Keponakan Tersangkut di Mesin Penggilingan, Paman Menangis

Aa1xmkha 1
Aa1xmkha 1

Kecelakaan Mengerikan di TPA Putri Cempo Solo

Paino, paman dari korban yang terjatuh ke mesin penggiling sampah di TPA Putri Cempo Solo, tidak kuasa menahan air mata saat melihat keponakannya, Edy Saputro, meregang nyawa. Kejadian tragis ini terjadi pada Senin (2/3/2026), dan menjadi momen yang sangat menyedihkan bagi keluarga dan rekan korban.

Saat mendengar kabar keponakannya jatuh ke mesin, Paino langsung bergegas menuju lokasi kejadian. Ia mengaku sempat menyangga pundak Edy sebelum korban akhirnya meninggal dunia dalam pelukannya. Peristiwa ini membuatnya hancur dan tak mampu menahan rasa sedih serta kehilangan.

“Saya menyangga menahan pundaknya, anaknya itu nyawa melayang di tangan saya,” ucap Paino saat ditemui di rumahnya, Senin (2/3/2026). Ia juga menyebut bahwa korban sudah dianggap seperti anak sendiri baginya.

Kejadian tersebut terjadi saat Paino sedang mengambil antrean di TPA Putri Cempo. Saat itu, ia tiba-tiba mendengar kabar bahwa keponakannya terjatuh ke mesin penggiling. Ia langsung berlari menuju lokasi dan menemukan korban dalam kondisi kritis.

Suasana Panik di Lokasi Kejadian

Suasana di TPA Putri Cempo Solo pada hari kejadian sangat panik. Saat korban terjatuh ke mesin penggiling, rekan-rekannya segera berteriak meminta tolong agar mesin segera dimatikan. Menurut Eko Surani, salah satu pemulung yang ada di lokasi, teriakan tersebut terdengar sangat keras dan memicu kepanikan di sekitar.

“Teriak minta tolong matiin mesinnya. Sekitar kurang lebih jam 10-an. Langsung dimatiin. Teriakan bising banget,” ujar Eko, Senin (2/3/2026). Mesin penggiling tersebut kemudian segera dimatikan setelah mendapat permintaan darurat.

Namun, nyawa Edy Saputro, 22 tahun, warga Jeruksawit, Gondangrejo, Karanganyar, tidak dapat diselamatkan. Setelah mesin dimatikan, ambulans dan petugas damkar segera tiba di lokasi kejadian. Sayangnya, korban telah meninggal dunia beberapa menit setelah kejadian.

Kondisi Korban yang Menyedihkan

Eko mengatakan bahwa dirinya tidak melihat langsung kondisi korban setelah terjatuh. Namun, dari informasi yang ia peroleh dari orang-orang di sekitar, posisi kepala korban berada di bawah mesin penggiling. Hal ini membuatnya tidak berani melihat langsung kondisi korban.

“Nggak berani lihat. Posisi kepala sudah di bawah,” ujarnya. Saat dibawa ke ambulans, korban masih menunjukkan sedikit gerakan, tetapi nyawanya tidak dapat diselamatkan. “Sudah. Meninggalnya pas detik-detik mau dibawa. Pas di dalam masih gerak-gerak,” tambahnya.

Kesedihan yang Mendalam

Kecelakaan ini menimbulkan kesedihan mendalam bagi keluarga dan rekan korban. Paino, yang sudah menganggap Edy sebagai anak sendiri, tidak bisa menahan tangisnya. Ia merasa kehilangan yang sangat berat, karena keponakannya tersebut selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Peristiwa ini juga menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap bahaya yang bisa terjadi di tempat-tempat seperti TPA. Dengan adanya kejadian ini, diharapkan akan ada langkah-langkah pencegahan yang lebih ketat untuk menghindari kecelakaan serupa di masa depan.

Pos terkait