Kemenhaj: Tidak Ada Jemaah Umroh Kabupaten Bogor Terkena Dampak Perang AS-Israel vs Iran

240120060124 03 Israeli Strike Damascus Syria 01202024
240120060124 03 Israeli Strike Damascus Syria 01202024

Pihak Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Bogor Lakukan Mitigasi Pasca Perang di Timur Tengah

Pihak Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Bogor segera melakukan mitigasi dan berkoordinasi dengan para Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU) setelah mendapat kabar tentang pecahnya perang di kawasan Timur Tengah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi para jemaah umroh asal Kabupaten Bogor yang sedang menjalankan ibadah di tanah suci.

Perang yang terjadi melibatkan Amerika-Israel dan Iran, dengan adanya serangan rudal dari Iran terhadap pangkalan militer Amerika di beberapa negara Arab, termasuk Arab Saudi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi jemaah umroh asal Indonesia yang sedang berada di sana.

Namun, hingga saat ini, jemaah umroh Kabupaten Bogor dikabarkan belum ada yang terdampak atau tertahan akibat konflik tersebut. Informasi ini disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Bogor, H. Muslimin, yang menyatakan bahwa hasil mitigasi dan koordinasi dengan PPIU setempat menunjukkan bahwa jamaah tidak mengalami gangguan.

“Sejauh ini, jamaah Kabupaten Bogor belum ada yang terdampak atau tertahan di tanah suci dampak dari perang Israel – Iran,” ujar Muslimin saat dikonfirmasi, Selasa (2/3/2026).

Beberapa penerbangan jemaah umroh sempat dibatalkan karena situasi konflik, sehingga ada jemaah yang tertahan dan belum bisa pulang. Namun, sebagian besar jemaah masih dapat melakukan perjalanan. “Rata-rata jamaah Bogor menggunakan maskapai yang masih diizinkan beroperasi,” tambah Muslimin.

Penerbangan Direct Masih Beroperasi

Berdasarkan informasi yang diperoleh, penerbangan langsung (direct) dari Arab Saudi ke Indonesia masih bisa beroperasi. Dengan demikian, jemaah umroh Indonesia yang memiliki penerbangan direct dikabarkan masih bisa pulang ke tanah air.

Sementara itu, penerbangan yang sempat dibatalkan atau ditunda biasanya merupakan penerbangan dengan transit. Informasi ini terpantau melalui akun travel haji dan umroh Indonesia di media sosial pada Minggu (1/3/2026). Mereka menunjukkan Flight Information Display System (FIDS) bandara baik di Arab Saudi maupun di Indonesia yang menunjukkan penerbangan direct mereka tidak dibatalkan.

Adanya jemaah umroh yang masih bisa pulang meski situasi di Timur Tengah sedang panas ini juga dibenarkan oleh Baitul Mukminin Tours and Travel. Hj. Eva Djamhur dari perusahaan tersebut menyatakan bahwa jemaah yang menggunakan layanan mereka tidak terdampak dan masih bisa pulang ke tanah air pada Senin (2/3/2026) pagi.

“Alhamdulillah jemaah kami BM (Baitul Mukminin) tidak terdampak,” kata Eva Djamhur saat dikonfirmasi, Senin (2/3/2026). “Kami penerbangan direct, alhamdulillah lancar,” imbuhnya.

Perang Amerika-Israel vs Iran Pecah

Perang antara Amerika-Israel dan Iran pecah setelah Iran diserang oleh pasukan gabungan Amerika-Israel pada Sabtu (28/2/2026) kemarin. Serangan tersebut disebut-sebut menyasar fasilitas nuklir Iran dan pusat komando Garda Revolusi Iran.

Kabar mengejutkan, serangan gabungan tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khomenei. Setelah diserang, Iran melancarkan serangan balasan dengan peluncuran rudal balistik ke wilayah Israel dan pangkalan-pangkalan militer Amerika di negara-negara Teluk, salah satunya Arab Saudi.

Menurut laporan Al Jazeera, pemicu langsung serangan berkaitan dengan runtuhnya negosiasi nuklir di Jenewa. Hingga 26 Februari 2026, mediator internasional masih melaporkan adanya ruang kompromi, termasuk kesediaan Iran mengurangi stok uranium yang diperkaya. Namun, pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump menuntut syarat yang lebih luas, seperti pembongkaran permanen fasilitas Fordow dan Natanz, penghentian total program rudal balistik, serta penghentian dukungan kepada kelompok proksi regional seperti Hezbollah dan Hamas.

Teheran menolak syarat tersebut dengan alasan pelanggaran kedaulatan nasional. Di sisi lain, Washington menilai penolakan itu sebagai sinyal bahwa Iran hanya memperpanjang waktu untuk memperkuat kapasitas militernya. Ketegangan diplomatik itu akhirnya meledak dan berubah menjadi konflik militer sejak 28 Februari 2026.


Pos terkait