Kematian Khamenei: Energi Baru atau Jatuhnya Pemerintahan?

Aa1xkjqs 1
Aa1xkjqs 1

Kematian Pemimpin Tertinggi Iran



Kabar kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akhirnya dikonfirmasi oleh pemerintah negara tersebut. Sebelumnya, kabar ini telah beredar luas di berbagai media internasional, termasuk oleh Amerika dan Israel. Namun, Iran tidak langsung merespons secara resmi terhadap isu tersebut. Muncul banyak pertanyaan mengenai masa depan rezim “Negeri para Mullah” setelah kehilangan sosok penting bagi rakyat Iran.

Pergantian Rezim

Dalam beberapa pernyataan yang dikeluarkan sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan tujuan utama negaranya adalah ingin ada pergantian rezim di Iran. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk mengganti sistem teokrasi yang berlaku di Iran dengan model demokrasi seperti yang diterapkan di Barat. Namun, pada kenyataannya, tujuan utama dari tindakan ini justru adalah mendirikan rezim boneka yang pro terhadap kepentingan Amerika dan Israel, terlepas dari bentuk sistem pemerintahan yang digunakan.

Pola serupa sering kali dilihat di beberapa negara yang bersahabat dengan Amerika, meskipun tidak sepenuhnya dipimpin secara demokratis. Namun, jika ditelisik lebih dalam, meruntuhkan rezim di Iran bukanlah hal yang mudah. Bandingkan dengan Venezuela, di mana presiden negara tersebut belum lama ini ditangkap oleh Amerika. Sistem pemerintahan Iran sudah berlangsung puluhan tahun dan telah teruji melalui berbagai dinamika internal maupun eksternal.

Tantangan Internal dan Eksternal

Di dalam negeri, pemerintahan Iran diuji dengan berbagai tantangan, seperti demonstrasi terhadap rezim, upaya kelompok-kelompok dalam Iran seperti Kurdi untuk memisahkan diri, serta masalah ekonomi akibat sanksi dari barat. Di sisi lain, tantangan eksternal juga tidak kalah kuatnya. Iran telah beberapa kali berperang dengan negara-negara lain yang bertujuan untuk menghancurkan negaranya. Sanksi ekonomi juga telah dirasakan selama puluhan tahun hingga hari ini, tetapi rezim ini tetap bertahan.

Banyak masalah internal dan eksternal tersebut justru membuat Iran semakin kuat. Bahkan, kematian pemimpin tertinggi mereka pun tidak cukup untuk menggulingkan rezim. Iran sudah mengantisipasi dan menyiapkan mekanisme suksesi apabila pemimpin tertinggi mereka meninggal atau terbunuh dalam situasi perang seperti saat ini.

Sistem Pemerintahan Iran

Sistem pemerintahan di Iran cukup unik. Mereka menggabungkan konsep demokrasi modern dengan doktrin syiah. Sistem pemerintahan mereka berkonsep Wilayatul Faqih, di mana Ayatollah sebagai pemimpin tertinggi memiliki kekuasaan yang besar, bahkan di atas presiden. Ayatollah adalah seorang ulama yang karismatik. Model pemerintahan ini memiliki struktur yang rapi dan ditaati oleh sebagian besar masyarakat Iran.

Ketaatan pada Ayatollah berasal dari doktrin ajaran syiah, di mana Ayatollah dianggap sebagai “wakil Tuhan” di bumi. Suara Ayatollah dianggap sebagai “suara Tuhan”. Artinya, ketaatan pada Ayatollah adalah ketaatan pada Tuhan, bukan hanya sekadar ketaatan pada pemimpin politik. Bukan hanya di Iran, komunitas syiah di luar Iran pun banyak yang tunduk pada fatwa dan perintahnya.

Komunitas Syiah Terkonsolidasi

Pasca-kematian Ayatollah terkonfirmasi secara resmi oleh pemerintah Iran, masyarakat Iran turun ke jalan untuk mengekspresikan rasa duka yang mendalam dan semangat balas dendam kepada pembunuh pemimpin mereka, yakni Amerika dan Israel. Mereka terkonsolidasi. Yel-yel perlawanan terhadap Amerika-Israel diteriakan.



Bukan hanya di Iran, negara lain seperti Irak, Lebanon, Pakistan, Nigeria, India dan banyak tempat di dunia—yang terdapat komunitas syiah, termasuk di Indonesia—juga menyatakan duka yang mendalam. Sekali lagi bukan hanya duka, melainkan juga semangat perlawanan kepada agresor (Amerika dan Israel) semakin kuat didengungkan.

