Kepala BI Kaltara Minta Warga Tenang Usai Konflik Iran-Israel: Ekonomi Daerah Tetap Stabil

132101519 Capture 38
132101519 Capture 38

Kekhawatiran Global Akibat Konflik Iran dan Israel

Konflik antara Iran dan Israel yang semakin memanas, serta keterlibatan Amerika Serikat dalam situasi tersebut, telah menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas perekonomian global. Salah satu isu utama yang muncul adalah kabar penutupan Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi minyak dunia. Jika jalur ini terganggu, bukan tidak mungkin harga energi akan melonjak, yang berdampak pada inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Selat Hormuz memiliki peran strategis dalam perdagangan global, terutama dalam pengangkutan minyak mentah. Jika distribusi minyak terganggu, hal ini bisa menyebabkan ketidakstabilan ekonomi, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi seperti Indonesia. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa inflasi akan meningkat dan memengaruhi daya beli masyarakat.

Tanggapan dari Bank Indonesia Kalimantan Utara

Menanggapi situasi ini, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik, mengajak masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik menghadapi dinamika global. Ia menyatakan bahwa situasi geopolitik saat ini, meskipun tidak dapat dihindari, harus segera berakhir agar dampaknya tidak terlalu besar.

“Situasi geopolitik yang kita alami saat ini tentu apapun alasannya adalah sesuatu yang merugikan kita semua. Yang bisa kita harapkan adalah agar ini cepat berakhir,” ujarnya.

Hasiando menekankan pentingnya pemantauan terhadap perkembangan global, terutama yang berkaitan dengan jalur perdagangan dan keuangan internasional. Namun, ia berharap dampak negatif dari situasi ini tidak sampai dirasakan signifikan di Kalimantan Utara.

“Apakah nanti berdampak pada perekonomian Kalimantan Utara, baik dari jalur perdagangan maupun jalur keuangan, kita berharap itu tidak sampai terjadi di provinsi kita. Sektor domestik kita masih kuat. Mudah-mudahan seperti itu,” tegasnya.

Fondasi Ekonomi Kalimantan Utara yang Masih Kuat

Ia menambahkan bahwa respons kebijakan akan banyak ditentukan oleh pemerintah pusat sesuai perkembangan terkini. Bank Indonesia sendiri terus memantau situasi global dan menjaga stabilitas makroekonomi, termasuk pengendalian inflasi.

Secara khusus untuk Kalimantan Utara, Hasiando menilai fondasi ekonomi daerah masih cukup solid karena didukung oleh sektor domestik. “Yang menjadi tumpuan kita itu pertanian dan perikanan. Kemudian ada pertambangan, walaupun sekarang sektor pertambangan sedang melemah karena demand-nya menurun,” jelasnya.

Ia berharap sektor industri pengolahan dapat menjadi penahan jika terjadi perlambatan di sektor tambang. Beberapa proyek strategis di Kaltara dinilai berpotensi memperkuat struktur ekonomi daerah.

“Kita berharap industri pengolahan seperti di kawasan industri, termasuk pengolahan bubur kertas dan aluminium, bisa menahan perlambatan di sektor pertambangan,” katanya.

Proyeksi Tahun Ini yang Optimistis

Di sisi proyeksi, BI Kaltara tetap memandang tahun ini dengan optimisme. “Kita masih memperkirakan tahun ini akan lebih baik dibanding 2025. Kita masih optimis akan lebih baik,” ujarnya.

Terkait potensi inflasi akibat gejolak harga energi global, Hasiando menegaskan pentingnya sinergi semua pihak, termasuk peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam menjaga stabilitas harga, terutama bahan pangan. Upaya penguatan pasokan, kelancaran distribusi, hingga operasi pasar akan terus menjadi instrumen penting dalam menjaga daya beli masyarakat.

Pesan Khusus kepada Masyarakat

Di akhir pernyataannya, Hasiando menyampaikan pesan khusus kepada masyarakat Kalimantan Utara agar tidak terjebak pada kekhawatiran berlebihan. “Kita berharap ini cepat berakhir, ada diskusi konstruktif dan mereka bisa duduk di meja perundingan. Apapun alasannya, peperangan harus kita hindari karena dampaknya terlalu besar,” ujarnya.

Ia menekankan, menjaga optimisme dan stabilitas psikologis masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menjaga ekonomi tetap bergerak. “Bangun optimisme bahwa ini hanya sementara dan cepat berakhir. Dengan begitu, kondisi perekonomian bisa kembali normal dan kita tetap fokus memperkuat sektor domestik,” tukasnya.


Pos terkait