Serangan dan Balasan Rudal: Kekuatan yang Mengancam
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat (AS) dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran, yang memicu balasan dari Teheran dengan menembakkan rudal ke wilayah Israel. Peristiwa ini kembali mengangkat isu tentang kekuatan rudal balistik Iran, yang dianggap sebagai salah satu yang terbesar di kawasan Timur Tengah. Negara-negara Barat secara konsisten memandang program rudal Iran sebagai ancaman terhadap stabilitas regional.
Jenis-Jenis Rudal Balistik Iran
Rudal balistik adalah senjata roket yang dipandu pada fase awal peluncuran, namun kemudian mengikuti lintasan jatuh bebas hingga mencapai target. Hulu ledaknya bisa berisi bahan peledak konvensional maupun muatan biologis, kimia, atau nuklir. Iran memiliki berbagai jenis rudal balistik dengan jangkauan antara 2.000 hingga 2.500 km, termasuk Sejil, Emad, Ghadr, Shahab-3, dan Khorramshahr. Selain itu, Iran juga memiliki rudal jelajah seperti Kh-55 yang mampu menjangkau hingga 3.000 km.
Jangkauan dan Fasilitas Rudal
Menurut intelijen AS, Iran memiliki persediaan rudal balistik terbesar di Timur Tengah. Jangkauan maksimum rudal Iran mencapai 2.000 km, cukup untuk menjangkau Israel. Beberapa fasilitas rudal Iran berada di dalam dan sekitar Teheran. Terdapat setidaknya lima “kota rudal” bawah tanah di berbagai provinsi, termasuk Kermanshah dan Semnan, serta di dekat wilayah Teluk.
Kemampuan Rudal yang Menyimpan Rahasia
Meski banyak orang tidak menyadari kemampuan rudal Iran, beberapa laporan menyebut bahwa sistem pertahanan Israel seperti Iron Dome bisa saja tidak efektif melawan rudal-rudal ini. Media semi-resmi Iran, Iranian Students News Agency, merilis grafik sembilan rudal yang diklaim mampu menjangkau Israel. Salah satunya adalah Sejil, yang disebut memiliki kecepatan lebih dari 17.000 km per jam dan jangkauan hingga 2.500 km.
Penggunaan Rudal dalam Konflik
Dalam perang 12 hari dengan Israel pada Juni 2025, Iran menembakkan rudal balistik yang menewaskan puluhan orang dan menghancurkan sejumlah bangunan. Laporan menyebut bahwa Israel kemungkinan menghancurkan sekitar sepertiga peluncur rudal Iran. Namun, pejabat Iran menegaskan bahwa kemampuan mereka telah pulih. Iran juga pernah menembakkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar sebagai respons atas keterlibatan AS dalam konflik udara Israel.
Strategi dan Perkembangan Terbaru
Iran menyatakan bahwa rudal balistiknya berfungsi sebagai alat pencegah dan pembalasan terhadap AS, Israel, dan target regional lainnya. Pada 2023, laporan oleh analis Foundation for Defense of Democracies menyebut bahwa Iran terus mengembangkan depot rudal bawah tanah lengkap dengan sistem transportasi, peluncuran, serta fasilitas produksi dan penyimpanan. Pada 2020, Iran untuk pertama kalinya menembakkan rudal balistik dari bawah tanah. Pada Juni 2023, Iran memperkenalkan rudal balistik hipersonik buatan dalam negeri pertamanya, yang mampu terbang lima kali kecepatan suara dengan lintasan kompleks.
Dampak dan Potensi Konflik
Program rudal Iran banyak mengadopsi desain Korea Utara dan Rusia serta mendapat manfaat dari bantuan China. Dengan eskalasi terbaru antara AS, Israel, dan Iran, kemampuan rudal balistik Teheran kembali menjadi faktor kunci yang berpotensi menentukan arah konflik di kawasan.
Kesimpulan
Kekuatan rudal balistik Iran tidak hanya menjadi ancaman bagi negara-negara tetangga, tetapi juga menjadi isu penting dalam dinamika politik global. Dengan pengembangan teknologi dan infrastruktur yang terus berkembang, Iran terus memperkuat posisinya sebagai kekuatan militer di kawasan.





