Rencana Pengadaan 105.000 Unit Mobil Pikap untuk Koperasi Desa Merah Putih
PT Agrinas Pangan Nusantara mengumumkan rencana pengadaan 105.000 unit mobil pikap untuk Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Rencana ini menarik perhatian publik, terutama karena keterlibatan dua pabrikan asal India, Mahindra & Mahindra (M&M) Ltd dan Tata Motors.
Kontrak pembelian mobil pikap tersebut ditandatangani pada 23 Desember 2025 lalu. Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menjelaskan bahwa keputusan impor tidak didasari oleh arahan khusus, melainkan pertimbangan suplai dan harga. Ia menekankan bahwa pihaknya telah melakukan negosiasi dengan produsen lokal sebelum memutuskan untuk mengimpor kendaraan tersebut.
Menurut Joao, kendala utama adalah keterbatasan kemampuan produsen dalam negeri untuk memenuhi permintaan dalam waktu cepat. “Tidak ada arahan khusus, tapi dari hasil negosiasi ketidakmampuan teman-teman untuk mensuplai Agrinas sehingga memaksa kami untuk melakukan impor,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (24/2/2026).
Joao menyatakan bahwa jika ada produsen lokal yang mampu menjual mobil pikap secara partai besar dan sesuai tenggat waktu, pihaknya tidak akan memilih opsi impor. Ia juga memastikan bahwa importasi mobil tersebut dilakukan sesuai aturan yang berlaku.
“Kami sudah memastikan bahwa untuk melakukan impor mobil itu tidak perlu aturan khusus, sehingga saya rasa kalau sesuai dengan aturan tidak ada yang kami langgar karena itu diperbolehkan,” tegasnya.
Kritik terhadap Industri Otomotif Lokal
Joao melontarkan kritik terhadap kondisi industri otomotif saat ini. Ia menyoroti fakta bahwa kendaraan spesifikasi 4×4 belum ada yang diproduksi 100% di Indonesia. Sebaliknya, banyak kendaraan diimpor dari Thailand dengan rantai pasok yang panjang, sehingga harga menjadi mahal.
Ia juga mempertanyakan peran kementerian terkait dalam mendorong lokalisasi produksi mesin kendaraan di dalam negeri. Menurutnya, langkah Agrinas merupakan sebuah terobosan yang mungkin mengusik zona nyaman pemain lama di industri otomotif.
“Kenapa selama ini tidak ada keterpihakan dari Kementerian Perindustrian khususnya, kenapa tidak langsung mengirim barang mesin-mesin ke Indonesia dan diproduksi di Indonesia selama ini tidak ada keterpihakan juga jadi saya pikir ini adalah sebuah terobosan yang mungkin membuat banyak orang yang akhirnya bisa merasa bahwa kuenya terganggu sehingga mereka terganggu dengan importasi yang kami lakukan,” imbuhnya.
Tujuan Inisiatif Ini
Lebih lanjut, Joao menekankan bahwa inisiatif ini bertujuan memberikan pilihan yang rasional bagi rakyat. Ia berharap pasar akan memilih produk dengan nilai kegunaan terbaik sesuai dengan uang yang dikeluarkan.
“Nantinya rakyat akan memilih produk siapa yang terbaik produk, siapa yang paling rasional untuk mereka gunakan dengan money value yang mereka akan keluarkan, ini inisiatif karena melihat ketidakmampuan produksi daripada semua produsen,” pungkasnya.





