Kelompok Kataib Hezbollah Irak mengungkapkan siap memberikan dukungan penuh kepada Iran, jika Amerika Serikat melakukan serangan terhadap negara tersebut. Kataib Hezbollah merupakan kelompok milisi yang beroperasi di Irak dan didukung oleh Iran. Mereka termasuk dalam Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) Irak, yang dibentuk pada tahun 2005 dan 2007, serta di bawah komando langsung Pasukan Quds Iran.
Menurut laporan dari media Rudaw di Irak dan Maariv Israel, Kataib Hezbollah telah memperingatkan bahwa mereka akan menimbulkan kerugian besar bagi AS jika situasi memburuk. Rudaw juga melaporkan bahwa anggota kelompok ini dianjurkan untuk bersiap menghadapi “perang gesekan”. Selain itu, mereka memperingatkan Wilayah Kurdistan agar tidak bekerja sama dengan pasukan asing yang bermusuhan.
Perundingan nuklir antara Iran dan AS kini memasuki babak penentuan, dengan tujuan mencegah konflik yang semakin meningkat. Presiden AS, Donald Trump, telah mengirimkan kapal induk kedua ke kawasan Timur Tengah sebagai ancaman terhadap Iran. Di sisi lain, Iran juga menggelar latihan bersama dengan pasukan Rusia, yang mendapat peringatan dari AS.
“Di tengah ancaman Amerika Serikat dan peningkatan kekuatan militer yang menunjukkan potensi eskalasi berbahaya di kawasan ini, semua pejuang perlu bersiap menghadapi perang gesekan yang bisa berlangsung lama,” kata seorang komandan Kataib Hezbollah kepada AFP, seperti dikutip dari Asharq Al-Awsat, Sabtu (28/2). Komandan tersebut menjelaskan bahwa kelompoknya memandang Iran sebagai negara strategis yang sangat penting bagi kepentingan mereka. Oleh karena itu, setiap serangan terhadap Iran dianggap sebagai ancaman langsung terhadap Kataib Hezbollah.
Selama perang 12 hari antara Israel dan Iran tahun lalu, kelompok-kelompok bersenjata Irak yang dikenai sanksi AS tidak ikut campur. Namun, kali ini, komandan Kataib Hezbollah menyatakan bahwa mereka akan lebih tidak terkendali, terutama jika terjadi serangan yang bertujuan untuk menggulingkan rezim Iran.
Selama beberapa bulan terakhir, kelompok-kelompok yang didukung Iran melakukan serangan terhadap pasukan AS di wilayah tersebut. Meskipun sebagian besar upaya mereka gagal, mereka tetap menjadi bagian dari “poros perlawanan”, yang mencakup Hizbullah Lebanon, Hamas di Gaza, dan Houthi di Yaman.
Seorang pejabat dari Hezbollah mengatakan kepada AFP pekan ini bahwa mereka tidak akan melakukan intervensi militer jika AS menyerang secara terbatas terhadap Iran. Namun, jika AS menyerang pemimpin tertinggi Iran, yaitu Ali Khamenei, maka hal tersebut akan dianggap sebagai “garis merah” yang bisa memicu serangan balasan.
Presiden AS Donald Trump telah mengerahkan kapal perang dan jet tempur di dekat Iran untuk mendukung ancamannya atas serangan, jika negosiasi yang sedang berlangsung mengenai program nuklir Iran gagal mencapai kesepakatan. Para negosiator AS dan Iran bertemu untuk putaran ketiga pembicaraan pada Kamis (26/2), dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa pembicaraan tersebut mengalami kemajuan yang sangat baik.





