam menegakkan risalah Islam.