Memori permusuhan terhadap Amerika, Israel, dan bahkan negara barat sekutunya sudah lama bersemayam di masyarakat Iran, terutama setelah revolusi Islam Iran tahun 1979. Revolusi itu berhasil menumbangkan rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi. Rezim ini otoriter dan eksploitatif yang didukung oleh negara-negara barat, termasuk Amerika dan Israel. Rakyat Iran menderita di bawah rezim ini. Ada memori kelam yang masih membayang-bayangi hingga hari ini.

Dukungan Militer

Suatu rezim di negara mana pun akan bisa bertahan dalam waktu yang lama apabila didukung oleh militer. Tanpa dukungan ini, rezim sering kali tidak berumur panjang. Di Mesir misalnya, rezim Muhammad Mursi akhirnya dikudeta oleh militer. Militer mengambil alih pemerintahan hingga hari ini. Amerika mendukung. Tragisnya, Mursi ditangkap dan menghabiskan akhir hayatnya di dalam jeruji besi.



Di Iran, militer merupakan salah satu pilar yang sangat kuat secara politik dan bahkan ekonomi yang menopang keberlangsungan rezim, terutama sejak Revolusi Islam Iran 1979. Bahkan, unit elite militer yang paling berpengaruh dan dipimpin langsung oleh Ayatollah dinamakan dengan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Ini tidak bisa diabaikan. Meskipun, katakanlah, ada rezim baru, apabila tidak didukung oleh IRGC, rezim tersebut tidak akan bertahan lama.

Perang Semesta

Dampak lain dari pembunuhan Ali Khamenei adalah akan ada perang semesta. Kader-kader, pengikut dan simpatisan Ayatollah Ali Khamenei akan semakin terfragmentasi dan sporadik dalam perlawanan. Bukan hanya dalam bentuk organisasi proksi, seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, Hashed al-Shaabi di Irak, bahkan Hamas (sunni) di Palestina, melainkan juga sebagai “jihadis” individu yang bergerak tanpa ada koordinasi dari struktur organisasi tertentu.

Mereka akan melakukan gerakan perlawanan secara mandiri di mana saja yang akan menargetkan aset, bahkan mungkin gerakan tersebut dapat menargetkan warga Amerika dan Israel. Pola dan sifat perlawanan (perang) bisa berubah. Amerika dan Israel tidak hanya akan berhadapan dengan negara Iran dan proksinya secara organisasi, tetapi juga dengan “musuh” individu yang tidak terlihat dan bisa bergerak di mana saja serta kapan saja, termasuk di atas tanah Amerika.



Dalih Amerika dan Israel—agar Timur Tengah bisa stabil dan Israel bisa kehilangan ancaman—justru bisa terjadi sebaliknya. Keamanan Amerika, Israel, dan bahkan Timur Tengah semakin tidak menentu. Israel dan Amerika justru menciptakan ancaman-ancaman baru yang lebih mengerikan. Para kader, pengikut dan simpatisan Ali Khamenei akan teradikalisasi untuk membalas dendam pada pembunuh pemimpin mereka.

Tantangan ke Depan

Tentunya, akibat buruk perang akan sangat besar. Dampaknya ada pada semua lini seperti sosial, ekonomi dan politik. Kita akan melihat di hari-hari mendatang bagaimana akhir dari perang ini. Di sisi lain, bagaimanapun juga harus diakui bahwa tidak semua rakyat Iran setuju dengan sistem Wilayatul Faqih. Ketidaksetujuan ini merupakan hal yang biasa. Sama hal dengan Indonesia, tentunya pasti ada juga masyarakat Indonesia yang tidak setuju dengan sistem yang dijalankan oleh pemerintah hari ini.

Namun, yang cukup menjadi perhatian, kelompok-kelompok bersenjata yang selama ini memberontak ke rezim akan mendapat angin segar di tengah perang yang dimulai oleh Amerika dan Israel. Salah satu kelompok yang “getol” untuk memerdekakan diri adalah kelompok Kurdi. Kelompok ini mendapat dukungan dari Amerika dan Israel. Bahkan, mereka punya markas di Amerika. Kelompok ini menjadi kartu penting yang siap diaktivasi oleh Amerika dan Israel untuk mendestabilisasi Iran dari dalam.

Iran akan menghadapi front perlawanan baru di internalnya sendiri. Dengan situasi ini, skenario yang mungkin akan dilakukan oleh Amerika dan Israel adalah membagi wilayah Iran. Ada kelompok yang akan memerdekakan diri dan tentunya akan menjadi sekutu kuat Amerika dan Israel. Selain itu, nantinya, kelompok itu juga akan menjadi ancaman di halaman belakang Iran.

Semoga perang segera berakhir dan hukum internasional segera ditegakkan.

Pos terkait