Kenaikan Harga Minyak Akibat Ketegangan Iran-Israel, Menteri Perdagangan: Belum Langsung Pengaruhi RI

Aa1xllms 2
Aa1xllms 2

Kementerian Perdagangan Mengamati Dampak Konflik AS-Israel terhadap Iran

JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan bahwa saat ini belum ada dampak langsung terhadap perdagangan Indonesia akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Namun, pihaknya tetap memantau situasi secara dekat.

Konflik di kawasan Timur Tengah kian memanas setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Teheran pada hari Sabtu (28/2/2026). Serangan tersebut mengakibatkan tewasnya Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang telah memimpin negara tersebut selama lebih dari tiga dekade.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan bahwa pemerintah berharap konflik tersebut segera berakhir. Ia menyampaikan harapan tersebut saat ditemui di Kantor Kemendag, Jakarta, Senin (2/3/2026).

“Harapan kita cepat selesai ya [eskalasi AS—Israel terhadap Iran],” kata Budi.

Meskipun demikian, Budi mengakui bahwa potensi kenaikan harga minyak dan bahan baku bisa terjadi akibat gangguan distribusi energi global. Hal ini termasuk jika Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak, terdampak oleh konflik tersebut.

Menurutnya, apabila kenaikan harga bahan bakar benar-benar terjadi, dampaknya akan meluas ke berbagai sektor ekonomi, mulai dari industri hingga ekspor.

“Kalau itu benar terjadi, ya memang akan berdampak ke industri kita, ke ekspor kita, tidak hanya di Indonesia. Ya ke semua lah, ke semua,” ujarnya.

Namun, Budi menyebut kondisi saat ini masih belum menunjukkan dampak langsung terhadap perdagangan Indonesia. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa jika konflik berlanjut, efeknya akan dirasakan secara global.

“Kalau sekarang kan memang kita belum tahu ya, tapi kalau berkelanjutan kan ya tidak hanya Indonesia, tapi buat semua negara pasti akan kena dampaknya, itu pasti ya,” tuturnya.

Pertumbuhan Ekonomi yang Didorong Konsumsi Domestik

Adapun, Budi menjelaskan bahwa struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia yang didominasi oleh konsumsi domestik menjadi salah satu faktor penopang dalam menghadapi gejolak eksternal. Dalam hal ini, pemerintah akan terus menjaga daya beli masyarakat, terutama menjelang momentum Lebaran, melalui berbagai stimulus serta kolaborasi dengan sektor swasta.

Dalam jangka pendek, Kemendag akan fokus menjaga pasar dalam negeri sekaligus mendorong ekspor ke negara-negara yang tidak terdampak konflik.

“Yang pertama yang pasar di dalam negeri, konsumsi domestik tadi harus kita jaga. Yang kedua, kita pasar-pasar yang tidak terdampak, artinya tidak terganggu ini terus kita push untuk terus ekspor kita meningkat, terutama yang nggak terdampak oleh situasi sekarang ini,” terangnya.

Hingga saat ini, Budi memastikan ekspor Indonesia ke kawasan Timur Tengah masih berjalan normal.

“Nggak ada masalah. Sekarang sampai sekarang ini ya, nggak ada masalah,” pungkasnya.

Pos terkait